Al-Idrisi dan Teori Bumi Bulat di Masa Khilafah

Share the idea

Perbedaan pendapat mengenai bentuk bumi bukanlah hal baru. Hecataeus (550 – 476 SM) yang disebut-sebut sebagai Bapak Geografi bangsa Yunani menyatakan bahwa bentuk bumi itu adalah tempat datar berbentuk lingkaran pipih yang diliputi oleh air yang bergelombang di setiap sudutnya. Thales (624 – 547 SM) berpendapat bahwa bumi berbentuk datar dan mengambang di air layaknya kayu yang mengambang di tengah lautan. Namun, filsuf Yunani lain seperti Plato (427 – 347 SM) dan Aristoteles (385 – 323 SM) mengajukan teori berbeda dengan menyatakan bahwa bentuk bumi adalah bulat.

Teori mengenai bentuk bumi masih terus berkembang setelah memasuki periode masehi. Cosmas Indicopleustes (w. 550 M) mengajukan konsep bumi yang datar seperti roda, “Alam semesta ini menyerupai roda. Airnya menyelimuti sekelilingnya dari setiap arah…”. Salah seorang tokoh gereja periode awal bernama Lucius Caecilius Firmianus Lactantius (250 – 325 M) juga menampik teori bumi bulat. Menurutnya, teori tersebut tidak masuk akal. Karena jika benar, maka manusia akan jatuh ke dalam ruang angkasa. Pendapatnya kemudian dikritik oleh Copernicus (1473 – 1543 M) yang menyebut sikapnya dengan “kekanak-kanakan” (childish).

Meski teori bumi bulat di abad pertengahan masih terasa aneh, namun dunia Islam tidak serta merta menentang dan membantahnya tanpa argumentasi dan pembuktian yang kuat. Mereka melakukan berbagai eksperimen ilmiah demi membuktikan keabsahan teori-teori tersebut. Secara umum, ada 3 sikap yang diambil oleh para ilmuwan muslim dalam menghadapi berbagai pengetahuan yang masuk ke dunia Islam saat itu, yakni: 1) mengoreksi kesalahan-kesalahan terdahulu; 2) membandingkan berbagai perbedaan pendapat dalam memahami pengetahuan dari masa ke masa; 3) serta menambahkan berbagai temuan baru.

Salah satu ilmuwan yang berkontribusi besar dalam ilmu kebumian adalah al-Idrisi (1100 – 1165 M). Di usianya yang masih muda, ia menjelajah Eropa, Asia, dan Afrika sehingga berhasil mengumpulkan berbagai fakta mengenai ilmu kebumian. Walhasil, sebelum usia 30 tahun ia berhasil menulis kitab geografi berjudul “Nushat al Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afat” (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh di Barat.

Namanya kemudian viral hingga Italia dan menarik minat Raja Roger II (1095 – 1154 M) untuk mengundangnya ke Sisilia. Sang raja bahkan memfasilitasi al-Idrisi untuk membuat peta dunia paling mutakhir saat itu. Ilmuwan keturunan Rasulullah ini pun menyanggupi pekerjaan besar tersebut dengan syarat diperbolehkan memasukkan data Sisilia yang sekitar 2 abad pernah berada di bawah kekuasaan kaum muslimin sebelum ditaklukkan bangsa Normandia pada abad kesebelas.

Peta pesanan itu diwujudkan dalam bentuk globe berbahan perak berdiameter hampir 6 kaki dengan berat sekitar 450 pon. Globe yang dapat diputar 180 derajat tersebut menghabiskan waktu belasan tahun masa pembuatan dan secara rinci memuat informasi seputar pegunungan, sungai, kota besar, dataran subur, dan dataran gersang. Al-Idrisi juga melengkapi masterpiece nya tersebut dengan “Kitab al-Rujari” (Roger’s Book atau dalam bahasa latin sering disebut sebagai “Tabula Rogeriana”) yang diakui dunia sebagai peta dunia paling teliti dan cermat di masanya. Kecanggihannya bahkan menjadikan para pakar geografi menyalin petanya tanpa perubahan selama 3 abad.

Tak sedikit yang menyebut-nyebut bahwa al-Idrisi adalah sosok pertama yang membuat peta dunia dalam bentuk globe. Beliau berpendapat bahwa, “Bumi itu berbentuk bulat seperti bulatnya bola. Sedangkan air menempel, tidak mengalir (tumpah) di atasnya dan secara alamiah tidak terpisah darinya. Bumi dan air sesuatu yang tetap di ufuk galaksi sebagaimana kuning telur dalam cangkang putihnya, meletakkan keduanya dalam tata letak yang seimbang, dan angin bertiup dari seluruh arah sudutnya.”

Dari peta-peta yang digambarkan al-Idrisi, Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization menyatakan, “Peta ini paling hebat dari nilai-nilai pemikiran ilmu gambar peta pada abad pertengahan. Belum pernah ada peta yang digambar lebih sempurna sebelum itu; lebih detail, lebih luas, dan besar secara terperinci. Al-Idrisi adalah salah seorang yang menguatkan teori tentang bumi bulat, dan dapatlah diketahui bahwa fakta ini merupakan sesuatu yang dapat diterima kebenarannya.”

Prestasi al-Idrisi ini tak lepas dari kontribusi para politisi dan ilmuwan sebelumnya. Sebutlah Khalifah Harun ar-Rasyid (763-809 M) dan Khalifah Al-Ma’mun (786 – 833 M) yang mendorong para ilmuwan muslim untuk menerjemahkan buku-buku ilmiah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab, seperti buku Almagest dan Geographia karya Claudius Ptolemaeus (90 – 168 M).

Secara khusus, al-Ma’mun bahkan membuat sebuah proyek besar yang dikerjakan oleh sekitar 70 geografer muslim (termasuk di dalamnya al-Khawarizmi) untuk membuat peta bumi raksasa dan selesai pada 830 M. Dalam masalah kebumian, al-Biruni (973 – 1048 M) juga melakukan koreksi atas perhitungan terdahulu tentang keliling bumi yang sebelumnya dilakukan oleh Eratosthenes (276 – 194 SM). Perhitungan yang dimulakan atas keyakinan beliau bahwa bentuk bumi adalah bulat, menghasilkan ukuran keliling bumi yang lebih akurat dibandingkan perhitungan sebelumnya.

Apa yang dicapai oleh al-Idrisi dengan teori bumi bulat yang diterapkan dalam globe dan peta nya juga tak terlepas dari berbagai pernyataan ilmuwan muslim sebelum dirinya yang juga banyak mendukung teori serupa. Sebagaimana Ibnu Khurdadzbih (820-912 M) yang menulis kitab al-Masalik wa al-Mamalik yang menggambarkan jarak antar negara yang dilewati oleh jalur perdagangan dunia Islam. Ia menyatakan bahwa, “Bumi itu berputar sebagaimana perputaran bola, tempatnya seperti muhhah (kuning telur) dalam tengah telur.”

Ibnu Hazm (994 – 1064 M) juga menyimpulkan berbagai pendapat para ulama di masanya mengenai bulatnya bumi dengan menyatakan, “Mereka mengatakan, “Sesungguhnya petunjuk-petunjuk telah membenarkan bahwa bumi itu bulat. Sementara orang secara umum mengatakan selain itu. Jawaban kami dengan petunjuk Allah, ‘Sesungguhnya dari kalangan para ulama kaum muslimin yang berhak disebut sebagai pioner dalam ilmu, tidak mengingkari bahwa bumi ini bulat. Tidak seorang pun di antara mereka yang menolak pendapatnya. Bahkan petunjuk al-Qur’an dan sunnah datang dengan menunjukkan bentuk bulatnya sebagaimana firman Allah, “Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam.” (Az-Zumar: 5)…”

Penggunaan teori bumi bulat sesungguhnya sangat bermanfaat untuk memudahkan proses ibadah umat Islam. Abu Ali al-Hasan al-Marrakushi menggunakan pengembangan dari teori ini untuk menentukan waktu shalat secara tepat. Pemaparan dari penelitiannya kemudian ia tuangkan dalam jilid pertama ensiklopedia astronominya yang berjudul Jami’ al-mabadiʼ wa al-ghayat fi ʻilm al-miqat (Collection of the principles and objectives in the science of timekeeping).

Pengembangan dari berbagai ilmu geografi dan astronomi ini sangat memudahkan umat Islam melakukan misi dakwahnya ke seluruh penjuru dunia, termasuk jihad dan pengurusan atas wilayah Khilafah yang demikian luas. Atas berbagai jasanya, ilmuwan yang juga dikenal sebagai ahli farmakologi dengan kitabnya yang berjudul “Al Jami li Sifat Ashtat Al Nabatat” (Compendium of plants and their properties) ini pun diabadikan sebagai nama salah satu pegunungan di Pluto, yaitu al-Idrisi Montes.

Menyimak berbagai prestasi yang ditorehkan para ilmuwan muslim, tentu membuat kita yang hidup pada masa ini terheran-heran dengan sikap sebagian umat Islam yang justru merasa asing dengan teori-teori tersebut, seolah kita tidak pernah mendengarnya kecuali dari Copernicus, Galileo Galilei, atau bahkan NASA. Padahal umat Islam di abad pertengahan, baik para ilmuwan maupun ulama, sudah memiliki sikap yang jelas atas perkara ini. Hanya orang-orang Eropa yang masih tenggelam dalam kebingungan di abad kegelapan (The Dark Ages). Wallahu a’lam.[]

Sumber:

Firas Alkhateeb. 2016. Lost Islamic History. Penerbit Zahira. Jakarta.

Prof. Dr. –Ing. Fahmi Amhar. 2010. TSQ Stories : Kisah-Kisah Penelitian dan Pengembangan Sains dan Teknologi di Masa Peradaban Islam. Al-Azhar Press: Bogor.

Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. 2009. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta.

Shahib al-Kutb. 2004. Warisan Peradaban Islam di Bidang Sains dan Teknologi. Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

https://1001inventions.com/node/1615
https://www.wdl.org/en/item/17606/
Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *