Jihad dan Pertempuran Ideologis dalam Peristiwa 10 November

Share the idea

“Andaikata tidak ada kalimat takbir , entah dengan cara apa saya dapat mengobarkan perlawanan?”
– Bung Tomo

Setelah Agustus 1945, ada yang berbeda dari Indonesia. Perang Pasifik yang menjadi bagian Perang Dunia telah berakhir dengan ditandatanganinya kapitulasi perdamaian oleh Kaisar Jepang dan Jenderal Douglas McArthur yang mewakili pihak sekutu. Bala tentara Jepang di Indonesia sudah bersiap untuk kembali ke negerinya. Kekosongan kekuasaan dimanfaatkan oleh para pemimpin bangsa untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Di sisi lain, Belanda melalui walinya yaitu Inggris, menyatakan ingin kembali menguasai Indonesia. Maka Indonesia yang seharusnya diserahkan kepada bala tentara Amerika Serikat untuk memulihkan keadaan, diserahkan kepada Inggris yang membonceng pihak Belanda. Indonesia khususnya wilayah Jawa dan Sumatera memanas.

Bala tentara Inggris yang membonceng pihak Belanda tidak hanya bertindak untuk memulangkan bala tentara Jepang, namun berusaha memulihkan kembali kekuasaan Belanda. Mereka tidak menghormati pemerintah Republik Indonesia yang telah berdaulat. Mereka menganggap Republik Indonesia adalah pemberontak terhadap kekuasaan Kolonial Belanda.

Upaya ini mendapatkan penentangan keras dari pemimpin Republik dan rakyat Indonesia. Ancaman perang pun tak dapat dielakkan. Hal ini semakin runyam dengan fakta bahwa belum ada militer aktif yang menjadi pembela negara. Republik hanya dilindungi oleh BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan selebihnya adalah milisi-milisi atau laskar yang dibentuk secara sukarela oleh rakyat. Laskar terbesar adalah eks tentara PETA dan barisan Hizbullah-Sabilillah yang dibentuk sejak era pendudukan Jepang.

Masalah kemudian semakin besar ketika muncul pertanyaan, “apa yang dapat menyatukan dan menggerakkan mereka untuk membela tanah air secara gila-gilaan melawan bala tentara yang baru saja menenangkan Perang Dunia II?”

Inilah yang menginspirasi para ulama, selaku pemimpin de facto rakyat Indonesia. Sebagai negeri dengan mayoritas muslim dan telah membuktikan kesanggupannya melawan penjajah dalam waktu lama, maka jihad fii sabiilillah haruslah digaungkan kembali.

Para ulama menemukan momen semangat perjuangan ini di Surabaya. Masyarakat Surabaya yang kosmopolitan, bercorak pesisiran Jawa dan didominasi oleh kaum santri melakukan perlawanan terkeras sejak mendaratnya balatentara Inggris di pelabuhan Tanjung Perak. Peristiwa perobekan bendera Belanda di hotel Oranje di jalan Tunjungan semakin memanaskan keadaan.

Melihat kondisi yang semakin runyam dan genting, pada 21- 22 Oktober 1945 para ulama berkumpul di kantor Konsul NU di jalan Bubutan 6/2 Surabaya. Hari itu Resolusi Jihad terumuskan. Resolusi ini diteruskan pada Kongres Umat Islam di Yogyakarta pada 7 – 8 November 1945, menghasilkan “60 juta kaum muslimin di Indonesia yang siap berjihad fii sabiilillah, berperang di jalan Allah menentang tiap-tiap bentuk penjajahan”.

Kondisi Surabaya semakin genting, disebabkan ultimatum pihak Inggris yang mengancam membumihanguskan Surabaya apabila para pemimpin Republik dan seluruh pihak-pihak bersenjata di Surabaya tidak menyerah pada tanggal 10 November. Ultimatum tersebut adalah buntut dari tewasnya Brigjend. A.W.S.Mallaby yang terjebak tembak menembak di depan gedung Internatio di kawasan Jembatan Merah.

Menyadari bahwa tidak mungkin bagi rakyat Surabaya untuk menyerah kepada sekutu, bung Tomo melalui corong radio berpidato berapi-api membakar semangat arek-arek Surabaya. Takbir pun berkumandang di seantero Surabaya. Bendera jihad berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid dikibarkan. Target 10 hari menguasai Surabaya berubah menjadi pertempuran yang berlarut-larut selama kurang lebih 100 hari. Sejarah kemudian mencatat pertempuran Surabaya memiliki skala yang setara dengan pertempuran Stalingrad Rusia dan Dhien Bin Phu Vietnam.

Inilah pertempuran besar yang tidak hanya melibatkan dua kekuatan tempur, tapi benturan keras antara dua ideologi. Kapitalis-Kolonial di sisi Inggris-Belanda melawan Islam yang dimotori ulama, santri, serta sebagian besar arek-arek Surabaya dan sebagian unsur sosialisme-komunis yang dimotori oleh Pemuda Rakyat.

Akhirnya, front perang merembet ke seluruh penjuru Jawa dan Sumatera. Di selatan Jakarta, yaitu Bogor, Inggris menjumpai salah satu front pertempuran tersengit yang pernah mereka hadapi selama Perang Dunia II di Asia Tenggara. Di wilayah tersebut, bala tentara Inggris-Belanda yang ingin memulihkan keadaan di wilayah Jawa Barat menghadapi dua front tempur.

Dari arah kota Bogor hingga Ciampea mereka menghadapi Batalyon 0 Siliwangi yang dipimpin oleh KH Sholeh Iskandar. Pertempuran dahsyat terjadi di sepanjang jalur Bogor – Jasinga. Di wilayah Gunung Batu saja tercatat puluhan orang yang sebagian besar adalah ulama dan santri yang syahid dalam pertempuran.

Front Selatan lebih dahsyat lagi. Di kawasan berbukit-bukit sepanjang Bogor – Sukabumi – Cianjur, seluruh unsur pejuang di bawah komando Kol. Eddie Sukardi menyerang iring-iringan konvoi tentara Inggris yang hendak menuju ke Bandung. Serangan ini tak berhenti meski Inggris mengerahkan pesawat tempur untuk melakukan bombardemen. Para pejuang bahkan mampu mengepung dan menghancurkan seluruh kekuatan Inggris di dalam kota Sukabumi.

Dalam arsip Inggris, front Bogor – Sukabumi ini diberi daftar “War” bukan “Battle” karena kedahsyatannya. Beberapa sejarawan Inggris bahkan menyamakan kekalahan Inggris di front ini sama dengan pembantaian tentara Inggris di celah Hindukush oleh mujahidin Afganistan di akhir abad ke-19.

Mengapa bangsa ini yang baru beberapa bulan bebas dari penjajahan berani menantang balatentara pemenang Perang Dunia II? Jawabannya adalah kuatnya nilai-nilai keislaman di dalam dada rakyat Indonesia.

Seruan jihad dan keterlibatan langsung para ulama memimpin pertempuran menjadi pemantik semangat rakyat untuk melawan sebuah kekuatan tempur terbesar pada masa itu. Perlawanan tersebut tidak sekedar dipicu oleh semangat membela Indonesia, namun juga dipicu oleh spirit Islam yang sejak awal mengajarkan pemeluknya untuk melawan segala bentuk kedzaliman dan penjajahan, utamanya yang mengancam negeri kaum muslimin.

Maka, perlawanan rakyat Indonesia mampu keluar dari ranah bangsanya dan menjadi perlawanan umum bagi seluruh kaum muslimin sedunia. Perlawanan ini mampu menggugah bangsa Arab yang telah merdeka (dimotori oleh Mesir dan Palestina) untuk memberikan bantuan dana dan senjata serta pengakuan kedaulatan kepada Indonesia.

Perlawanan ini juga menggugah tentara muslim di dinas ketentaraan Inggris. Di front Jawa dan Sumatera tercatat banyak kasus desersi yang dilakukan oleh tentara muslim India dalam bala tentara Inggris. Angka yang tercatat kurang lebih 3.000 orang melakukan desersi dan memilih bergabung dengan para pejuang Indonesia.

Inilah perlawanan besar pertama dari kaum muslimin terhadap penjajahan Barat yang terjadi pasca Perang Dunia II. Perlawanan di Indonesia ini bahkan menjadi inspirasi bagi perlawanan-perlawanan kaum muslimin di negeri-negeri lain seperti Afghanistan, Palestina, hingga Suriah. Sebuah nyala api yang tak pernah padam hingga tegaknya kalimah tauhid di muka bumi, yang dipantik dari Kepulauan Nusantara.[]

Sumber:

Jenderal Besar A.H. Nasution, 1953. Pokok-pokok Gerilya. Narasi: Jakarta.

Edi Sudarjat, 2017. Bogor Masa Revolusi 1945 – 1950. Komunitas Bambu. Depok.

Hendi Jo, 2017. Zaman Perang. MataPadi: Yogyakarta.

P.K. Ojong, 1957. Perang Pasifik. Kompas: Jakarta.

Rizki Lesus, 2017. Perjuangan yang Dilupakan. Pro-U Media: Yogyakarta.

Suratmin, 2017. Perjuangan Laskar Hizbullah dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945. MataPadi: Yogyakarta.

Yoseph Iskandar dkk, 2017. Perang Konvoi Sukabumi – Cianjur 1945 – 1946. MataPadi: Yogyakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *