Cadar, Celana Cingkrang, dan Revolusi Pakaian ala Mustafa Kemal Atatürk

Share the idea

Mazhar Müfit Kansu (Politisi Turki yang merupakan sahabat dekat Atatürk) menuliskan dalam catatannya tertanggal 7-8 Mei 1919 mengenai rencana busuk Mustafa Kemal jika ia menjadi penguasa Turki,

“Republik akan menjadi bentuk pemerintahan ini setelah kemenangan nanti. Dahulu aku pernah mengatakannya kepadamu ketika aku menjawab salah satu pertanyaanmu. Ini yang pertama. Kedua, akan diambil tindakan sewajarnya terhadap keluarga Sultan ketika tiba masanya yang sesuai. Ketiga, akan ditiadakan penggunaan cadar bagi wanita. Keempat, akan dihapuskan pemakaian peci dan kita akan memakai topi seperti bangsa-bangsa maju lainnya.”

Kala itu, topi khas Eropa (topi koboi) yang dijadikan pengganti atas peci dianggap sebagai simbol kekufuran dan sebuah tanda pembeda antara orang-orang Islam dan orang-orang kafir Eropa, bahkan ada yang menyamakannya dengan simbol salib. Dengan Turki yang saat itu masih menjadi representasi dari Khilafah, sangat wajar jika Mazhar Müfit sebagai sahabat dekat Mustafa Kemal bahkan mengatakan bahwa rencana itu mustahil terjadi.

Rencana ini tidak langsung dilakukan serentak kepada seluruh masyarakat. Awalnya, sosialisasi dilakukan kepada para pejabat terdekatnya, terutama ‘ulama-ulama’ pendukungnya sebagai representasi masyarakat.

Sebagaimana ketika Mustafa pulang ke Ankara dengan mengenakan topi koboi, para penyambutnya menggunakan topi yang serupa. Di antara para penyambut terdapat Rif’at Efendi, seorang Pemimpin Urusan Agama (Departemen Agama). Ia tidak memakai topi koboi, tetapi kepalanya dibiarkan terbuka. Artinya, ia juga telah meninggalkan peci dan melaksanakan instruksi dari sang diktator untuk meninggalkan penggunaan peci. Namun, ia masih canggung dan malu-malu sehingga tidak mengambil perintah Mustafa yang selanjutnya, yaitu menggunakan topi koboi. Meski demikian, Mustafa sangat senang dengan perkembangan yang ada sehingga ia mengajak Rif’at ke dalam mobil untuk duduk di sampingnya.

Hal ini seperti yang dituturkan dalam kesaksian Jawad Durusan Ughlu pada surat kabar Halakji edisi 10 November 1954, “Efendi, salah seorang Pemimpin Urusan Agama, telah memperlihatkan bentuk toleransi yang besar. Ia mencopot sorban dengan pecinya dan menyambut Ghazi dengan kepala terbuka. Mustafa Kemal sangat berbahagia dengan pemandangan ini, sampai ia membawanya ke mobil. Kemudian Mustafa Kemal memasuki kota dan di kepalanya mengenakan topi koboi, sedangkan Efendi berada di sampingnya tanpa penutup kepala. Bukan perkara mudah bagi seorang pemimpin seperti dirinya yang benar-benar memahami psikologi para penduduk dengan baik.”

Rencana yang didasarkan atas kebencian Mustafa Kemal kepada Islam ini disiarkan kepada umum pada 27 Agustus 1925. Masyarakat yang menganggap topi koboi sebagai sesuatu yang tabu pun terkejut. Falih Rıfkı Atay menuturkan, “Kami dikejutkan dengan siaran radio pada tanggal 27 Agustus yang menyiarkan orasi Atatürk tentang bagaimana ia menyebut topi dengan namanya yang jelas, tanpa ada usaha untuk memperdaya orang dan menyebut nama lain.”

Pelarangan penggunaan peci dan cadar ini kemudian memiliki “kekuatan hukum yang legal dan memaksa” setelah dimasukkan ke dalam undang-undang. Kontroversi merebak di tengah-tengah masyarakat, namun kediktatoran Atatürk yang menghalalkan segala cara –menangkap, memenjarakan, bahkan menghukum mati siapa saja yang melawan– membuat banyak tokoh agama enggan melawan dan berkomentar.

Beberapa kalangan yang takut dengan Atatürk memilih diam, dan tak sedikit yang membela dan menyebutkan bahwa penggunaan topi sebagai pengganti peci adalah sesuatu yang seharusnya tidak dipermasalahkan, karena tidak disebutkan secara jelas dan spesifik oleh nash syariat serta tidak berbahaya untuk diterapkan.

Revolusi pakaian yang dilakukan oleh Mustafa ini sesungguhnya sebuah pukulan yang sangat dahsyat kepada “fanatisme agama”, sebuah serangan yang sengaja diarahkan kepada aqidah Islam. Celakanya, langkah sekulerisasi yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Atatürk ini justru mendapat pujian dari Soekarno, yang disebut-sebut sebagai “antikekolotan” dan “antiekslesiastal”.

Pelarangan atas cadar dan celana cingkrang memang baru sebatas wacana. Namun, ketika kekuatan umat Islam semakin melemah, layaknya rencana Mustafa Kemal Pasha, tak ada yang menyangka bahwa ia justru kelak menjadi nyata. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

Dhabith Tarki Sabiq. 2008. Kamal Attaturk: Pengusung Sekulerisme dan Penghancur Khilafah Islamiah. Senayan Publishing: Jakarta.

Adian Husaini dan Nuim Hidayat. 2002. Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya. Gema Insani Press: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *