Pemimpin Terburuk Dalam Sejarah

Share the idea

Mao Zedong sumringah. Hanya dalam waktu empat tahun, GDP Tiongkok meningkat pesat dari 82.4 miliar Yuan pada 1953 menjadi 106.8 miliar di tahun 1957. Dengan melimpahnya jumlah tenaga kerja dan wilayah yang sangat luas, tokoh sentral terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok ini optimis bahwa negeri tirai bambu segera menjelma sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia yang sukses sekaligus menjadi model panutan bagi negara sosialis lainnya.

Caranya? Tentu saja menguasai komoditas “sexy” saat itu, yakni industri senjata dan alat berat. Meski awalnya Mao menargetkan Tiongkok baru mampu menyusul Inggris setelah 15 tahun dan Amerika dalam waktu 10 tahun, melalui teknologi yang mereka impor dari Uni Soviet, Mao percaya bahwa Tiongkok mampu mempersingkat target pertumbuhan ekonominya dan melenggang menjadi adidaya hanya dalam 3 tahun lagi. Langkah fenomenal inilah yang kita kenal sebagai Great Leap Forward: Lompatan Jauh ke Depan.

GDP yang tinggi itu diperoleh Tiongkok melalui program kolektivisasi pertanian yang populer di masa Stalin. Dalam kasus Tiongkok, pertanian individual diubah menjadi sistem pertanian berkelompok yang diatur oleh pemerintah lokal dengan mengandalkan birokrat partai setempat.

Petani dikelompokkan dalam sistem sepuluh-sepuluh, di mana 10 rumah tangga membentuk sebuah kelompok, dan dari 3-5 kelompok keluarga membentuk sebuah koperasi. Pemerintah kemudian memberikan “gaji” kepada petani berdasarkan hasil kerja dan nilai tanah sistem koperasi ini.

Besarnya hasil pertanian itu, sebenarnya adalah prestasi semu. Mao mendapatkannya melalui pemerasan kepada para petani, yang diberi jatah 110-140 kg beras setahun atau hanya kurang dari 300 gram per hari per kapita. Program penghematan ekstrem itu tak lain dan tak bukan untuk memperbanyak stok komoditas hasil pertanian, yang diekspor ke negara lain demi meningkat GDP Tiongkok. Besarnya GDP itulah yang digunakan Mao untuk membeli dan mengadopsi berbagai teknologi dari Uni Soviet yang diharapkan mampu menjadikan Tiongkok sebagai negara adidaya.

Mao menetapkan target yang tak masuk akal, yakni hasil panen yang harus melonjak 10 kali lipat. Melalui hasil panen fiktif, Mao mempropagandakan berlimpahnya hasil pertanian di Provinsi Henan, yang kemudian dijadikan model bagi provinsi lainnya. Para pejabat partai di daerah yang terprovokasi berlomba-lomba menaikkan dan merekayasa laporan hasil panen demi menghindari hukuman, mendapatkan pujian, hingga promosi jabatan.

Meski di depan publik semua nampak terkendali, namun partai komunis sebenarnya bertindak represif. Para petani diperintahkan menghemat makanan, rumah-rumahnya digeledah dan rakyat dipaksa memberi semua bahan makanan yang dimiliki.

Bencana ini diperparah dengan kampanye pembasmian burung pipit, salah satu hewan yang dianggap oleh Mao sebagai hama karena memakan biji padi yang menguning dan mengurangi hasil panen. Tanpa didasari ilmu pengetahuan dan pertimbangan dampak ekosistem, burung pipit yang sebenarnya berkontribusi dalam pengurangan hama karena memakan kutu, belalang, dan ulat, justru terancam punah dan memicu serangan hama pertanian yang dahsyat di penjuru Tiongkok. Efek tak terduga itu, menjadikan stok pangan semakin langka.

Kala masalah yang kelak dianggap hanya karena cuaca buruk ini belum usai, tanpa merasa berdosa, Mao muncul dengan ide gila lainnya: pembangunan industri baja di seluruh negeri. Target spektakuler yang harus dicapai industri baja Tiongkok adalah 10 juta ton baja, atau dua kali lipat dari yang bisa dihasilkan di tahun sebelumnya. Selain pabrik baja yang dipaksa bekerja dua kali lipat, tambang batubara dieksploitasi habis-habisan serta hutan dan rumah-rumah kayu digunduli sebagai bahan bakar tanur. Ketika pabrik tak mampu memenuhi target yang ditetapkan, Mao memerintahkan pendirian “Tanur Halaman Rumah” yang mengakomodasi peleburan besi bukan lagi di kawasan industri, melainkan di sekitar pemukiman rakyat.

Hasilnya memang mencengangkan dan melebihi target, yakni 11.07 juta ton baja di akhir 1958. Sayangnya, hanya 8 juta ton yang bisa digunakan, karena sisanya – yang dihasilkan dari tanur rakyat yang mayoritas berbahan besi-besi tua dan benda logam rumahan – justru menghasilkan besi tua yang tak bernilai. Hal ini memberikan efek domino: macetnya produksi industri kecil akibat peralihan mayoritas tenaga kerja, termasuk petani, ke industri baja

Imbas sekumpulan proyek ini mencapai puncaknya pada April 1959, ketika seluruh negeri dilanda kekurangan biji-bijian pangan dan di akhir tahun, terjadi kekurangan minyak dan gula. Panen biji-bijian turun 24.3%, kapas anjlok 57.1%, dan daging turun 28.62%. Dampaknya? Tentu saja kelaparan hebat, yang diperparah dengan masih tingginya permintaan bahan pangan dari pemerintah demi kepentingan ekspor. Situasi gawat ini direspon pemerintah dengan langkah yang lagi-lagi sembrono: mencetak uang sebanyak-banyaknya. Inflasi pun meroket dan Tiongkok terancam bangkrut pada 1961.

Jika dirata-ratakan, rakyat hanya mendapat asupan sekitar 1200 kalori/hari, lebih rendah dari yang didapat penghuni kamp kerja paksa Auschwitz zaman Nazi yang masih mendapat 1700 kalori/hari. Jumlah ini bahkan kurang dari setengah kebutuhan kalori harian manusia (sekitar 2100 kalori/hari). Harus diingat, angka ini adalah rata-rata. Tentu saja ada selisih cukup besar antara masyarakat di kota dan desa.

Mirisnya, kondisi ini terjadi ketika Tiongkok mampu meningkatkan ekspor bahan makanan hingga 7 juta ton pada 1958-1959, yang sebenarnya dapat dialokasikan untuk memberi makan sekitar 30 juta orang.

Hasil ekspor yang mencapai 935 juta dolar AS ini, digunakan Mao untuk memperkuat militer dan proyek persenjataannya, termasuk pemberian bantuan kepada negara-negara komunis lainnya agar berpihak padanya dan menjadi corong yang dapat menekan Soviet untuk memenuhi keinginan-keinginan Tiongkok.

Alih-alih menyalahkan Mao, Peng Dehuai (Menteri Pertahanan 1954-1959) dalam suratnya kepada pemimpin tertinggi Tiongkok itu, berulang kali menyebut bahwa kesalahan ini terjadi karena partai tidak berpengalaman menerapkan sosialisme. Pernyataan ini tentu saja membuat kita berpikir kembali. Memangnya, model negara mana yang berpengalaman menerapkan sosialisme? Uni Soviet yang runtuh tak sampai 100 tahun itu?

Maka, tak aneh jika kanibalisme itu terjadi – termasuk kepada anggota keluarga sendiri. Orang-orang yang selamat, tak sedikit yang menjadi gila. Kelaparan yang merenggut puluhan juta nyawa ini pun tentu saja hanya terjadi pada rakyat, bukan pejabat. Hipokrit yang cukup konyol memang di negara komunis yang konon mengidamkan keadilan sosial.[]

Presiden terburuk dalam sejarah itu bukan hanya dimanifestasikan pada satu tokoh saja.

Penguasa manapun yang hanya peduli pertumbuhan ekonomi, keinginan partai, serta ambisi pribadi daripada memenuhi kebutuhan rakyatnya… Merekalah seburuk-buruk pemimpin.

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

Jeffrey N. Wasserstorm. 2013. Tiongkok di Abad 21, yang Perlu Diketahui Semua Orang. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Michael Wicaksono. 2017. Republik Rakyat China (Dari Mao Zedong Sampai Xi Jinping). Elex Media Komputindo: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *