Bagaimana Kapitalisme Memandang Isu Perubahan Iklim?

Share the idea

Penulis : Andika Abu Nadzhifah

“Tidak ada yang lebih tabah,

dari hujan di bulan Juni,

dirahasiakannya rintik rindunya,

kepada pohon berbunga itu”

Sajak sastrawi Sapardi Djoko Damono [1] tersebut sepertinya agak sulit dipahami realitasnya dalam beberapa waktu ke belakang. Sekalipun sudah masuk bulan Juni (yang seharusnya mendekati puncak musim kemarau) hujan masih turun deras di beberapa daerah. Padahal tahun ini kecil kemungkinannya terjadi la nina [2]. Belum lagi bahwa musim hujan juga terlambat datang tahun lalu.

Apa itu perubahan iklim? American Meteorological Society mendefinisikan peruahan iklim sebagai, “perubahan sistematik dalam statistik jangka panjang pada elemen iklim (seperti temperatur, tekanan, dan angin) yang bertahan selama beberapa dekade atau lebih.” Artinya, jika dibandingkan kondisi iklim pada periode tertentu dengan kondisi iklim pada periode lain, lalu ditemukan adanya perubahan, maka dikatakan bahwa telah terjadi perubahan iklim [4].

Apakah saat ini tengah terjadi perubahan iklim? Ya. Temperatur permukaan bumi sebagai salah satu elemen iklim, pada faktanya terus mengalami kenaikan. Selama 100 tahun terakhir, temperatur rerata permukaan bumi telah naik sekitar 0,74°C. Sementara, laju kenaikan temperatur dalam 50 tahun terakhir mencapai 1,3°C, hampir dua kali lebih tinggi. Artinya, kenaikan temperatur makin lama makin cepat [4]. Kenaikan temperatur ini sering juga disinggung sebagai pemanasan global.

Apakah perubahan iklim itu berbahaya? Juga ya. Dampak perubahan iklim di antaranya adalah kenaikan permukaan laut [5], kepunahan sebagian spesies hewan dan tumbuhan [6], meluasnya penyebaran penyakit [7], terganggunya produksi pangan, kerusakan ekosistem bakau, alpen, dan terumbu karang, serta cuaca ekstrem yang menjadikan hujan di bulan Juni tidak lagi tabah [5].

Tidak cukup sampai di sana, Rothman (2017) menganalisis bahwa pada tahun 2100, ada kemungkinan dapat terjadi kepunahan massal dengan tingkat keparahan setinggi Kepunahan Permian – jika tidak ada perubahan skenario terhadap penyebab utama perubahan iklim [8]. Hal tersebut salah satunya berasal dari pengasaman lautan yang merusak koral dan terumbu karang sebagai tempat hidup ikan-ikan laut. Laut lebih asam pun mengancam populasi plankton, yang semakin mengancam populasi ikan dan produksi oksigen.

Perkara ini jelas bukan hal ringan dan harus segera diatasi. Namun, pertanyaannya, apa yang sebenarnya menyebabkan perubahan iklim?

Telah menjadi konsensus bahwa perubahan iklim disebabkan oleh manusia [9]. Riset tentang iklim telah dilakukan selama puluhan tahun oleh ribuan peneliti yang independen satu sama lain. Artinya, sudah tidak ada peluang untuk mengatakan bahwa perubahan iklim itu tidak terjadi, atau tidak disebabkan oleh manusia. Pernyataan tersebut bertentangan dengan fakta.

Lantas, aktivitas manusia yang mana yang menyebabkan perubahan iklim? Jawabannya adalah emisi gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer. GRK memang membuat permukaan bumi layak huni [10]. Namun, terlalu banyak GRK akan membuat bumi memanas dan mengubah kondisi iklim. Dari mana sumber emisi GRK? Pembakaran energi fosil.

Pembakaran energi fosil menghasilkan sisa buangan berupa GRK dalam bentuk CO2. Faktanya, CO2 merupakan GRK yang paling besar konsentrasinya di atmosfer, dan paling banyak meningkat konsentrasinya sejak manusia memanfaatkan energi fosil [11].

Emisi CO2 inilah yang disebut dalam penelitian Rothman dapat menyebabkan Kepunahan Besar pada akhir abad 21. Emisi CO2 ini juga yang menyebabkan laut menjadi lebih asam dan mengancam kehidupan biota laut.

Pemanfaatan energi fosil secara tidak terkendali merupakan penyebab terjadinya perubahan iklim. Lebih dari 80% suplai energi dunia masih dikuasai oleh energi fosil. Selama 10 tahun terakhir, emisi CO2 dunia cenderung tetap bahkan naik, tidak ada tanda-tanda akan berkurang [12]. Kecuali jika pandemi Covid-19 berlangsung cukup lama—semoga tidak.

Tidak terkendalinya konsumsi energi fosil merupakan hasil dari penerapan ideologi kapitalisme. Ideologi ini menuhankan pertumbuhan ekonomi, maka pertumbuhan ekonomi harus digenjot sebesar-besarnya. Bagaimana caranya? Dengan produksi barang. Untuk produksi barang, butuh energi. Dari mana sumbernya? Paling mudah didapatkan tentu saja energi fosil.

Dalam kapitalisme neoliberal, sumber daya fosil boleh dikuasai oleh swasta [13]. Sementara, swasta orientasinya profit. Dampak lingkungan urusan belakangan. Maka, sumber daya fosil menjadi komoditas yang bebas diperjualbelikan tanpa memedulikan dampak lingkungan. Ditambah dengan harga yang relatif murah dan praktis, akhirnya peradaban kapitalisme menjadi peradaban yang kecanduan energi fosil. Industri dibangun berdasarkan paradigma energi fosil.

Para kapitalis Big Petro Carbon inilah yang kemudian menghalang-halangi diterapkannya energi bersih seperti nuklir. Karena jika nuklir dibiarkan bebas, industri fosil akan mati. Demikian pula, Big Petro Carbon yang membangun opini khususnya di Barat bahwa perubahan iklim itu hoaks, sebagaimana yang dilakukan ExxonMobil [14].

Jelaslah, kapitalisme merupakan ideologi rusak dan merusak. Mereka membuat seisi bumi kecanduan energi fosil yang dikuasai segelintir orang, berusaha membunuh kompetitornya (nuklir), dan menipu masyarakat seolah-olah kerusakan yang mereka sebabkan tidak ada. Betapa busuknya mereka.

Islam adalah satu-satunya ideologi yang mampu menghentikan perubahan iklim. Islam mengatur bahwa sumber daya fosil merupakan kepemilikan umum yang wajib dimiliki oleh umat, dengan negara sebagai perwakilannya [13,15]. Swasta diharamkan sama sekali dari menguasai sumber daya. Sehingga, negara dapat mengatur penggunaan sumber daya fosil sesuai ketentuan syariah, tentu dengan tidak membakarnya.

Energi nuklir akan mengambil alih tugas energi fosil dalam berbagai bentuknya, sementara sumber daya fosil dialihkan untuk industri lain yang lebih bernilai seperti industri material dan pertanian. Dengan demikian, emisi CO2 ke atmosfer dapat dihentikan, karena nuklir tidak melepaskan GRK ke atmosfer.

Mengingat umat Islam bukan biang kerok terbesar emisi GRK – melainkan Cina dan Amerika Serikat, maka negara pengemban ideologi Islam akan menekan kedua negara tersebut untuk melakukan tindakan mitigasi dengan baik dan benar. Negara Islam juga akan menjadi pionir keberhasilan mitigasi perubahan iklim. Sehingga, negara-negara lain yang kesulitan menurunkan emisi akan mengetahui cara paling efektif untuk melakukannya.

Islam merupakan satu-satunya solusi sahih untuk mengatasi perubahan iklim. Tanpa penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah, usaha mitigasi perubahan iklim akan sia-sia. Puisi Sapardi Djoko Damono pun akan kehilangan maknanya. []

Sumber:

1. Sapardi Djoko Damono, 1994. Hujan Bulan Juni. Jakarta: Grasindo.

2. World Meteorological Organization. El Niño/La Niña Update. https://public.wmo.int/en/our-mandate/climate/el-ni%C3%B1ola-ni%C3%B1a-update

3. G. Thomas Farmer and John Cook, 2013. Climate Change Science: A Modern Synthesis Vol. 1 – The Physical Climate. Dordrecht: Springer Science+Business Media.

4. Andrew E. Dessler, 2012. Introduction to Modern Climate Change. Cambridge: Cambridge University Press.

5. Nopriadi. Global Warming, Kapitalisme dan Islam.

6. Mark C. Urban, 2015. “Accelerating extinction risk from climate change,” Science, vol. 348, issue 6234 pp. 571-573.

7. Sonia Altizer et al, 2013. “Climate Change and Infectious Diseases: From Evidence to a Predictive Framework,” Science, vol. 341, pp. 514-519.

8. Daniel H. Rothman, 2017. “Threshold of catastrophe in the Earth System,” Science Advances, vol. 3, issue 9, e1700906.

9. John Cook et al, 2013. “Quantifying the consensus on anthropogenic global warming in the scientific literature.” Environmental Research Letters, vol. 8, no. 2, 024024.

10. Hans Joachim Schellnhuber (editor in chief),, 2006. Avoiding Dangerous Climate Change. Cambridge: Cambridge University Press.

11. International Energy Agency, 2016. CO2 emissions from fuel combustions highlights. Paris: OECD-IEA.

12. British Petroleum, 2019. BP Statistical Review of World Energy June 2019. London: BP.

13. Taqiyuddin an Nabhani, 2015. Sistem Ekonomi Islam. Jakarta: HTI Press.

14. Geoffrey Supran and Naomi Oreskes, 2017. “Assessing ExxonMobil’s climate change communications (1977-2014).” Environmental Research Letters, vol. 12, no. 8, 084019.

15. Abu Lukman Fathullah, 2011. 60 Hadits Sulthaniyah – Hadits-hadits Tentang Penguasa. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *