Filsafat dalam Sejarah Peradaban Islam

Share the idea

9:51 Bolehkah seorang muslim mempelajari filsafat?

Mengenai hal ini, di kalangan ahli fikih berbeda pendapat. Bahkan ada yang menyatakan bahwa filsafat itu ilmu yang menyesatkan. Kenapa? Karena sumber dan timbangan menentukan kebenaran (dalam filsafat) itu berdasarkan akal semata. Asal mula filsafat adalah meniadakan agama, sehingga para ulama dan ahli fikih ada yang menganggapnya sesat disebabkan oleh keterbatasan akal (dalam menafsirkan fenomena).

Misalnya, ketika filsafat mengkaji tentang Tuhan. Tuhan adalah objek yang tak terlihat, sehingga menimbulkan spekulasi. Hal yang sama juga terjadi kala menentukan awal mula alam semesta. Filsafat meniadakan informasi dari wahyu dan berspekulasi. Spekulasi-spekulasi ini yang dianggap menyesatkan.

Pun Imam al-Ghazali menganggap bahwa filsafat banyak menimbulkan masalah. Sehingga, hukum seorang muslim mempelajari filsafat adalah tergantung pada tujuan. Sebagaimana ketika ada pertanyaan, “bolehkah seorang muslim mempelajari komunisme?” Di satu sisi, hal ini penting untuk mengetahui kekurangan dan kesesatannya agar kita bisa meluruskan orang lain supaya tidak tersesat. Hal ini justru bagus (ketika dasar aqidah Islamnya sudah kuat). Namun ketika mempelajarinya justru untuk menerapkan dan mengadopsinya, ini yang jadi masalah.

12:19 Bagaimana awal mula filsafat masuk ke dunia Islam? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Sebelum munculnya ulama mutakallimin, semua penentuan kebenaran dalam Islam berbasis wahyu, baik melalui al-Qur’an maupun hadits. Berbeda dengan filsafat yang menyesuaikan wahyu dengan akal. Ketika wahyu tidak rasional, maka harus diganti (sebagaimana yang dilakukan oleh golongan Islam liberal). Ketika timbangan rasionalisme yang sangat terbatas itu kemudian juga dikaitkan dengan berbagai pemikiran Barat, walhasil wahyu bahkan dianggap tidak relevan lagi.

Fenomena ini dimulai pada abad ke-2 H bersamaan dengan perkembangan ilmu kalam, yang dari ilmu kalam ini para ulama mutakallimin ini menggunakan logika (manthiq). Meski ini bukan awal masuknya filsafat di tengah kaum muslimin, namun hal inilah yang justru menjadi pintu masuk bagi filsafat itu sendiri.

Jika melihat sejarah, ulama yang mendalami hal ini adalah al-Kindi, sosok yang dianggap sebagai filsuf muslim pertama yang kemudian menulis berbagai kitab filsafat. Tokoh lainnya adalah Khalifah al-Ma’mun yang membuka baitul hikmah. Sebenarnya, baitul hikmah adalah pusat kajian filsafat yang di dalamnya banyak menerjemahkan buku-buku filsafat. Maka, sejak abad ke-2 filsafat sebenarnya sudah masuk ke dunia Islam.

15:04 Filsafat ini menjadikan kita berpikir secara mendalam, kritis, dan sistematis. Namun, bolehkah filsafat diadopsi sebagai metode berpikir?

Filsafat itu kan berpikir untuk mendapat kesimpulan berdasarkan rasionalisme akal. Berpikir itu menghukumi sebuah fakta. Maka, filsafat adalah salah satu metode berpikir. Namun, apakah ia bisa dijadikan sebagai metode berpikir yang benar dan boleh diadopsi?

Persoalan dari filsafat adalah ketika menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran, sedangkan dalam Islam informasi tentang kebenaran tidaklah didapat berdasarkan metode filsafat yang merumuskan kebenaran dengan spekulasi, melainkan dengan wahyu. Ketika akal manusia tidak mampu memahami apa yang disampaikan oleh wahyu, bukan berarti wahyu yang salah, melainkan disebabkan keterbatasan akal manusia. Tak heran jika hadits Rasulullah baru terbukti setelah sekian abad.

Filsafat itu sering dijadikan metode berpikir untuk mencari kebenaran. Namun bagi seorang muslim, konsep spekulasi ini menimbulkan masalah karena meniadakan wahyu sebagai ma’lumah sabiqoh, bahkan menafikkan agama.

29:51 Lantas, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap filsafat?

Sebaiknya dihindari. Pun jika ingin mempelajari, maka pelajarilah secara baik untuk dikritisi dan dikoreksi atas kesalahan-kesalahan yang ada di sana. Dalam beberapa kasus tertentu, bahkan kita tidak bisa menghindarinya, karena masuk ke dalam kurikulum pendidikan yang wajib dipelajari. Sebagaimana pernyataan Imam al-Ghazali, bahwa ada yang bisa kita ikuti, dan ada yang tidak bisa.

36:29 Mengapa tak sedikit orang yang mempelajari filsafat justru menjadi ateis?

Ketika filsafat masuk ke dunia Islam, para ulama mutakallimin mencoba mengkompromikannya dengan agama. Agama kemudian dikaitkan dengan berbagai informasi metafisika, seperti eksistensi Allah, malaikat, dst yang dikaitkan dengan al-Qur’an. Landasan analisisnya tetap menggunakan dasar-dasar filsafat yang bersandar pada akal. Ketika filsafat memasuki ranah metafisika, seperti Tuhan yang tidak bisa diindera secara empirik dan bertentangan dengan empirisme (bahwa sesuatu yang tidak bisa diindera artinya tidak ada), maka diambil kesimpulan bahwa ketika Tuhan tak bisa diindera, maka Tuhan itu tidak ada. Tuhan hanyalah sesuatu yang diada-adakan oleh pikiran manusia.

Ketika hal ini dikaitkan dengan agama, memang tidak serta merta menjadikannya sebagai ateis, namun kemudian senantiasa mengkritisi hal-hal metafisika dalam konteks logika. Hal-hal yang sudah pakem diyakini dalam Islam (karena merupakan hal-hal ghaib) kemudian ditanyakan ulang.

Tak berhenti sampai di situ, hukum syari’ah pun juga dipertanyakan kembali. Oleh kalangan liberal, syari’at Islam dianggap sudah tidak relevan. Ketika hal ini menjadi akut dan senantiasa menjadi landasan dalam bersikap, Islam kemudian diragukan dan dirasa tidak sesuai dengan perkembangan zaman, sebagaimana pertentangannya dengan ide-ide demokrasi, HAM, dll. Walhasil, tak sedikit pula yang meninggalkan Islam.

41:32 Bagaimana filsafat memandang sosialisme dan komunisme?

Sebagai dasar, perlu dipahami terkait dialektika materialisme sebagai upaya pemikiran untuk mencari kebenaran. Dasarnya adalah materialisme, bahwa segala sesuatu berasal dari materi dan akan kembali kepada materi.

Jika ini dijadikan landasan berpikir, maka akhirat, pahala, maupun dosa pun menjadi tidak ada. Agama pun dianggap sebagai candu dan racun, karena melemahkan akal pikiran akibat menyandarkan segala urusan kepada Tuhan. Manusia menjadi tidak produktif dan tidak bebas.

Karl Marx kemudian menawarkan konsep revolusi mental, sebuah teori tentang sosiologi yang menyatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa hanya bisa diwujudkan dengan menjauhkan mereka dari agama.

44:58 Selain sosialisme dan komunisme, filsafat juga melahirkan demokrasi. Bagaimana seharusnya kita bersikap atasnya?

Jika kita menggunakan konstruksi berpikir filsafat, maka kita harus mulai dari ontologi. Apa sih hakikat demokrasi? Jika merujuk pada Abraham Lincoln, demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Berdasarkan antroposentrisme, teori tersebut menunjukkan bahwa manusia merupakan standar kebenaran – dari manusia, oleh manusia, untuk manusia. Berdasarkan antropomorpisme, hal ini berarti manusia menggantikan peran Tuhan selaku pemilik hakikat kebenaran. Manusia seolah-olah dituhankan.

Ada 12 pertanyaan yang disampaikan terkait dengan filsafat. Selengkapnya, ilmu ini dapat dinikmati di channel youtube Komunitas Literasi Islam di https://www.youtube.com/watch?v=6XwlFXW7ldE&t=1717s

2:10 Apa itu filsafat? Apa fungsi dan manfaatnya? Bolehkah seorang muslim mempelajari filsafat?

17:47 Filsafat dijadikan sebagai metode berpikir dan perbedaannya pada pengakuan wahyu. Jika dikaitkan dengan filsafat sains, seperti ontologi, aksiologi, dan epistimologi, apakah hal-hal tersebut boleh dipelajari?

21:54 Al-Kindi disebut-sebut sebagai ulama pertama yang mempelajari filsafat. Selain beliau, adakah ulama lain yang mempelajari filsafat? Baik dari era abad pertengahan hingga era sekarang ini.

24:41 Dalam sejarah peradaban Islam, mempelajari filsafat berakibat atas lahirnya golongan mu’tazilah dan jabariyah – yang semuanya mengklaim sebagai bagian dari ahlussunnah. Bagaimana kita seharusnya menyikapi hal ini?

32:38 Sebagaimana yang sudah dijelaskan di awal, bahwa filsafat melahirkan isme-isme. Bagaimana dengan Hak Asasi Manusia (HAM)?

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *