Kegagalan Komunisme Sebagai Sistem Hidup Terbaik Manusia

Share the idea

7 November 1917, senantiasa diingat sebagai hari Revolusi Bolshevik. Kekecewaan yang terus menerus menumpuk sebagai akumulasi ratusan tahun kepemimpinan Tsar yang penuh ketidakadilan, penindasan, ketimpangan, serta kekacauan menyebabkan masyarakat tidak tahan untuk melakukan sebuah perubahan besar.

Aspirasi publik yang menginginkan terciptanya sistem politik yang lebih demokratis serta masyarakat sosialis tanpa kelas kemudian semakin terstruktur, sistematis, dan masif di bawah arahan Lenin dan Trotsky sebagai motor pergerakan melalui partai komunisnya. Seluruh massa yang tertindas disatukan oleh satu tujuan bersama untuk melawan rezim monarki yang diktator.

Hasilnya, terbentuklah kesadaran umum di tengah-tengah masyarakat bahwa sudah saatnya negara berubah. Pembicaraan politik pun terjadi di mana-mana, bahkan kaum proletar sebagai kalangan kelas bawah tak segan mengungkapkan gagasannya.

Setelah dikecewakan oleh pemerintahan kaum kadet yang beraliran liberal sebagai pengganti pemerintahan Tsar, serta kepemimpinan kaum mensheviks yang lebih moderat, akhirnya kaum bolshevik yang berhaluan lebih radikal bersama dengan buruh dan para petani berhasil menjungkal kepemimpinan para tuan tanah dan kaum kapitalis yang penuh penindasan. Jika Karl Marx adalah penggagas utama komunisme, maka Lenin adalah orang pertama yang menerapkannya dalam sistem bernegara.

Soviet pun terus tumbuh hingga berhasil menyatukan berbagai negara dan menjadi kekuatan baru dunia bersaing dengan rival utamanya, kapitalisme.

Namun, cita-cita komunisme ternyata hanya slogan. Bentuk negara yang disebut-sebut sebagai contoh terbaik hasil kerja kaum kiri itu justru menimbulkan bencana baru. Uni Soviet ternyata menjadi kapitalis birokrat dengan berbagai kekacauan yang menyebabkan puluhan juta jiwa meregang nyawa.

Hasil panen petani yang dipaksa diberikan kepada negara menyebabkan pemogokan kerja petani secara masal. Pemberontakan buruh dan petani akibat ketidakadilan komunisme menyebabkan perang saudara sepanjang 1918-1922 dengan korban mencapai 5 juta orang. Di bawah kepemimpinan Stalin, penerus takhta kepemimpinan Lenin ini justru meningkatkan kekejaman hingga menimbulkan 20 juta korban jiwa selama masa pemerintahannya. Krisis yang terus berlanjut ini menyebabkan 5 juta orang tewas akibat bencana kelaparan selama 3 tahun.

Krisis ini terus terjadi hingga menyebabkan mogoknya sistem produksi dan parahnya inflasi ekonomi. Kegagalan ini justru semakin mendekatkan Uni Soviet pada kapitalisme. Pada akhirnya, model terbaik komunisme ini hancur dalam usia yang bahkan tak mampu mencapai seratus tahun.

Runtuhnya Uni Soviet menggambaran kegagalan masif komunisme dalam mengatur hidup manusia. Hal ini semakin menguatkan bukti, bahwa aturan hidup tidaklah layak bersumber dari akal manusia yang terbatas. Dengan sederet bukti ini, masihkah kita ingin mencoba-coba tata aturan yang lahir dari tangan-tangan manusia? Jika jawabannya adalah ya, maka sungguh kita hanya mengulang kehancuran yang terus berulang dari generasi ke generasi. Padahal, Allah sebagai pencipta telah menurunkan seperangkat aturan terbaik bagi manusia. Lantas, mengapa kita masih menolaknya? []

Sumber:

Andi Rafael Saputra. 2014. Dari Uni Soviet Hingga Rusia. Palapa: Yogyakarta.

Franz Magnis Suseno. 2016. Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Vladimir Lenin Sampai Tan Malaka. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Leon Trotsky. 1936. The Revolution Betrayed.

Simon Sebag Montefiore. 2012. Stalin Muda. Alvabet: Tangerang Selatan.

https://www.militanindonesia.org/teori-4/sejarah/revolusi-oktober/8634-mengenal-revolusi-rusia-1917.html
https://www.marxists.org/indonesia/archive/trotsky/1924-PelajaranRevolusiOktober.htm
Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *