Akhir Kisah Corona: Pesan Bagi Para Politisi Islam Ideologis

Share the idea

Sejarah pasti berulang, dengan pola yang sama dan aktor yang berbeda. Pandemi COVID-19 yang terjadi hari ini, kurang lebih mirip dengan pandemi Kolera pada 1820 dan pandemi Flu Spanyol pada 1920. Semuanya ditandai oleh peristiwa besar dan lompatan teknologi yang dipicu oleh negara ideologis.

Revolusi Industri di Inggris serta Revolusi Prancis menjadi awal bagi lahirnya lompatan teknologi di abad ke-19, hingga berhasil memicu perang Napoleon di sekujur Eropa antara Prancis melawan Inggris dan sekutu-sekutunya. Adapun di awal abad Ke-20, perlombaan industri, teknologi listrik, komunikasi, dan transportasi negara Eropa justru memicu Perang Dunia pertama yang berhasil mengubah wajah dunia selamanya. Meski tak lagi didominasi perang bersenjata, derasnya dinamika teknologi di bidang informatika pada akhirnya semakin merangsang persaingan antara dua negara adikuasa, yaitu Amerika Serikat dengan Tiongkok yang dicerminkan melalui perang dagang dan proyek OBOR-nya.

Pertempuran inilah yang pada akhirnya memicu perubahan pola hidup di berbagai belahan dunia. Perpaduan sempurna antara kapitalisme dan sekulerisme memicu munculnya “pola hidup tidak sehat dan memanusiakan manusia” yang pada akhirnya memicu munculnya “pandemi”. Dari pandemi inilah, kelak dapat memicu lahirnya sebuah era baru.

Pertanyaannya, lalu bagaimana posisi kaum muslimin di awal abad ke-19 dan awal abad ke-20? Khususnya kaum muslimin yang mendiami wilayah Nusantara? Dua abad silam, ketika terjadi dua revolusi di Eropa, Utsmani secara nyata bukan lagi menjadi adidaya. Khilafah tertinggal dalam banyak hal dan menjadi sasaran negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia yang lebih modern dari Ottoman. Kondisi dalam negerinya rapuh karena mengalami berbagai kudeta, seperti dari kalangan Jannisarry. Seabad berikutnya justru lebih parah, Utsmani terseret Perang Dunia I dan kalah.

Adapun di penghujung abad ke-19, Sultan Abdul Hamid II memberikan perhatian yang sangat khusus kepada Nusantara yang sebagian besar wilayahnya telah diduduki Belanda dan Inggris. Melalui konsul Utsmani di Batavia dan Singapura, Sultan menyebarkan ide Persatuan Islam yang sangat merepotkan pemerintah kolonial. Sultan Abdul Hamid II terang-terangan mendukung Aceh dan melalui Jamiatul Khair, Utsmani memicu gerakan kemerdekaan di Hindia Belanda. Perang Dunia pertama terjadi dan berefek pada kekalahan Utsmani dan pembubaran Khalifah. Teknologi telegram bawah laut, menyebabkan berita ini dengan cepat tersebar di Nusantara.

Efeknya adalah kegemparan luar biasa di kalangan kaum muslimin di Nusantara khususnya Jawa. Komite Khilafah dibentuk untuk menjembatani aspirasi kaum muslimin di Nusantara terkait pembubaran Khilafah dan upaya penegakannya kembali. Peristiwa politik yang susul menyusul di Timur Tengah hingga terjadinya Perang dunia kedua menyebabkan pergerakan Komite Khilafah di Hindia Timur terpecah dan pada fokus pada upaya memerdekakan diri dari Belanda serta menegakkan sebuah negara yang berlandaskan syariat Islam.

Patut dicatat tiga besar pengisi Komite Khilafah adalah Syarikat Islam, Muhammadiyah, dan Tashwirul Afkar yang menjadi cikal-bakal Nahdlatul Ulama. Mereka bertiga lahir dari rahim Jamiatul Khair dan nanti ketiganya menjadi pengawal kemerdekaan Indonesia.

Sebagai penggerak dakwah, sebuah catatan penting bagi kita adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini saling terkait dan satu peristiwa akan memicu peristiwa berikutnya. Yang seharusnya menjadi renungan bagi kita semua adalah, siapkah kita untuk menjadi aktor perubahan tersebut? Wilayah yang kita pijak hari ini tidak bisa tidak sangat terpengaruh arus perubahan dunia dan jika kita ingin mengubahnya, minimal kita harus memahami kemana arus itu berjalan dan tetap berpijak pada ideologi Islam.

Setidaknya, terdapat dua hal yang harus dipahami ketika kita ingin mengubah arus tersebut. Pertama, kita harus mempertajam pemikiran politik kita dengan memperbanyak asupan berita politik, sejarah dunia, serta membaca berbagai analisa politik. Pangeran Diponegoro mendapat asupan tersebut dari kitab-kitab warisan nenek buyutnya; Ratu Ageng Tegalrejo, juga dari jaringan ulama, sayyid, dan santri, khususnya dari Haji Badaruddin pemimpin pasukan Suronatan (pasukan penjaga Al Qur’an pusaka Kraton Yogya) juga jaringan Ashabul Jawiy (ulama Jawa alumni Makkah) yang salah satunya ialah Syaikh Imam Muhammad Arif atau Kyai Baderan Sepuh (ayah Syaikh Bagus Muslim Muhammad Khalifah atau Kyai Mojo). Anggota Jamiatul Khair, juga Syarekat Islam, Muhammadiyyah, dan Tashwirul Afkar terbiasa berdiskusi serta mendapat asupan berbagai kabar terkait kondisi dunia Islam dari jaringan ulama Nusantara yang belajar di Timur Tengah. Mereka juga membaca berita-berita di surat kabar Belanda dan mendiskusikannya.

Maka hari ini, seharusnya kita tidak hanya merasa kenyang dengan membaca kabar yang berseliweran di media sosial. Sudahkah kita serius membaca surat kabar-surat kabar yang terbit hari ini? Sudahkah kita menganalisis berita yang dimuat di Kompas, Tempo, The Jakarta Post, Time, BBC dan lain sebagainya? Sudahkah kita dengan serius membaca buku-buku sejarah dan mengomparasikan semuanya dengan kitab-kitab yang kita kaji setidaknya sepekan sekali?

Sebagai poin yang paling penting, hal kedua yang harus kita maksimalkan adalah fokus mengembangkan dakwah dan menjadikan diri kita sebagai “pusat gravitasi” di tengah masyarakat. Pangeran Diponegoro fokus membangun jejaring ulama dan santri di seputar Yogyakarta. Beliau sering “lelono”, yaitu berkelana untuk mencari ilmu sekaligus menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat. Beliau menjadikan Dalem Tegalrejo (tempat tinggalnya) sebagai markas berkumpulnya para ulama dan bangsawan Yogyakarta untuk mendiskusikan kondisi kesultanan yang semakin dicengkeram Belanda.

Di masa berikutnya, kita bisa melihat bagaimana HOS Cokroaminoto dan Sarekat Islam mengambil langkah serius dalam menggarap intelektual muda perkotaan. KH Abdul Wahhab Chasbullah dengan Tashwirul Afkarnya serius membangkitkan kalangan ulama tradisional dan kalangan pedesaan. Sedangkan Muhammadiyah mendakwahi kalangan perkotaan dan priyayi Kraton agar tidak jatuh kepada pengaruh Belanda. Maka, sudah seharusnya kita yang hidup hari ini juga fokus pada target dakwah kita dan menggerakkan mereka pada arah tujuan perubahan.

Cukup sudahi pembahasan Corona. Biarkan yang berbicara mengenai hal ini adalah mereka yang ahli sebagai sumber rujukan utama. Mari kita berdo’a, semoga wabah ini segera diangkat oleh Allah. Sudah saatnya kita fokus kembali pada dakwah, demi menyongsong era selanjutnya. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

Eugene Rogan. 2017. Dari Puncak Khilafah. Serambi: Jakarta.

Eugene Rogan. 2016. The Fall of Khilafah. Serambi: Jakarta.

M. C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern: 1200 – 2004. Serambi: Jakarta.

Muhammad Rahmat Kurnia. 2014. Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif. Al-Azhar Press: Bogor.

Peter Carey. 2011. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785 – 1855. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

Peter Carey. 2015. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Penerbit Buku Kompas: Jakarta.

Philip K. Hitti. 2013. History of the Arabs. Serambi: Jakarta.

Taqiyuddin An-Nabhani. 2006. Daulah Islam. HTI Press: Jakarta.

Taqiyuddin An Nabhani. 2009. Konsepsi Politik Hizbut Tahrir. HTI Press: Jakarta.

Tim Hannigan. 2015. Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *