Islam dalam Kehidupan Bernegara: Sebuah Pemaksaan Kaum Mayoritas?

Share the idea

Oleh: Dan Abdillah

“Bukan semata-mata lantaran umat Islam adalah golongan yang terbanyak di kalangan rakyat Indonesia seeluruhnya, kami mengajukan Islam sebagai dasar negara kita. Akan tetapi berdasar keyakinan kami, bahwa ajaran-ajaran Islam mempunyai sifat-sifat yang sempurna bagi kehidupan negara dan masyarakat dan dapat menjamin hidup keagamaan atas saling harga-menghargai…”

Begitulah petikan dari Mohammad Natsir, seorang yang namanya sudah tidak lagi asing di telinga, sebagai ulama, politisi, sekaligus pahlawan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang masyhur dengan julukkan legendaris, “sang arsitek berdirinya NKRI.”

Memang benar, bukan semata-mata karena Islam adalah agama dengan jumlah penganut paling banyak di Indonesia, sehingga seorang muslim menginginkan segala aspek kehidupan, hingga pada tataran kehidupan bernegara, semuanya berlandaskan pada syariat Islam. Jelas bukan demikian.

Di manapun seorang muslim ,di negeri yang penduduk mayoritasnya bukan beragama Islam sekalipun, seharusnya keinginan itu tetap tak berubah. Berangkat dari sebuah pemahaman bahwa di balik alam semesta, manusia, dan hidup, terdapat zat yang menciptakan segala sesuatu, yaitu Allah SWT Yang Maha Adil, Maha Tahu, dan Maha Kuasa atas segala seusatu, dan manusia  terikat dengan perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya, yang keterikatan ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya, di hari perhitungan kelak.

Islam adalah agama yang telah Allah SWT sempurnakan bagi umat manusia,  untuk mengatur segala problematika dalam kehidupannya. Sudah lazim diketahui bahwa Islam tentunya mengatur bagaimana cara shalat, zakat, puasa, dan haji. Islam memberitahukan kepada manusia adab tata krama dalam berpakaian, makan, minum, bahkan buang air.

Bahkan, hingga urusan politik dan pemerintahan, ekonomi dan sosial,  urusan kehidupan bermasayarakat dan bernegara, Islam mengatur semua itu. Maka jelas, keinginan agar syariat Islam itu mengatur segala aspek kehidupan, berangkat dari keyakinan bahwa Allah SWT telah menurunkan aturan (terkait perintah dan larangan) yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Yang mana Allah adalah zat pencipta Yang Maha Adil, Yang Maha Tahu, Yang Maha Kuasa, maka seorang muslim yakin bahwa syariat Islam yang telah Allah turunkan  tak lain adalah apa yang terbaik untuk kehidupan manusia, dan umat Islam yakin bahwa keterikatan kepada aturan (terkait perintah dan larangan) tersebut akan dipertanggungjawabkan di hari perhitungan kelak yang pasti terjadi, sehingga tidak ada pilihan lain untuk taat kepada aturan tersebut.

Oleh karenanya, ketika hidup di negeri yang di dalamnya umat Islam adalah kaum minoritas sekalipun, atau dalam kondisi bagaimanapun, keyakinan itu tidak akan berubah. Seorang muslim tetap yakin bahwa Islam adalah aturan kehidupan yang sempurna, ia mencakup segala aspek kehidupan manusia, dan syariat Islam adalah apa yang terbaik untuk mengatasi dan menyelesaikan segala problematika kehiduoan umat manusia.

Maka baik itu dalam urusan privat maupun publik, semua itu harus dikembalikan kepada bagaimana Islam itu mengaturnya. Maka tidak aneh rasannya, ketika seorang Francis Fukuyama, tokoh “cendekiawan” kenamaan Amerika, menyebut bahwa “(Islam) mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik urusan publik maupun privat”.

Dia sebutkan pula , “layaknya liberalisme dan komunisme (Islam) memiliki kode moralitas dan doktrin atas politik dan keadilan sosial. Seruan Islam itu universal, kepada semua umat manusia, tidak terbatas pada etnis dan kebangsaan..”

Hal ini mengonfirmasi bahwasanya Islam memang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, Fukuyama sebutkan baik urusan publik maupun privat. Sekaligus dia konfirmasi bahwa Islam itu universal, berlaku untuk seluruh umat manusia. Memang demikian adanya.

Islam tidak diturunkan untuk kaum tertentu, ras tertentu, bangsa tertentu, dan tidak terbatas pada zaman tertentu. Ia bersifat universal dan tak akan pernah usang oleh zaman.

Jika demikian, apakah aneh apabila seorang muslim yang memahami bahwa Allah SWT itu Maha Tahu, Maha Adil, sehngga dia yakin bahwa aturan Islam itu memang yang terbaik untuk kehidupan manusia, dan ingin agar kehidupan manusia ini berjalan dengan baik dengan taat kepada aturan yang telah Allah SWT turunkan?

Justru yang aneh apabila yang terjadi adalah yang sebaliknya.

Sumber:

An-Nabhani, T. (2013). Peraturan Hidup dalam Islam. Jakarta.

Debat Dasar Negara : Islam dan Pancasila Konstituante 1957. (t.thn.). Jakarta: Pustaka Panjimas.

Fukuyama, F. (1922). The End of History and The Last Man. New York: The Free Press.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *