Kapankah Peradaban Islam di Jawa Mencapai Puncak Kejayaannya?

Share the idea

Nama kecilnya Mas Rangsang dan ketika remaja dikenal sebagai Raden Mas Jatmika, putra Panembahan Hanyakrawati dengan Ratu Dyah Banawati. Kakeknya adalah Panembahan Senapati, pemimpin pertama Mataram Islam. Ketika menduduki tahta Mataram pada tahun 1613, ia bergelar Panembahan Agung Hanyakrakusuma (Panembahan kurang lebih berarti Kesatria Agung). Setelah merengkuh Madura pada tahun 1624, gelarnya berubah menjadi Susuhunan Agung Hanyakrakusuma (Susuhunan digunakan sebagai penyebutan Sultan tertinggi –  kemuliaan ini semakin bertambah dengan tingginya tsaqofah keislaman Sultan Agung).

Nantinya setelah utusan yang beliau kirim ke Kekhilafahan Utsmani tiba di Kedaton Karta (Komplek di dalam Keraton sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan) pada tahun 1641, ia mendapat gelar dari Sultan Murad IV sang pemimpin Khilafah Utsmani, sebagai Sultan Abdullah Muhammad Maulana Al Jawi Al Matarami dan sejarah mencatatnya dengan nama Sultan Agung.

Masa kekuasaan beliau yang membentang sejak tahun 1613 hingga 1645 mungkin hanya dikenal dengan penyerbuannya ke Batavia. Namun, sesungguhnya kontribusi pemerintahannya jauh lebih baik dari yang disebutkan, karena inilah masa puncak Islamisasi Jawa sekaligus dimulainya bibit Deislamisasi Jawa yang dibawa oleh kolonial Belanda.

Wangsa Mataram sendiri nasabnya bisa dirunut mulai dari Ki Ageng Pamanahan sampai kepada Ki Ageng Selo (murid Sunan Kalijaga) dan terus hingga ke Raden Bondan Kejawan, putra Brawijaya V dan saudara beda ibu dengan Raden Fatah. Raden Bondan Kejawan beribu seorang putri Wandan, nama lain dari Pulau Banda di era Majapahit.

Era Sultan Agung adalah era perluasan kekuasaan Mataram. Menguasai hampir sebagian besar Jawa, mulai dari Cirebon hingga Ukur (Bandung) di barat hingga Madura, Surabaya, Pasuruan dan seluruh wilayah Bang Wetan. Kuasa Mataram pun meliputi Palembang, Sukadana dan Banjar. Mataram juga menjalin persekutuan dengan Aceh, Gowa-Tallo, dan Ternate dalam menghadapi tekanan VOC. Tak lupa dikirimnya utusan kepada Kekhilafahan Utsmani di masa Sultan Murad IV yang disambut oleh syarif Makkah sebagai perwakilan Khilafah, Zaid ibn Muhsin Al-Hasyimi.

Sultan Agung juga menggubah budaya. Selain memperkenalkan adab melalui konsep bahasa bertingkat pada bahasa Jawa dan Sunda, juga mengenalkan bunyi vokal antara a dan o yang dipengaruhi oleh bahasa Arab pada bahasa Jawa. Mengubah penanggalan Jawa yang sebelumnya berorientasi Hindu-Budha (syamsiyah – berdasarkan matahari) menjadi berorientasi pada penanggalan hijrah (lunar – qomariyah – berdasarkan bulan). Mengenalkan pranata mangsa (sistem penanggalan pertanian) untuk pengaturan pertanian dan ekonomi, menggagas tata kota, tata busana, serta tata boga agar lekat dengan Islam. Ia juga menggubah tari Beksan Lawung yang terinspirasi dari tari perang Habasyah yang dipentaskan di era Rasulullah. Tak lupa menginisiasi pendidikan Islam hingga tingkat desa sehingga Islam benar-benar menjiwai masyarakat Mataram.

Pada era tersebut Islam terpancar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Hal tersebut dapat dilihat dalam 3 aspek. Pertama, bahwa Islam adalah identitas utama di Jawa. Menjadi orang Jawa maka mutlak harus memeluk Islam. Kedua, Pelaksanaan lima rukun Islam secara mutlak. Para penjelajah Eropa mencatat praktik ini dilaksanakan secara tegas oleh masyarakat Jawa. Bahkan sultan-sultan di Jawa secara rutin memberangkatkan anggota kesultanan untuk berhaji. Ketiga, meleburnya nilai spiritual Jawa dalam konsep aqidah Islam. Orang-orang Jawa sebelumnya mengenal berbagai macam dewa yang dianggap menjaga gunung-gemunung, lautan, hingga punden desa. Masuknya Islam tidak menghilangkan kepercayaan ini dan hanya mengalihkan bahwa apabila sebelumnya kekuatan adikodrati tersebut dianggap sebagai sesembahan namun setelahnya dianggap sebagai sesama ciptaan Allah sebagaimana manusia, tumbuhan, binatang, dan alam semesta, sehingga manusia harus menciptakan hubungan harmonis dengan sesamanya. Era inilah tercatat sebagai puncak dari peradaban Islam di Jawa, era ketika Islam menjadi jiwa Jawa. []

Sumber:

M. C. Ricklefs. Mengislamkan Jawa. 2013; Serambi.

Moeflich Hasbullah. Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara. 2017; Kencana.

Widji Saksono. Mengislamkan Tanah Jawa; Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. 1995; Mizan.

.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *