Dari Maroko Hingga Portugal: Mengungkap Kejayaan Islam yang Tersembunyi

Share the idea

Banyak di antara para pemeluk agamaku yang membaca syair dan kisah-kisah Arab, juga kitab para teolog dan filsuf pengikut Muhammad. Bukan untuk membantahnya, tetapi untuk belajar mengekspresikan diri dalam bahasa Arab dengan lebih benar dan fasih

Dari ribuan orang di antara kita, hampir tak ada seorang pun yang bisa menulis surat kepada temannya dengan bahasa Latin yang dapat diterima, tetapi tak terhitung yang bisa mengungkapkan diri dalam bahasa Arab dan menggubah puisi dalam bahasa itu dengan lebih fasih ketimbang orang-orang Arab sendiri.[1]

Alvaro. Uskup Kordoba abad ke-9. Dikutip dari buku “Penaklukan Muslim di Mata Bangsa Taklukan” karya Hussam ‘Itani (hlm 216).

Perhatikan gambar daftar Sultan dan Khalifah dari wangsa ‘Utsmaniyyah tersebut. Mulai dari masa Sultan Mahmud II (paling kiri dalam kotak kuning), pakaian para khalifah mulai menggunakan corak yang berbeda dibandingkan para sultan di masa-masa sebelumnya.

Selain menggunakan setelan yang terinspirasi Eropa, Sultan Mahmud II juga mengubah penggunaan serban para Sultan ‘Utsmani menjadi fez.

Penetapan penggunaan fez itu diilhami oleh pasukan maritim ‘Utsmani yang baru kembali dari daerah Maghribi (penyebutan awal Islam untuk daerah Barat/tempat matahari tenggelam yang saat ini meliputi negara Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mauritania, dan wilayah sengketa Sahara Barat).[2] Di daerah Maghribi inilah, kita akan dipertemukan dengan kota Fez, salah satu kota di Maroko yang kaya akan sejarah peradaban Islam.

Pada 1827, fez menjadi atribut resmi Asakir-i Mansure-i Muhammediye, pasukan baru yang dibentuk Sultan Mahmud II pasca pembubaran Janissari. Dua tahun kemudian, Sultan mewajibkan penggunaan fez untuk semua pejabat ‘Utsmani,[2] hingga akhirnya fez menjadi identitas yang melekat bagi kaum muslimin.

Al-Qawariyyin, Universitas pertama di dunia yang berlokasi di Fez, Maroko.

Kuatnya fez sebagai identitas kaum muslimin, bahkan menyebabkan Konsul ‘Utsmani terakhir di Batavia, yakni Hacı Aḥmet İbrahim Rasim Bey, mendapat perlakuan diskriminatif dari kondektur trem di Tanah Abang hanya karena ia memakai fez di kepalanya.[3] Buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” juga mengungkapkan. Bahwa ciri khas yang mencolok dan berani ini, bahkan dikomentari oleh Justus van Maurik, penulis Belanda yang hadir dalam sebuah pesta di Istana Gubernur Jenderal Van der Wijck, Buitenzorg (Bogor), 1896,

“Dari kejauhan, tampak fez merah sang konsul Turki laksana titik api yang menyala-nyala… (Als een vurig lichtend puntje vertoonde zich de rode fez van de Turkse consul in de verte en schitterend)”[4]

Maka tak heran, ketika Mustafa Kemal Ataturk berusaha menghapus segala keterikatan masyarakat Turki dengan peradaban Islam, maka fez adalah salah satu atribut yang dilarang penggunaannya.[5]

Pelarangan fez menyebabkan kita tak akan pernah melihat orang-orang Turki mengenakan atribut tersebut.

Upaya pemutusan generasi dari jejak peradaban Islam tersebut, tentu mengingatkan kita pada peristiwa besar yang terjadi di Andalusia, bumi kaum muslimin yang juga meliputi Spanyol dan Portugal saat ini. Negara-negara yang berada di Semenanjung Iberia itu, terhubung dengan muslim Berber di Maroko sebagai saudara seimannya. Bagaimana bisa?

Ketika kesatuan politik Andalusia pecah ke dalam berbagai negara yang saling bersaing hingga terjadi perang saudara, maka dimulailah periode Ta’ifa.

Hal ini justru menjadi penghubung antara kaum muslimin di Andalusia dengan saudara sesama muslim terdekatnya di Maroko, Afrika Utara.

Ketika Reconquista (penaklukan kembali kerajaan Kristen atas wilayah yang pernah ditaklukan muslim) di masa Ta’ifa telah mencapai Sevilla (1086 M), kelompok Murabitun (gerakan muslim Berber asal Maroko yang berusaha mengembalikan masyarakat agar lebih sejalan dengan Islam) dipanggil untuk ikut melawan Kristen atas nama persatuan Islam. Dalam beberapa kali operasinya, mereka berhasil menang.

Di bawah kepemimpinan Yusuf Ibnu Tasyfin, mereka berkembang pesat, menyatukan kembali sebagian besar negeri muslim di Iberia, dan membentuk dinasti yang dikenal sebagai Almuravid (Murabitun – artinya orang-orang yang berpegang teguh).

Ketika Murabitun dianggap sudah menyimpang dan terlena kekayaan peradaban di Andalusia, gerakan lain yang bernama Muwahhidun (berarti monoteis) muncul di Pegunungan Atlas yang menjulang di atas ibukota Murabitun, Marrakesh. Muwahhidun kemudian berhasil menundukkan Murabitun dan mengambil kepemimpinan muslim Berber atas nama Dinasti Almohad (penyebutan Spanyol untuk Muwahhidun).

The Moorish Castle, Portugal. Moor jamak digunakan untuk menyebut umat Islam yang berkuasa di Andalusia. Benteng yang dibangun sejak abad ke-8 ini, harus menyerah pada 1147 M akibat serangan Kristen pimpinan Afonso Henriques.[6]

Sayangnya, kepemimpinan kaum muslimin di Iberia harus berakhir pasca Kerajaan Spanyol dan Portugal berhasil dengan Reconquista nya. Granada sebagai kekuatan terakhir Islam di Iberia, akhirnya takluk juga.

Dalam perjalanan keluar Granada, Sultan Abu Abdullah Muhammad XII menoleh memandangi kota untuk terakhir kali dan mulai menangis. Sang ibu menegurnya sembari mengucapkan kalimat tersohor,

“Jangan menangis seperti wanita atas apa yang gagal kau pertahankan sebagai seorang lelaki.”[7]

Sebagai wilayah yang disebut Gharb al-Andalus (Algarve – Andalusia Barat)[8], jejak kejayaan ratusan tahun pemerintahan Islam di Portugal memang tak setenar Spanyol. Namun, sebagaimana besarnya pengaruh bahasa Arab yang disampaikan di awal, warisan Islam masih dapat ditemukan dalam berbagai hal: mulai dari pertanian, arsitektur, mosaik, trotoar calçada, seni, makanan, hingga budaya.

Adalberto Alves, cendekiawan Portugal yang menghabiskan setidaknya 45 tahun hidupnya untuk mencari pengaruh Islam di negara Cristiano Ronaldo mengungkapkan. Bahwa “ada 19 ribu kata-kata Portugis yang berasal dari bahasa Arab”.[9]

Igreja Matriz de Mértola, masjid di Portugal dari masa Dinasti Almohad (abad
ke-12) yang diubah menjadi gereja. Interiornya masih mempertahankan arsitektur masjidnya, sehingga kaum Kristen masih berdo’a menghadap Mekkah.[10]
Bagian dasar Hotel Convento de Graça di kota Tavira. Di bawah biara tua kota kuno itu, ditemukan jalan-jalan dan fondasi puluhan rumah yang dibangun lebih dari 700 tahun yang lalu oleh Muslim Portugal (gambar kiri).[11] Dari tahun ke tahun, di kota Silves senantiasa diadakan pameran kebudayaan abad pertengahan. Di antaranya, adalah pameran budaya Islam di Portugal (gambar kanan).[12]

Sumber dan Referensi Bacaan

[1] Hussam ‘Itani. 2019. Penaklukan Muslim di Mata Bangsa Taklukan. Alvabet: Jakarta.

[2] Donald Quataert. 1997. Clothing Laws, State, and Society in the Ottoman Empire, 1720-1829. International Journal of Middle East Studies. 29(3): 412. https://www.jstor.org/stable/164587?read-now=1&seq=10#page_scan_tab_contents

[3] Nicko Pandawa. 2021. Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda. Komunitas Literasi Islam: Bogor. Bisa dilihat di halaman 222

[4] halaman 143

[5] halaman 375.

[6] https://www.madaboutsintra.com/moorish_castle.html

[7] Berbagai penjabaran mengenai Dinasti Murabitun, Muwahhidun, maupun sepak terjang kaum muslimin di Andalusia hingga Granada, bisa dibaca di buku karya Firas Alkhateeb yang berjudul, “Lost Islamic History” (halaman 159-193). Diterbitkan pada 2016 oleh Penerbit Zahira di Jakarta.

[8] https://www.middleeasteye.net/fr/node/132106

[9] https://www.newarab.com/analysis/islamic-traces-portugals-past

[10] https://historia.id/agama/articles/sepuluh-masjid-yang-diubah-jadi-gereja-bagian-i-v29ed/page/5

[11] https://www.republika.co.id/berita/puf8ef313/jejak-warisan-islam-di-portugal

[12] https://www.portugalvisitor.com/silves/medieval-fair

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *