Bagaimana Awal Berkembangnya Islam di Jepang?

Share the idea

Mencari jejak Islam di negeri Sakura, nyatanya memang jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan tetangganya, Tiongkok. Kita akan sangat familiar dengan nama Laksamana Zheng He (Cheng Ho) hingga kisah muslim Uighur. Tapi cerita sejenis, tak kita temui di Jepang.

Salah satu riwayat yang terkenal tentang interaksi yang intens antara Islam dan negeri matahari terbit justru terjadi pasca Jepang melepaskan politik isolasinya di zaman Meiji (1868). Selama masa Keshogunan Tokugawa (1603-1868), Jepang memang memutuskan hubungan dengan negara asing kecuali Tiongkok dan Belanda.[1]

Rurouni Kenshin, penggambaran kondisi Jepang di awal Era Meiji

Momen besar yang kemudian mengenalkan hubungan dua negara ini pada dunia adalah, kala terjadinya peristiwa tenggelamnya kapal Fregat Ertuğrul (Ottoman Frigate Ertuğrul) pada 1890 yang menewaskan 550 tentara ‘Utsmani dan hanya menyisakan 69 awak yang selamat.[2] Kapal itu, merupakan kunjungan balasan dari pihak Sultan Abdul Hamid II yang sebelumnya dikunjungi oleh Pangeran Komatsu pada 1887. Sebagai bentuk hormat pada sang sultan, pangeran memberi hadiah berupa medali “Bintang Krisantemum” (Krizantem Nişanı) yang hanya diberikan kepada anggota keluarga kerajaan dan kepala negara.[3]

Krizantem Nişanı, hadiah kehormatan dari Jepang kepada Turki.
Sumber gambar: https://www.haberler.com/iste-sultan-2-abdulhamid-e-hediye-edilen-japon-12953078-haberi/
 

Sebagai gambaran hangatnya hubungan ‘Utsmani-Jepang, saat kapal Fregat Ertuğrul tiba dan memberi hormat dengan “kembang api” tembakan bola meriam, ribuan orang Jepang pun ikut bersorak.[4]

Monumen di Kushimoto Turkish Memorial Museum (gambar kiri) dan film 125 Years Memory yang rilis pada 2015, memperingati 125 tahun pasca tragedi tenggelamnya kapal Fregat Ertuğrul (gambar kanan)

Pembacaan kita atas kisah itu, tentu meninggalkan satu tanda tanya. Benarkah hubungan itu terjadi begitu saja pasca kedatangan Pangeran Komatsu? Apalagi, mengingat Jepang ternyata juga memberikan medali kehormatan yang berharga?

Hubungan antara Turki-Jepang, ternyata telah terjadi di masa-masa sebelumnya. Hanya 3 tahun pasca Jepang membuka politik isolasinya di Era Meiji (tepatnya pada 1871), Fukuchi Genichiro, yang pernah bekerja sebagai juru tulis di Kementerian Luar Negeri Jepang, dikirim ke Istanbul untuk mengamati kondisi kekhilafahan.

Fukuchi Genichiro (kiri) dan Pangeran Komatsu (kanan). Sumber gambar: https://www.wikiwand.com/tr/Japonya-Türkiye_ilişkileri

Bagaimanapun, Jepang, sebagaimana yang dilaporkan oleh Terashima Munenori (Menteri Luar Negeri) kepada Perdana Menteri Sanjo Sanetomi pada 1875, menganggap Turki sebagai “bangsa Barat non-Kristen yang memiliki hubungan diplomatik dengan Eropa”. 

Pernyataan itu, tentu saja menggambarkan satu ikatan persamaan lain antara ‘Utsmaniyyah dan Jepang. Bahwa keduanya, adalah pihak yang sama-sama merasa tertinggal dari Barat dan kemudian pernah mencoba belajar dari mereka.

Pengamatan awal tersebut menghasilkan dikirimkannya sebuah delegasi yang dipimpin oleh Yoshida Masaharu, perwakilan Kementerian Urusan Luar Negeri ke Istanbul pada 1881.[5] Hubungan-hubungan tersebut tentu saja memberikan kesan mendalam bagi Sultan Abdul Hamid II. Beliau bahkan memberi tulisan khusus atas Jepang dalam catatan hariannya,

“… Aku tidak tahu sejauh mana kemiripan antara ‘Utsmaniyyah dengan Jepang. Aku pun tidak tahu sejauh mana tingkat keberhasilan Sultan ‘Utsmaniyyah dibandingkan Kekaisaran Jepang. Jepang berada di semenanjung yang terbuka ke segala arah. Jepang merupakan institusi masyarakat yang sempurna hak-haknya, tanah airnya benar-benar disatukan oleh agama dan bangsa yang sama. Tidak ada di muka bumi ini suatu wilayah pun yang serupa dengan negeri kami yang miskin. Bagaimana caranya agar aku dapat menyatukan etnis Kurdi, Armenia, Turki dengan etnis Yunani, Arab, dan Bulgaria?…”

“…Orang-orang yang memegang kendali pemerintahan setelahku, mereka akan senantiasa berada dalam arena perbedaan di antara unsur-unsur alamiah kami. Mereka pun akan mendapati perseturuan di antara unsur-unsur yang ada di sekitar kami dan para pendukung kami!!!”[6]

Apa yang disampaikan oleh Sultan Abdul Hamid II dalam catatan hariannya memang bukan perkara sembarangan. Bahwa, pemikiran Barat seperti sekularisme dan nasionalisme, betul-betul menjadi ancaman bagi keutuhan tubuh ‘Utsmaniyyah yang saat itu merupakan negara yang sangat heterogen.

Padahal, penerapan syariat Islam atas berbagai latar belakang agama dan ras yang dilakukan oleh Khilafah ‘Utsmaniyyah yang luas kekuasannya mencapai sebagian wilayah dari 3 benua itu, tidak menjadi masalah besar hingga sekularisme Barat muncul ke hadapan masyarakatnya.

Poin penting lainnya dari homogenitas bangsa dan agama orang-orang Jepang yang disampaikan oleh Sultan Abdul Hamid II itu, adalah tentang Islamisasi terhadap bangsa Jepang yang tidak semasif sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah, Eropa, maupun wilayah lainnya.

Terkait dengan fenomena ini, kita dapat melihat sebuah catatan menarik yang diberikan oleh Firas Alkhateb Ketika membahas Islam yang tetap menjadi agama minoritas di Tiongkok,

“…Agama-agama timur yang populer di Tiongkok, yaitu Buddha dan Konghucu, sungguh bertolak belakang dengan Islam. Sementara muslim di wilayah Kristen dapat berhubungan dengan masyarakat lain melalui sejarah yang sama tentang Ibrahim, Musa, dan Isa, muslim di Tiongkok tidak memiliki kemewahan seperti itu…”[7]

Apa yang diungkap oleh Alkhateb mengenai fenomena Islam di Tiongkok itu, dapatlah juga kita gunakan pada Jepang yang saat itu, memang mengalami fenomena serupa. Meski demikian, nyatanya Islam memang memberi kesan mendalam bagi tokoh-tokoh Jepang saat itu.

Selain ‘Utsmaniyyah-Jepang yang menjalin hubungan dengan berbagai hadiahnya, seorang pengusaha keturunan keluarga Samurai, Torajiro Yamada, menghadiahi Sultan Abdul Hamid II zirah samurai dari tahun 1615, lengkap dengan pedang dan uang bantuan atas tragedi tenggelamnya kapal Fregat Ertuğrul.[8]

Torajiro Yamada (gambar kiri) pengusaha Jepang yang menghadiahi
Sultan Abdul Hamid II seperangkat peralatan perang Samurai
(gambar kanan). Kelak, ia menjadi muallaf sekaligus generasi muslim pertama Jepang yang naik haji ke Mekkah. Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Yamada_Torajirō
dan https://www.dailysabah.com/life/history/japanese-armor-presented-to-sultan-abdulhamid-ii-at-palace-collections-museum

Sebagai penutup, Abdürreşid İbrahim sebagai seorang da’i penting yang mengenalkan Islam pada Jepang, menuliskan surat pada Sultan Abdul Hamid II yang memuji baiknya “akhlak” orang Jepang yang lebih dekat kepada Islam, serta membandingkannya dengan orang-orang Rusia yang terkenal amoral dan korup.[10] Amoralitas orang-orang Rusia saat itu memang sangat terkenal. Kelak, hal tersebut memicu Revplusi Bolshevik yang memunculkan Uni Soviet sebagai negara komunis pertama di dunia.

Sejarah masuknya sekularisme dan besarnya pengaruh paham nasionalisme bagi kehancuran Khilafah, juga disajikan dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, hasil penelitian penulis yang dibukukan. Terdapat 891 catatan kaki yang melengkapi hasil penelitiannya.

Cek di linktr.ee/kli.books untuk pemesanan buku.
Dapatkan kesempatan potongan harga dan gratis ongkir melalui Shopee dan Tokopedia

Sumber:

[1] https://www.fikriyat.com/galeri/tarih/sultan-abdulhamide-verilen-ilginc-hediye-samuray-zirhi/2/

[2] https://www.fikriyat.com/galeri/tarih/sultan-abdulhamide-verilen-ilginc-hediye-samuray-zirhi/8/

[3] https://www.fikriyat.com/galeri/tarih/sultan-abdulhamide-verilen-ilginc-hediye-samuray-zirhi/4/

[4] https://www.fikriyat.com/galeri/tarih/sultan-abdulhamide-verilen-ilginc-hediye-samuray-zirhi/7/

[5] https://www.fikriyat.com/galeri/tarih/sultan-abdulhamide-verilen-ilginc-hediye-samuray-zirhi/3/

[6] Dr. Muhammad Harb. Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II (hal 182). Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

[7] Firas Alkhateeb. 2016. Lost Islamic History (hal 211). Penerbit Zahira: Jakarta.

[8] https://www.fikriyat.com/galeri/tarih/sultan-abdulhamide-verilen-ilginc-hediye-samuray-zirhi/10/

[9] https://www.fikriyat.com/galeri/tarih/sultan-abdulhamide-verilen-ilginc-hediye-samuray-zirhi/14/

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *