Fatahillah, Sejarah Jakarta, dan Fase Awal Jihad Melawan VOC

Share the idea

Sejak awal, tantangan utama dakwah Islam di Nusantara adalah kekuatan Barat yang membawa misi Perang Salib hingga ke timur dunia. Pasca kemenangan besar melawan peradaban Islam di Spanyol, Kerajaan Portugal dan Kerajaan Spanyol (Castillia) berhasil membujuk Paus untuk meresmikan misi mereka untuk menyebarkan semangat Reconquista (penaklukkan kembali wilayah Spanyol dan Portugal) ke seluruh penjuru dunia. Pada 7 Juni 1494, Paus Alexander VI meresmikan Perjanjian Tordessilas yang intinya membagi bumi menjadi dua bagian dengan Tanjung Verde sebagai batasnya. Bagian barat kemudian menjadi bagian Spanyol, adapun timurnya menjadi jatah Portugis. Maka, dimulailah era penjelajah samudra dan aneksasi Barat mengancam Nusantara.

Pada tahun 1511 seba’da wafatnya Laksamana Hang Tuah, Panglima Hitam, dan dibunuhnya Bendahara Tun Muhatir, Armada Portugis yang dipimpin Alfonso D’Alburqueque berhasil menguasai Kesultanan Malaka dan memaksa Sultan Mahmud Syah memindahkan kekuasaannya ke Kampar (saat ini berada di Provinsi Riau). Tahun 1513, armada Demak yang dipimpin Fathi Yunus atau Pangeran Sabrang Lor gagal membebaskan Malaka. Walhasil, para Walisongo tahun 1521 kemudian menggalang armada gabungan Kesultanan Demak, Cirebon, Banten, Banjar, Gowa, dan Ternate untuk kembali menyerbu Malaka. Fathi Yunus syahid dan meskipun gagal membebaskan Malaka, penyerbuan ini melahirkan banyak mujahid dan mujahidah terkemuka. Tersebutlah nama Ratu Kalinyamat yang dijuluki Portugis sebagai “Rosa do Mar do Norte” atau Mawar Laut Utara yang membiayai seluruh ekspedisi tersebut. Juga Hang Katir yang terus berjihad di lautan bersama Hang Nadim dan nantinya menjadi bagian dari legenda bajak laut Selat Malaka yang terkemuka.

Namun, ekspansi Portugis ke Jawa gagal. Pada tahun 1527, pasukan gabungan Kesultanan Demak, Cirebon, dan Banten yang dipimpin Tubagus Pasai Fathullah atau Fatahillah mematahkan serangan Portugis di Sunda Kelapa. Terinspirasi oleh ucapan Muhammad Al Fatih ketika membebaskan Konstantinopel, Fatahillah mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta, yang berarti kemenangan gilang-gemilang atau fatha[n] mubina.

Silih berganti penjelajah Eropa datang ke Nusantara hingga muncullah Belanda sebagai kekuatan baru yang menyingkirkan Portugis, Spanyol dan Inggris. Di bawah bendera Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang merupakan sebuah perusahaan multinasional pertama di dunia, VOC mampu menganeksasi koloni-koloni hasil jajahan Portugis, Spanyol, Inggris, dan Prancis di kawasan Asia dan Afrika. Tentu saja, hal ini dilakukan melalui sokongan modal yang besar. VOC kemudian membungkus “kolonialisasi” dengan skema kerjasama ekonomi, sehingga tak sedikit kesultanan dan kerajaan di Nusantara yang terkecoh dan jatuh pada kekuasaan VOC.

VOC mulai merambah Nusantara dengan menancapkan kekuasaannya di kawasan Maluku. Ekspansi VOC di Jawa dimulai pada era Mataram Islam yang dipimpin oleh Panembahan Senapati (1587-1601). Tipu daya VOC yang disodorkan melalui kerjasama ekonomi hanya ditanggapi dingin oleh Mataram, disebabkan oleh aturan bahwa semua pedagang boleh berjual-beli di kawasan ini secara bebas. VOC tak kehabisan akal. Mereka kemudian melakukan bombardemen pelabuhan Jepara dan pembantaian penduduk Banda pada 4 Mei 1621, sehingga membuat Mataram yang kala itu dipimpin oleh pemimpin ketiganya, Panembahan Hanyakrakusuma kehilangan kesabaran.

Kesultanan Mataram kemudian menyerukan jihad melawan kekuatan asing yang sebelumnya telah digalang oleh Kesultanan Demak. Mataram menyiapkan pasukannya untuk menggempur Batavia yang merupakan pusat VOC. Batavia sendiri sebelumnya merupakan Kadipaten Jayakarta yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten. VOC merebut dan membumihanguskannya pada tahun 1619 di era kekuasaan Adipati Pangeran Jayawikarta dan membangunnya kembali dengan nama Batavia. Serangan pasukan Kesultanan Mataram pada 1628-1629 inilah yang kemudian menjadi awal dari sebuah perang panjang melawan Belanda. []

Sumber:

Giles Milton. 2015. Pulau Run. Pustaka Alvabet: Tangerang Selatan.

M. C. Ricklefs. 2013. “Mengislamkan Jawa”. Serambi: Jakarta Selatan.

M. C. Ricklefs. 2008. “Sejarah Indonesia Modern; 1200 – 2008”. Serambi: Jakarta Selatan.

 Terdapat istilah “Prenggi”,  yang dalam bahasa Jawa berarti “orang asing”. Istilah ini digunakan oleh masyarakat nusantara untuk menyebut para penjelajah Eropa. Kosakata ini berasal dari Bahasa Arab “Franji” yang diambil dari kata “Frank”, sebutan bagi balatentara Salib dari Eropa semasa Perang Salib.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *