Era Matinya Kepakaran

Share the idea

Penulis : Andika Abu Nadzhifah

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, semakin membuka mata kita atas satu hal. Bahwa seorang pengemban dakwah harus ada yang terjun ke lapangan sebagai pakar. Terjun ke bidangnya sebagai ahli. Berkubang di belantara industri, litbang, ristek, pendidikan, medis, dan lain-lain.

Tidak bisa kemudian dikatakan bahwa pengemban dakwah cukup jadi pengusaha saja, jualan saja, supaya lebih banyak waktu untuk dakwah, katanya. Karena jadi pekerja terikat waktu, mengurangi keleluasaan dakwah.

Tidak bisa dikatakan seperti itu. Alasannya?

Coba lihat ketika ada isu baru di internet pada bidang tertentu. Yang paling reaksioner adalah yang tidak memiliki kepakaran atau minimal pengetahuan dasar pada bidang tersebut. Misal ketika isu Sinovac akan melakukan Uji Klinis Tahap 3 di Indonesia, yang paling reaksioner bukan para pengemban dakwah yang terlibat dalam bidang biologi dan kesehatan, bukan. Justru mereka yang kalau ditanya materi Biologi SMA saja masih kebingungan lah yang paling reaksioner. Sampai muncul narasi bodoh “jangan jadikan kami kelinci percobaan!” seakan-akan uji klinis itu semudah membuat gorengan yang jika kurang gurih tinggal ditambah mecin.

Sementara, para pengemban dakwah yang terlibat di bidang biologi dan kesehatan justru paling tidak reaksioner. Mereka mempelajari dulu seluk beluknya, dengan sabar, barulah memberikan pandangan adil terkait hal tersebut. Aspek sains tidak sembarangan dicampuradukkan dengan aspek politis. Bicara dengan ilmu, bukan dengan emosi yang dipicu ego yang tak terkendali. Analisisnya tidak terpisah dari realitas, karena paham betul apa yang dibicarakannya.

Demikian pula pada hal-hal lain seperti sektor energi, pendidikan, industri, ekonomi, dan sebagainya. Masalah vaksin, tarif listrik, pengelolaan SDA, subsidi, dan lain-lain. Pengemban dakwah yang berada di bidang tersebut tidak buru-buru melontarkan analisis, khususnya ketika info masih kabur. Mereka mungkin bisa segera menebak arahnya ke mana, memanfaatkan kecerdasan berpikir dan metode berpikir cepat ala Syekh an Nabhani (sur’atul badihah). Namun, mereka menahan diri dari berkomentar secara publik sebelum cukup ada kejelasan. Beda dengan orang yang tidak terlibat di bidangnya, gampang sekali melontarkan narasi dan wacana yang tidak dipikirkan matang-matang. Ujung-ujungnya malah keliru.

Para pengemban dakwah ini juga mampu menimbang fakta yang ada dengan dalil-dalil syariat secara lebih akurat. Mungkin mereka bukan orang yang paling pandai dalam bahasa Arab atau ilmu tafsir. Namun, mereka melihat fakta lebih jelas daripada orang-orang di luar bidangnya, sehingga dapat merumuskan ide dan pemikiran secara lebih detail dan gamblang. Narasi dipilih dengan tepat. Tidak semata-mata pemikiran bersifat normatif. Apalagi kalau sekadar normatif, keliru pula narasi yang dibangun. Sebagaimana yang sering kita temukan di artikel-artikel “ideologis” tapi ternyata cuma narasi normatif belaka.

Pengemban dakwah yang jadi Peneliti biarkan saja jadi Peneliti. Tidak usah disuruh-suruh keluar dari bidangnya hanya karena rezim Wakanda mulai berlagak represif dan dianggap “membatasi dakwah.” Tidak perlu juga menyuruh pengemban dakwah yang bekerja di industri untuk keluar dari industri tersebut lalu jualan saja. Tidak sopan, ngawur, malah bikin kacau.

Tiap-tiap pengemban dakwah memiliki karakter khusus yang cocok untuk kondisi khusus. Biarkan saja mereka bergerak sesuai perannya, tidak usah disamakan satu sama lain harus begini. Makanya sekalipun penulis pribadi anti-rokok dan berniat mengajukan kebijakan Khilafah Tanpa Tembakau pada Khalifah, penulis tidak mempersoalkan para pengemban dakwah dari kalangan masyarakat umum yang menggunakan rokok sebagai uslub dakwah pada kalangan tertentu. Tidak juga mengkritik acara ngaji di jalanan, karena itu memang diperlukan untuk mengontak kalangan tersebut.

Semua punya lahan masing-masing, meski kadang tak nampak jelas bagi yang tidak pernah terlibat di dalamnya. Apalagi dalam hal-hal strategis yang sangat diperlukan ketika Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah tegak kembali. Energi, pendidikan, kesehatan, industri, ekonomi, siapa yang akan menjadi tonggak di negara Khilafah kalau bukan para pengemban dakwah yang menceburkan diri di dalamnya? Apa rela berharap pada orang-orang sekular yang sekarang banyak mengisi sektor-sektor tersebut?[]

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *