Bagaimana Karl Marx Memandang Esksistensi Tuhan?

Share the idea

Filsafat “Materialisme” merupakan pandangan hidup yang melihat segala sesuatu – termasuk kehidupan manusia – di dalam alam kebendaan semata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam indra. Dari filsafat inilah banyak lahir filsuf-filsuf terkenal seperti Ludwig Feuerbach (1804-1872), Karl Marx (1818-1883), Friedrich Engels (1820-1895), Friedrich Nietzsche (1844-1900), dan masih banyak filsuf lainnya.

Pemikiran Feuerbach yang menjadi pijakan dan aspirasi para pemikir atheis lainya seperti Marx, Engels, Nietzsche, Freud, membuatnya dijuluki sebagai “Bapak Atheisme modern”. Kompleksitas pemikirannya jelas telah merusak aqidah umat Islam saat ini. Jika Hegel berpendapat bahwa yang nyata adalah “Tuhan” (yang tidak terlihat/tidak dapat diindra), sedangkan manusia hanyalah wayang dari Tuhan (artinya, seluruh aktivitas manusia ada dalang di baliknya), maka Feuerbach menyatakan sebaliknya. Baginya, manusia (yang nyata/dapat diindra) bukanlah hasil pemikiran “Tuhan”, tetapi Allah (yang tidak nyata/tidak dapat diindra) hanyalah khayalan/imajinasi pemikiran manusia.

Feuerbach memusatkan penyelidikan filsafatnya hanya pada pengalaman yang konkret (indrawi) atau empiris sebagai dasar untuk berfilsafat. Dalam tulisan “Hakekat Agama Masehi”, ia menyatakan bahwa tugas filsafat itu:

“Mengubah sahabat-sahabat Tuhan menjadi sahabat-sahabat manusia, mengubah kaum beriman menjadi pemikir-pemikir, mengubah orang yang beribadat menjadi orang yang bekerja, mengubah calon-calon untuk surga menjadi murid-murid untuk dunia ini, mengubah orang Kristiani yang menamai dirinya sendiri ‘separuh malaikat, separuh binatang,’ menjadi manusia seratus persen.”

Menurut Feuerbach, manusia telah diasingkan (teralienasi) dari hakikatnya sebagai manusia. Agar terbebas dari status sebagai seorang “hamba” dan sembuh dari penyakit alienasi, manusia harus melepaskan diri dari hal-hal imajiner/tidak nyata/khayalan, sehingga manusia akan menemukan kesadaran yang disebut Homo homini Deus est (Manusia menjadi Tuhan bagi dirinya).

”Allah itu bukan asal manusia. Manusia justru asal Allah”. Hal ini berawal dari pemikiran, bahwa Allah bukan sesuatu yang nyata, melainkan ciptaan dari pemikiran (khayalan/imajinasi) manusia.

Bagi Feuerbach, Allah itu merupakan “sosok” proyeksi dari semua keinginan dan hasrat manusia itu sendiri. Misalnya, manusia menginginkan kesempurnaan, kemahatahuan, kemahakuasaan, tetapi keinginan itu tidak dapat dicapai oleh manusia. Akhirnya, manusia menciptakan khayalan berupa Tuhan yang mampu melakukan segalanya.

Berbicara mengenai agama, Feuerbach mengemukakan pendapatnya, bahwa manusia harus menolak kepercayaan kepada Tuhan. Padahal, manusia sudah menjalin hubungan dengan Allah sejak manusia mulai mengenal Tuhan, serta memberikan manfaat yang demikian besar sepanjang sejarah hidup manusia. Lewat pengalamannya, manusia mengenal bahwa ada sesuatu yang lebih kuat dari dirinya, karena itu manusia menjadikan agama sebagai cara untuk mendekatkan diri terhadap realitas yang tak terhingga.

Pemikiran-pemikiran dari Hegel dan Feuerbach inilah yang kemudian sangat mempengaruhi Marx. Jika Feuerbach menyatakan bahwa “penderitaan adalah tempat lahirnya Tuhan”, maka Marx mengembangkan pemikiran Feuerbach dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, “Mengapa manusia melarikan diri (dari penderitaan) menuju agama?” “Mengapa manusia lebih memilih mewujudkan (ekspresinya) dalam dunia maya (agama)? Mengapa tidak direalisasikan secara nyata (indrawi)?”

Menurut Marx, agama merupakan suatu bentuk hiburan semu yang hanya memberi kelegaan sementara sebagai tempat pelarian atas penderitaan kaum tertindas. Marx memberikan solusi atas masalah ini, yaitu pengusahaan peningkatan kesejahteraan secara material. Karl Marx menganggap, bahwa agama ternyata tidak mampu mencapai kondisi tersebut, dan justru membiarkan manusia terus menerus dalam kondisi menderita.

 Hasil pemikiran ini kemudian memunculkan teori  “Reflection Of Mind”. Marx menyatakan, “All the product of human mind were the reflection of material conditions”. Seluruh hasil pikiran manusia merupakan hasil dari “refleksi” otak. Dengan kata lain, Marx beranggapan bahwa pengindraan terhadap objek (sesuatu yang nyata/dapat diindra) akan menghasilkan pemikiran melalui proses refleksi. Hal ini bermakna, bahwa manusia menciptakan Tuhan sesuai dengan citranya (hasil pengindraan). Manusia lalu memproyeksikannya ke dalam bentuk yang disebut  “Tuhan” yang dimunculkan sebagai sesuatu yang Mahakuasa dan Mahasempurna.

Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat yang bernama “Dialektika materialisme”. Walhasil, kaum Proletar yang menginginkan ke sama rataan, bergerak untuk melakukan “Revolusi”, demi mengubah berbagai kesenjangan dan kedzaliman masa itu. Marx menuangkan pemikirannya memang bukan untuk kaum intelektual dan para filsuf terpelajar, tetapi untuk digunakan kaum buruh dalam perjuangannya. Dalih bahwa buruh terlalu bodoh untuk bisa memahami dasar-dasar filsafat Marxisme, tidak lain merupakan usaha kaum borjuis untuk memisahkan buruh dari kesadaran dan filsafat perjuangannya. Intinya, buruh lah yang pada akhirnya mampu merenggut filsafat ini untuk digunakan dalam perjuangan melawan kapitalisme melalui revolusi.

Maka, siapa pun yang mendalami landasan pemikiran sosialisme, akan menemukan fakta, bahwa sosialisme lahir dari penderitaan dan kesenjangan ekonomi hasil sistem kapitalisme saat itu, yang bercampur dengan rasa muak terhadap para pemuka agama dan kaum kelas atas (borjuis) yang selalu mengatasnamakan agama (gereja) untuk menguasai, memanipulasi, dan menindas kelas bawah (proletar). Akibatnya, manusia menjadi teralienasi dan kehilangan hakikatnya sebagai manusia. Mudahnya, secara historis, filsafat Marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan perbudakan kapitalisme dan membawa sosialisme dan persamaan kelas ke bumi manusia.

Siapa saja yang merasa muak dengan kapitalisme, namun tidak menemukan Islam, maka akan lari kepada sosialisme. Padahal sungguh, Islam merupakan agama, ideologi, sekaligus sistem bernegara terbaik. Sepanjang sejarah peradabannya, Islam berhasil memberikan kesejahteraan yang tidak dapat dicapai oleh Kapitalisme dan Sosialisme, bahkan hingga hari ini.

KRITIK ATAS TEORI REFLEKSI PEMIKIRAN KARL MARX

Dari teori “Reflection of Mind”, Marx memposisikan “Tuhan Sebagai Objek”. Mulai dari sinilah seharusnya kita mengkritisi bagaimana pemikiran Karl Marx. Dalam filsafat empirisme, terdapat kaidah bahwa objek yang dapat diamati harus lah bisa diterima oleh indra, dan ini membuktikan bahwa objek tersebut ada/nyata/bukan khayalan. Marx berpendapat bahwa pengindraan terhadap objek indrawi akan menghasilkan pemikiran melalui proses refleksi, sehingga kegiatan berpikir akan menghasilkan pencerminan objek yang ditangkap oleh indra.

Pertanyaan yang timbul dari teori “Reflection of Mind” adalah, apakah refleksi itu benar-benar terjadi?”. Apa yang diklaim oleh Karl Marx sebagai refleksi, sebenarnya merupakan hasil penangkapan indra manusia atas objek. Dengan kata lain, hal tersebut hanya sebatas pengindraan, bukan refleksi. Karena proses refleksi tersebut tidak pernah terjadi antara otak dengan objek indrawi. Apa maksud “tidak pernah?”, Alasanya, karena otak tidak seperti cermin.

Untuk lebih memahami hal ini, kita buat sebuah analogi,

Andaikata hewan menangkap objek dan pengindraan yang sama dengan manusia, lantas mengapa aktualitas berpikir hewan tidak sama seperti manusia?”,

“Jika teori Marx itu benar, bukankah seharusnya hewan memiliki pemikiran yang sama dengan yang direfleksikan oleh manusia?”.

Dengan demikian, gagasan refleksi Karl Marx tersebut tidak terbukti rasionalitasnya. Kesalahan Marx yang patut dikritik di sini adalah, Marx menyatakan bahwa pemikiran adalah hasil bentuk dari cerminan (refleksi) objek yang diterima manusia. Ia tidak dapat menyebutkan bahwa hasil proses berpikir manusia lah yang merupakan cerminan dari objek yang ditangkap oleh indra.

Gagasan refleksi Marx bahkan bertentangan dengan fakta, sekalipun syarat-syarat nya sudah terpenuhi. Menurutnya, aktualisasi berpikir membutuhkan 3 faktor, yaitu objek indrawi, pengindraan, dan otak. Ketiganya memang  fakta yang tidak dapat dibantah. Namun, hanya dengan 3 hal tersebut, ternyata belum cukup. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan lanjutan, “Seandainya teori “Reflection of Mind” ditiadakan, lantas bagaimana caranya objek indrawi, pengindraan, dan otak bisa menghasilkan pemikiran?”

Marx memang telah berhasil menjawab syarat proses berpikir dengan 3 syarat, yakni: 1. Objek Indrawi (yang dapat diindra), 2. Proses Pengindraan (penangkapan Objek), dan 3. Otak. Namun sayangnya, Marx melupakan satu aspek yang terpenting sebagai syarat keempat dalam proses berpikir, yakni Informasi awal/informasi sebelumnya (Ma’lumat Sabiqoh).

Hal ini dapat dibuktikan oleh orang gila. Walau berstatus sebagai manusia, namun orang gila memiliki akal yang tidak bekerja. Orang gila dapat melakukan 3 aspek dari 4 syarat yang dibutuhkan untuk berpikir, namun orang gila tidaklah dapat menghasilkan sebuah pemikiran secara aktual. Sebaliknya, orang yang berakal sehat dapat melakukanya, sehingga manusia dengan akal yang sempurna dapat membedakan antara baik dan buruk untuk dirinya. Sekali lagi, hal ini disebabkan adanya informasi awal/sebelumnya (Ma’lumat Sabiqoh).

Dan ternyata, Islam, sejak 14 abad yang lalu telah membuktikan hal ini. Pada QS Al-Baqarah [02]: 31-33, Al-Qur’an menerangkan dua realitas berbeda. Pertama, mengenai Adam yang diberikan informasi awal (Ma’lumat Sabiqoh) oleh Allah mengenai nama berbagai benda, yang dibandingkan dengan malaikat yang tidak diberi informasi awal (Ma’lumat Sabiqoh) mengenai nama-nama benda. Hasilnya, Adam dapat menjawab pertanyaan Allah berkaitan dengan nama benda-benda tersebut, sedangkan malaikat tidak. Malaikat pun mengakui hal tersebut dengan menyatakan:

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami.”

Hal tersebut dengan jelas membuktikan bahwa informasi awal (Ma’lumat Sabiqoh) merupakan unsur utama dari akal.

Mengenai hal ini, dengan luar biasa dan cerdas juga telah diungkap oleh Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, dalam kitabnya, At-Tafkir. Beliau menyatakan,

“Akal adalah pemindahan realitas ke dalam otak melalui pengindraan indra, dan dengan adanya Informasi awal, realitas tersebut kemudian diinterpretasikan”

Mudahnya, akal merupakan daya untuk menghasilkan pemikiran dan hukum realitas tertentu dengan cara memindahkannya ke dalam otak melalui pengindraan indra terhadapnya, disertai informasi awal (Ma’lumat Sabiqoh). Artinya, ini merupakan proses antara informasi yang didapat ketika objek diterima, lalu dibandingkan dengan informasi awal yang sudah ada di dalam otak.

 Syekh Taqiyuddin pun menambahkan, bahwa hasil dari proses berpikir akan merubah hasil perbuatan. Jika manusia berpikir sesuatu yang baik, maka akan menghasilkan perbuatan yang baik pula. Sebaliknya, jika manusia memiliki pemikiran yang buruk, dan menilai sesuatu dengan buruk pula, maka akan menghasilkan perbuatan yang buruk. Yang akan menjadi penjembatan antara pemikiran dan perbuatan adalah Aqidah dan nafsu orang tersebut.

Inilah realitas pemikiran yang dapat diterangkan dan diterima oleh akal sehat, tidak setengah setengah dan sangat jelas hakikatnya. Tidak seperti Materialisme yang rancu, yang mengajarkan bahwa penilaian suatu objek harus berupa materi (sesuatu yang nyata/dapat diindra) dan jika tidak, maka interaksinya (pergerakanya) dianggap tidak ada.

Allah memang ada, dan sangat masuk akal ketika manusia menyembah, memuji, dan memohon bantuan Allah. Allah adalah pencipta yang tidak mungkin menjauhkan diri dari manusia, karena manusia hanyalah makhluk lemah yang sangat bergantung pada Allah.

Manusia hanyalah “debu kecil” di alam semesta, yang dengan sombong mengatakan bahwa alam semesta itu ada dengan sendirinya dan diatur dengan hukum mereka sendiri (hukum alam). Seandainya mereka (alam semesta) mengatur diri mereka sendiri, bukankah mereka sudah membuat kerusuhan atas keinginan mereka sendiri? Dan bagaimana bisa, “debu kecil” mengatakan bahwa itu terjadi dengan hukum mereka sendiri, tanpa ada yang mengatur?

Islam adalah agama yang mulia, yang mengajarkan para pengemban nya untuk senantiasa bersikap  tawadhu’. Sungguh, diri seorang hamba bukanlah siapa-siapa. Hal tersebut bukanlah sebuah dogma yang dipaksakan. Taat kepada Allah bukan karena ketakukan, namun atas dasar kesadaran terhadap kekuasaan sang Khaliq.

Sebagai penutup, Saad bin Abi Waqqash  pernah mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Khattab mengenai kitab-kitab Filsafat yang menjadi ghanimah ketika Islam berhasil menaklukan Persia. Mengetahui informasi tersebut, Umar pun menjawab,

“Campakkan buku-buku itu ke air! Jika apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut adalah petunjuk yang besar, maka Allah telah memberikan kepada kita petunjuk yang lebih besar (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Jika ia berisi kesesatan, Allah telah memelihara kita dari bencana tersebut.”

Itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim ketika menemukan pemikiran lain. Tidak ada yang lebih mulia daripada Islam, baik ilmu maupun hukumnya. Melalui ajarannya, Islam berhasil menghasilkan generasi emas yang dapat memajukan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang luar biasa, Islamlah yang menjadi pengantar disiplin ilmu modern. Dengan berbagai bukti tersebut, lantas mengapa, kita sebagai umat Islam, justru meragukan ajaran agama yang luar biasa ini, dan lebih memilih ajaran, pemikiran, filsafat, dan ideologi lain sebagai landasan pemikiran dan hidup? []

________

Sumber:

Franz Magnis- Suseno. 2005. Pemikiran Karl Marx. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Franz-Magnis Suseno. 2006. Menalar Tuhan. Kanisius: Yogyakarta.

Hafidz Abdurrahman. 2015. Pengaruh Filsafat dan Ilmu Kalam Terhadap Kemunduran Dunia Islam. Al-Azhar Freshzone: Bogor.

Harry Hamersma. 1983. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Karl Marx dan Frederick Engels. 1962. Selected Works, (Theses of Feuerbach). Foreign Languages Publising House: Moscow.

Simon-Petrus L. Tjahjadi. 2006. Allah Para Filsuf: Hegel dan Feuerbach tentang Yang Absolut dalam I. Wibowo- B. Herry-Priyono (ed.), Sesudah Filsafat: Esai-Esai untuk Franz Magnis-Suseno. Kanisius: Yogyakarta.

Syamsuddin Ramadhan. 2001. Koreksi Total Sosialisme-Komunisme Marhaenisme. Al-Azhar Press: Bogor. 

Tan Malaka. 2018. Madilog. Narasi: Yogyakarta.

Theo Huijbres. 1977. Manusia Mencari Allah: Suatu Filsafat Ketuhanan. Kanisius: Yogyakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *