Benarkah Agama Adalah Penyebab Utama Kekacauan?

Share the idea

Loyalitas dalam beragama merupakan satu hal yang harus dimiliki oleh setiap panganutnya.  Bagi seorang muslim yang taat, aqidah merupakan “ujung tombak” untuk menghilangkan berbagai kedzoliman yang ada di dunia. Sayangnya, seringkali “propoganda argumen” dibuat oleh berbagai kalangan yang memiliki kepentingan dan nafsu berkuasa.

Dalam beberapa hal, mereka “mencuci tangan” dengan menyalahkan agama sebagai faktor utama kekacauan yang ditimbulkan. Ketika Islam dihubungkan dengan jihad dan Khilafah, muncullah berbagai selentingan bahwa Islam adalah “agama teroris, radikalis, ekstrimis, dan intoleran.” Hal ini tentu berkebalikan dengan ajaran Islam, bahwa Islam selayaknya menjadi “rahmatan lil ‘aalamiin.”

Semenjak Rasulullah diutus, banyaknya perang yang terjadi selama 14 abad kejayaan Islam menimbulkan berbagai “steorotipe” bahwa Islam merupakan agama yang gila kekuasaan dan gila perang. Teori ini didukung oleh para aktivis Atheis seperti R Dawkins, C Hitchens, S Harris dan D Dannet yang lebih dikenal dengan sebutan, “4 penunggang kuda”.

Hitchen dengan tajam mengungkapkan dalam buku fenomenalnya “God is not Great“. Hitchen menggambarkan bahwa agama adalah sumber dorongan yang sangat besar terhadap timbulnya kekerasan sebagaimana yang ditunjukkan dalam berbagai catatan sejarah. Hitchens mencontohkan beberapa kasus, seperti perang Irak, kerusuhan di Lebanon, Yahudi vs Katolik, Islam vs Kristen, dan termasuk kasus 9/11 di Amerika Serikat. Hal ini menggambarkan seolah-olah agama menjadi faktor utama terjadinya berbagai kekerasan dan genosida, yang dilandasan atas dasar kecemburuan antar penganut agama.

Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Karen Amstrong di bukunya, “Fields of Blood“. Amstrong menyatakan “Klaim bahwa motivasi utama sebuah tindakan teroris adalah politis, mungkin tampak jelas. Tetapi tidak untuk mereka yang bersikeras menganggap bahwa tindakan kejahatan itu sekadar ‘tak berperasaan’. Banyak yang berpandangan demikian. Maka, tidak mengherankan, bahwa agama, yang mereka anggap sebagai kata lain dari irasionalitas, dianggap sebagai penyebab utamanya. Salah satu yang paling terkenal adalah Richard Dawkins, yang mengatakan bahwa “hanya keimanan terhadap agama yang memiliki kekuatan cukup besar untuk memotivasi kegilaan luar biasa pada orang yang semestinya waras dan santun”.

“ … tetapi, penyederhanaan berlebīhan yang berbahaya ini muncul dari salah paham tentang agama dan terorisme. Hal ini, tentu saja, merupakan ekspresi sekularis yang cukup akrab dengan bias modernitas, yang telah melabeli “agama” sebagai kekuatan jahat tak bernalar yang harus dikeluarkan dari politik bangsa-bangsa beradab.”

Dan lanjutnya, “Entah bagaimana, pandangan itu gagal dalam mempertimbangkan, bahwa salah satu prinsip paling penting semua tradisi agama besar di dunia adalah keharusan memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan. Hal ini tentu saja bukan untuk menyangkal bahwa agama sering terlibat dalam kekejaman teroris, melainkan terlalu mudah untuk menjadikannya kambing hitam dari pada mencoba melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia.”

Pernyataan serupa juga dituturkan oleh filsuf dan sejarawan, Patrick Boucheron dan Corey Robins. Dalam buku “The Exercise of Fear“, mereka menyatakan “Kekuatan politik terus memanfaatkan ketakutan, baik dengan menunjuk ancaman yang diangap berpotensi melemahkan kesatuan nasional, atau dengan memfokuskan perhatian penduduk pada kekuatan politik yang berpotensi mampu memecah semangat kebangsaan dan cara hidup kita,” dan juga, “Ketakutan adalah proyek politik yang berkembang melalui pembangunan tatanan, wacana ideologis dan tindakan kolektif.”

Maka jelaslah, bahwa berbagai ketakutan yang timbul di sekitar masyarakat bukanlah karena agama. Agama hanya dimunculkan sebagai “kambing hitam”, agar fokus masyarakat hilang dari “dalang sesungguhnya” di balik berbagai penderitaan yang menimpa masyarakat.

Ada sebuah teori yang menarik yang dikemukakan oleh Adian Husaini. “Viktimisasi Islam – Menjadikan Islam sebagai kambing hitam – pada seruan “War on Terrorism” pasca peristiwa 11 September yang digelorakan oleh Amerika Serikat, yang kemudian memunculkan “Global War” melawan Afghanistan, Iraq, Palestina, dan berbagai wilayah kaum muslimin lainnya, merupakan pengalihan dari masalah sebenarnya yang dihadapi pemerintahan AS. Politik ini tidak memberi kesempatan masyarakat AS untuk secara kritis menilai kegagalan atau kesuksesan pemerintahnya, sebab mereka senantiasa dijejali dengan berbagai informasi media-media yang mengisukan akan datangnya serangan teroris Islam. 

Banyak contoh dan fakta mengenai genosida yang melabeli agama sebagai “kambing hitam” dari semua serangan yang terjadi. Seperti Israel – Palestina (Mengambil tanah dan kekuasaan negara), Tiongkok – Uighur (Mineral tambang), Rohingya – Burma (Politik dan Ekonomi), Amerika – Iraq (WMD/Weapon of Mass Destruption – Senjata pemusnah massal) yang tidak terbukti sama sekali, serta kompensasi tambang minyak sebagai pengembalian modal atas tuduhan tersebut).

Sejarah pun mencatat, tidak pernah ditemukan cerita kebrutalan dan penindasan dari institusi keagamaan di dunia muslim, sebagaimana yang terlihat dari gereja-gereja Eropa. Prinsip toleransi yang ditawarkan Islam sungguh sangat jauh berbeda. Prinsip toleransi yang diajarkan Islam adalah membiarkan umat lain untuk beribadah dan berhari raya tanpa mengusik mereka.

Lucunya, mereka melabeli Islam sebagai agama pembantai karena terdapatnya korban di dalamnya. Dan yang lebih lucu, banyak umat Islam yang termakan propoganda peng-“Kambing Hitam“-an Islam, disebabkan minimnya budaya kajian dan literasi. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

Adian Husaini. 2004. Pragmatisme dalam Politik Zionis Israel. Penerbit Khairul Bayan. Jakarta.

Karen Amstrong. 2014. Fields of Blood: Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan. Penerbit Mizan. Bandung.

Patrick Boucheron dan Corey Robins. 2007. God is Not Great: How Religion Poisons Everything. Penerbit Banana. Depok.

Patrick Boucheron, Corey Robin, Renaud Payre. 2015. L’exercice de la peur. Usages politiques d’une émotion. Presses universitaires de Lyon, coll. Lyon.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *