Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah

Share the idea

Kekhilafahan Turki Utsmani (Dinasti Ottoman) berdiri pasca kehancuran Turki Seljuk yang telah berkuasa selama kurang lebih 250 tahun (1055 – 1300 M). Turki Utsmani didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz (ughu) yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara Tiongkok, yang kemudian menyebar ke Turki, Persia, dan Irak. Mereka mulai mengenal dan memeluk Islam sekitar abad ke-9 dan 10, yaitu ketika menetap di Asia Tengah. Pasca meninggalnya Ertugrul yang kala itu membantu Kesultanan Seljuk melawan pasukan Byzantium, kedudukannya sebagai pemimpin digantikan oleh putranya, Utsman. 

Ketika Kesultanan Seljuk dikalahkan oleh bangsa Mongol dan terpecah menjadi kesultanan-kesultanan kecil, Utsman mulai membangun kekuatan dan memisahkan diri dari Kesultanan Seljuk sekaligus memproklamasikan berdirinya Kesultanan Utsmani.  Dengan demikian, putra Ertugrul inilah pendiri Kesultanan Utsmani yang sesungguhnya. Sebagai penguasa pertama, ia disebut sebagai Utsman I yang memerintah pada tahun 1290 M sampai 1326 M.

 Kepemimpinan Kesultanan Utsmani terdiri atas 5 periode. Periode pertama (1299 – 1402 M), ditandai dengan ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan timur yang dipimpin oleh Utsman I (1299 – 1326 M), Orkhan (1326 – 1359 M), Murad I (1359 – 1389 M), Bayazid (1389 – 1402 M). Periode kedua (1402 – 1566 M), ditandai dengan masa restorasi dan cepatnya pertumbuhan hingga ekspansi terbesar yang dipimpin oleh Muhammad I (1403 – 1421 M) sampai dengan Sulaiman I Al-Qanuni (1520 – 1566 M). Periode ketiga (1566 – 1699 M), ditandai dengan menurunnya kemampuan Utsmani untuk mempertahankan wilayahnya dan adanya kemunduran yang dipimpin oleh Salim II (1566 – 1699 M) sampai dengan Mustafa II (1695 – 1703 M). Periode keempat (1699 – 1838 M), ditandai dengan surutnya kekuatan Khilafah secara berangsur-angsur dan terpecahnya berbagai wilayah di tangan para penguasa wilayah sejak kepemimpinan Ahmad III (1703 – 1730 M) sampai dengan Mahmud II (1808 – 1839 M). Periode kelima (1839 – 1922 M), ditandai dengan kebangkitan kultural dan administrasi dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat, dari masa pemerintahan Sultan Abdul Majid I (1839 – 1861 M) sampai dengan Sultan Abdul Majid II (1922 – 1924 M).

Salah satu kemajuan Khilafah Utsmani yang layak mendapat perhatian lebih adalah pada sisi kemiliterannya. Mengutip tulisan Eugene Rogan dalam bukunya Dari Puncak Khilafah (Sejarah Arab-Islam Sejak Era Kejayaan Khilafah Utsmaniyah), dijelaskan bahwa pasukan Khilafah adalah pasukan berpengalaman yang berhasil memukul mundur pasukan Mamluk dan Bizantium. Pada 1453, Sultan Utsmaniyah ke-7 Muhammad II Al Fatih, berhasil mewujudkan sesuatu yang gagal dilakukan oleh semua Sultan sebelumnya, yaitu dengan menaklukkan Konstantinopel dan mengakhiri penaklukkan Kekaisaran Byzantium. Para penerus Muhammad II pun terus melanjutkan jejak para pendahulunya dengan terus memperluas wilayah Khilafah.

Masa kemunduran Utsmani mulai terasa pasca wafatnya Sulaiman I Al-Qanuni. Mengutip penjelasan Abdul Syukur Al-Azizi dalam bukunya Sejarah Terlengkap Peradaban Islam (Menulusuri Jejak-Jejak Agung Peradaban Islam di Barat dan Timur) dari Syafiq A. Mughani, terdapat 3 hal besar yang menghancurkan Khilafah, yaitu melemahnya sistem birokrasi dan kekuatan militer, kehancuran perekonomian, serta munculnya kekuatan baru di daratan Eropa yang diiringi dengan serangan balik terhadap Turki Utsmani. 

Ringkasnya, keruntuhan Khilafah disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah luasnya wilayah kekuasaan yang tidak sebanding dengan buruknya kepemimpinan dan sistem pemerintahan yang ditangani oleh orang-orang yang tidak cakap, hilangnya keadilan, merajalelanya korupsi, meningkatnya kriminalitas dan penyimpangan atas berbagai ajaran Islam. Sementara itu, yang menjadi faktor eksternal adalah timbulnya gerakan nasionalisme, berbagai pemberontakan dan separatisme, ketidakmampuan Khilafah mengejar kemajuan teknologi di Barat, yang disusul dengan kehancuran total atas kekalahan Utsmani pada Perang Dunia I.

Awal kekalahan Kekhilafahan Utsmani juga diperkuat dengan jatuhnya Baghdad, Sinai, dan Yerussalem. Mengutip penjelasan Eugene Rogan dalam bukunya The Fall Of The Khilafah (Perang Besar yang Meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah dan Mengubah Selamanya Wajah Timur Tengah) dijelaskan bahwa kekalahan telak Pasukan Utsmaniyah adalah ketika berada dalam Pertempuran Romani.

Sebanyak 1.500 tentara Khilafah tewas dan terluka, sedangkan 4.000 lainnya ditawan. Di sisi lain, kerugian Inggris hanya sekitar 200 tentara yang tewas dan 900 lainnya terluka. Walaupun Romani mewakili serangan terakhir Utsmaniyah atas posisi Inggris di Mesir, tentara Turki masih memiliki pasukan dan artileri untuk mempertahankan front Palestina. Kemudian, kemenangan Inggris atas Bagdad mendorong kabinet perang untuk menilai kembali strateginya di Mesir. Direbutnya kota perbatasan Rafah di Sinai pada Januari 1917, membuat Pasukan Kekhilafahan Utsmani semakin mengalami kekalahan.

Berbagai kekalahan tersebut semakin diperparah dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan Inggris. Pada akhirnya, Khilafah menyerahkan 3 kota dengan nilai simbolis yang besar: Mekkah, Baghdad, dan Yerusalem. Kekalahan ini – terutama terhadap kota suci Mekkah dan Yerusalem – memberikan pukulan telak pada semangat jihad umat Islam. Para perwira Inggris di Mesir dan India sudah tidak memiliki rasa takut terhadap umat Islam.

Pasca kemenangan Inggris atas wilayah Kut dan Gazam, pertahanan umat Islam berhasil ditembus hingga dipukul mundur. Pasukan Inggris di Palestina sekarang dapat berhubungan dengan pasukan Arab di bawah pimpinan keluarga Hashemite (Hasyimiyah) yang setelah pendudukan Aqabah, mengancam posisi Utsmaniyah di pedalaman Suriah. Pada akhir 1917, pihak Utsmaniyah belum kalah, tetapi ambisi Perang Besar mereka telah menyempit dari mencari kemenangan menjadi mempertahankan kelangsungan hidup negara.

Detik-detik runtuhnya Kekhilafahan Utsmani adalah ketika kekalahan dalam perang dunia menjadi bencana nasional. Pada 13 November 1918, armada sekutu melintasi ladang ranjau di Dardanella yang baru saja dibersihkan ke Istanbul hingga muncul kekalahan paling dahsyat sepanjang peradaban Islam. Pada akhirnya, front Utsmani terbukti memiliki pengaruh dan kontribusi yang jauh lebih besar dalam Perang dunia I dibandingkan dengan apa yang dibayangkan oleh berbagai pihak kala itu.

Kekalahan Blok Sentral atas perang tersebut membuat Blok Sekutu dapat membagi Khilafah menjadi berbagai wilayah kecil yang lemah. Adanya konflik Arab-Israel juga memperparah Kejatuhan Khilafah. Pembagian perbatasan Timur Tengah telah menjadi kontroversi sejak pertama dirancang. Satu abad telah berlalu, Timur Tengah masih bergejolak dan diperebutkan oleh para negara imperialis. Dengan berakhirnya Khilafah, sesungguhnya juga menandakan bahwa peradaban Barat dengan berbagai kejayaannya saat ini kelak akan mengalami keruntuhan. Insyaa Allah []

Sumber:

Al-Azizi, Abdul Syukur. 2017. Sejarah Terlengkap Peradaban Islam. Noktah: Yogyakarta.

Rogan, Eugene. 2016. The Fall Of The Khilafah: Perang Besar yang Meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah dan Mengubah Selamanya Wajah Timur Tengah. PT SERAMBI ILMU SEMESTA: Jakarta.

Rogan, Eugene. 2017. Dari Puncak Khilafah: Sejarah Arab-Islam Sejak Era Kejayaan Khilafah Utsmaniyah. PT SERAMBI ILMU SEMESTA: Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *