Beberapa Catatan Penting yang Harus Dipahami dalam Tragedi di Prancis

Share the idea

BAGI SEKULARISME, AGAMA MEMANG TAK ADA HARGANYA

Pasca Revolusi Prancis, sekularisme menyebar cepat dan memicu wilayah-wilayah lain di Eropa untuk mengadopsi ideologi serupa.[1] Dalam perkembangan selanjutnya, pada 1905 diterbitkanlah Undang-Undang yang melindungi sekularisme, sebagai pelindung kebebasan warga untuk menjalankan agama (dalam ranah pribadi) sekaligus mencegah masuknya doktrin-doktrin agama dalam institusi negara. Undang-undang ini diterbitkan sebagai penopang atas undang-undang lain yang melindungi hak untuk menistakan agama yang dikeluarkan pada 1881.[2] Jadi di Prancis, penistaan agama memang dilegalkan dan dilindungi oleh negara.

Bagi sekularisme, agama memang tak ada harganya. Ia hanya menjadi penghambat kemajuan dan kekayaan. Agama tak lagi menjadi tolak ukur kebenaran. Kita boleh saja beragama, namun jangan sekali-kali membawa wahyu yang dianggap penuh omong kosong itu ke dalam urusan bernegara.

Kejayaan yang pernah diraih oleh Khilafah Abbasiyah, Umayyah, Utsmaniyah, maupun Khulafaur Rasyidin dianggap hanya angin lalu saja. Ia dianggap tak lagi cocok dengan modernisme.

Sayangnya, dalam sebuah peradaban yang dibangun oleh kapitalisme, memang akan senantiasa bertentangan dengan Islam, termasuk juga Komunisme. Francis Fukuyama bahkan menyebut, bahwa apa yang telah dicapai oleh peradaban kapitalisme ini sebagai peradaban paling akhir (the end of history), “Yang kita saksikan sekarang bukan saja akhir dari Perang Dingin, atau berlalunya masa-masa sejarah pasca perang, melainkan akhir dari sejarah itu sendiri, yaitu akhir dari evolusi ideologi manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk pemerintahan manusia paling akhir”.[3]

Karena senantiasa bertentangan, maka Islam – yang tidak hanya berlaku sebagai agama ritual, melainkan juga sebagai ideologi – tentu akan senantiasa terpinggirkan. Dakwah, yang juga meliputi amar ma’ruf nahi munkar, juga dikebiri. Dalam sebuah dunia yang menjadikan sekularisme sebagai standar benar-salah, maka umat Islam pada akhirnya senantiasa berada dalam posisi yang serba salah. Jika ingin menerapkan Islam secara kaffah, maka berbagai label seperti radikal maupun teroris akan dikeluarkan demi menangkal kebangkitan ideologi yang seringkali disebut “kolot” ini. Anehnya, penyematan gelar-gelar itu memang hanya terjadi pada muslim. Padahal, jika menggunakan standar yang sama, peristiwa serupa tidak hanya dilakukan oleh umat Islam.

BENARKAH PERADABAN KAPITALISME ITU MANUSIAWI?

Tidak ada satu pun peradaban yang eksis tanpa pertumpahan darah. Bahkan sejak peristiwa Habil dan Qabil, manusia memang diprediksi akan menjadi makhluk yang senantiasa melakukan pertumpahan darah. Dan Islam, datang agar pertumpahan darah itu dilakukan dalam kondisi yang semestinya.

Misalnya, hukuman atas seorang pezina yang statusnya sudah menikah adalah rajam. Pelaku homoseksual (liwath), baik yang muhshan maupun ghairu muhshan, adalah dibunuh. Seorang muslim yang murtad, setelah diajak untuk kembali kepada Islam sebanyak 3 kali dan diberi peringatan, maka hukumannya adalah hukuman mati. Pun dengan seorang pembunuh, hukumannya adalah qishash. [4] Siapa saja yang menghina Rasul, ia dinyatakan kafir dan pelakunya mendapat hukuman mati.[5]

Jika dilihat dari kacamata sekularisme, hukum Islam memang senantiasa dianggap tidak manusiawi dan irasional. Padahal, selain memberikan jaminan atas kelangsungan hidup (sebagai buah diterapkannya hukum yang bertujuan untuk mencegah kejahatan, memberi efek jera, dan menebus dosa) [4], semua hal tersebut merupakan bagian dari tujuan penerapan syari’at Islam. Yaitu untuk menjaga agama, menjaga keturunan, menjaga kehormatan, menjaga akal, menjaga harta, menjaga jiwa, dan menjaga negara.[6]

Tak heran, jika dalam Islam, kemuliaan Allah dan Rasul-Nya, serta kehormatan agama dan umat Nabi-Nya, memang dijunjung tinggi. Maka, reaksi umat Islam atas tingkah pongah Charlie Hebdo pun dapat dipahami. Hal ini bukan karena Islam tidak mengajarkan cinta kasih atau toleransi. Bagi Islam, agama bukanlah sesuatu yang rendah derajatnya, hingga dengan mudah bisa dijadikan mainan dan olok-olokan.

Pemahaman atas maqashid syari’ah tersebut, tentu memudahkan kita dalam memahami berbagai peristiwa kontrofersial di masa Rasulullah. Misalnya, dalam peristiwa pengusiran Yahudi Bani Qainuqa’ dari Madinah.

Dikisahkan, seorang muslimah disingkap auratnya oleh seorang Yahudi tukang emas ketika sedang pergi ke pasar Bani Qainuqa’. Orang-orang Yahudi di sekitarnya, tertawa terbahak-bahak seraya menghinanya. Seorang muslim yang melihatnya, marah hingga menikam si tukang emas. Pembunuhan ini kemudian mengundang kemarahan orang-orang Yahudi yang berada di sana dan ramai-ramai mengeroyoknya hingga terbunuh. Hal ini memicu perselisihan antara umat Islam dan Yahudi Bani Qainuqa’. Akibat provokasi tersebut, Rasulullah memutuskan untuk mengepung Yahudi Bani Qainuqa’ dan menjatuhi hukuman mati atas mereka. Jika bukan karena bujukan Abdullah bin Ubay bin Salul, maka hukuman tersebut tidak akan diringankan menjadi sekedar pengusiran mereka dari Madinah.

Atau dalam peristiwa dijatuhkannya hukuman mati atas Yahudi Bani Quraizhah, sebagai akibat pengkhianatan atas perjanjian yang telah mereka sepakati dengan umat Islam sebelumnya. Dikisahkan, bahwa Yahudi Bani Quraizhah bersekongkol dengan orang-orang Quraisy untuk menyerang umat Islam dalam perang Ahzab. Bantuan mereka, selain dapat menambah jumlah pasukan sekutu, juga dapat membuka lebar alternatif jalan untuk memasuki kota Madinah.

Pengkhianatan ini tentu bukan peristiwa sepele. Karena jika umat Islam kalah dalam perang Khandaq, maka eksistensi Daulah Islam di Madinah juga terancam musnah.[7]

Adapun kehidupan damai selama 13 tahun di Mekkah, sebagaimana ketika kehormatan umat Islam direndahkan oleh berbagai hinaan maupun penyiksaan, atau ketika pribadi Rasulullah dihina baik oleh orang Yahudi maupun yang lainnya, tak bisa disamakan dengan kondisi ketika Rasulullah telah berpindah ke Madinah dan mempunyai entitas serta negara yang mampu mengangkat senjata. Peristiwa olok-olok yang dilakukan oleh penduduk Tha’if misalnya, yang bahkan Nabi menyebutnya sebagai hari yang lebih berat daripada kekalahan perang Uhud, juga tidak boleh dilepaskan dari peristiwa yang terjadi setelahnya: bahwa meski Rasulullah sebelumnya telah memaafkan olok-olok mereka, namun pada akhirnya juga melakukan pengepungan kepada Tha’if.[8]

Hal lain yang juga sering mengundang kritik, adalah bahwa Islam merupakan agama yang konon dibesarkan dengan darah, pedang, dan perang. Padahal, selain hanya untuk menghilangkan halangan fisik atas masuknya dakwah ke suatu wilayah, aturan dalam jihad sangatlah ketat.

Haram hukumnya membunuh rakyat sipil (non-militer), lansia, anak kecil yang belum baligh, wanita, serta penyandang disabilitas. Bahkan setelah pembebasan wilayah, selain bersikap toleran dan tak ada paksaan dalam beragama, umat Islam juga bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan warganya. Termasuk dengan kafir dzimmi yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan muslim sebagai warga negara.[9] Ketika halangan fisik itu hilang, maka pagelaran pasukan itu memang tidak diperlukan. Hal inilah yang terjadi terhadap Indonesia, yang bahkan menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.[10]

Maka, tidak bisa juga menyematkan bahwa Islam adalah agama yang kejam, hanya karena melegalkan pembunuhan dalam kasus tertentu. Jika menggunakan standar yang sama, lantas mengapa kita juga tidak menyematkan tuduhan serupa pada peradaban kapitalisme dan sekularisme yang dibangun dengan lebih brutal? Sebagaimana puluhan juta korban perang dunia pertama dan kedua, bom atom Hiroshima-Nagasaki, perang Vietnam, Bosnia, Irak, Afganistan, hingga Palestina? Apakah semua itu (yang tentu saja tak mengindahkan status mereka sebagai masyarakat sipil, lansia, wanita, maupun penyandang disabilitas) merupakan peristiwa yang disebabkan oleh muslim?

Kurangnya pemahaman atas konsep-konsep tersebut, tentu membuat bingung orang-orang yang belum mempelajari Islam lebih dalam. Tak sedikit pihak yang kemudian mencukupkan pengetahuan atas Islamnya hanya pada fakta yang terjadi di lapangan, sebagaimana yang terjadi atas stigma bahwa muslim adalah teroris, dan Islam adalah ajaran yang memicunya. Fenomena ini memang sebuah kewajaran yang terjadi di masa kini, sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam paragraf awal kitab Daulah Islam, “…Karena itu, sulit sekali bagi seorang muslim untuk memperoleh gambaran tentang Pemerintahan Islam yang mendekati fakta sebenarnya sehingga dapat disimpan dalam benaknya. Anda tidak akan mampu menggambarkan bentuk pemerintahan tersebut, kecuali dengan standar sistem demokrasi yang rusak yang anda saksikan, yang dipaksakan atas negeri-negeri Islam…” [7]

Dalam tingkatan yang lebih ekstrim, kebingungan ini akhirnya mengalihkan umat kepada agnostik, bahkan ateis. Sayangnya, standar yang digunakan ateis lebih tidak jelas lagi. Jika mereka menjadi ateis karena apatisme dan kekecawaan terhadap Tuhan dan agama, maka apa yang dilakukan oleh Charlie hebdo sebagai media ateis, justru menumbuhsuburkan chaos di kalangan umat manusia itu sendiri.[]

Sumber:

[1] Umar Abdullah. 2007. Kapitalisme: The Satanic Ideology. El-Moesa Press: Bogor.

[2] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-54630462

[3] Francis Fukuyama. 1992. The End of History and The Last Man. The Free Press: New York.

[4] Abdurrahman Al-Maliki dan Ahmad Ad-Daur. 2004. Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian dalam Islam. Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

[5] Qadhi Iyad. Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa.

[6] KH Hafidz Abdurrahman, MA. 2020. https://www.trenopini.com/2020/05/khilafah-menjaga-kekayaan-negara-dari.html

[7] Taqiyuddin an-Nabhani. 2002. Daulah Islam. HTI Press: Jakarta.

[8] Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji. 2011. Sirah Nabawiyah: Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw. Al Azhar Press: Bogor.

[9] Dr. Muhammad Khair Haekal. 2004. Jihad dan Perang Menurut Syariat Islam: Buku Kedua. Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

[10] Nur Fajarudin. 2019. Bagaimana Memahami Metode Dakwah Walisongo? https://www.instagram.com/p/BxR72_phq5A/?igshid=i9vjgnfgxni8

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *