Kekejaman PKI dalam Pemberontakan Madiun 1948

Share the idea

Orang-orang komunis pasti tidak bisa menemukan unsur “candu” dalam Islam, sebagaimana agama-agama yang secara dogmatis-marxisme dipandang sebagai “candu” rakyat.

Islam adalah “madu” yang sekalipun berupa cairan kental, lengket, mungkin ada yang berwarna kehitam-hitaman, sehingga sepintas menyerupai “candu”, namun Islam obat penawar hati, rahmat, serta petunjuk bagi umat manusia.”

KH Saifuddin Zuhri,Menteri Agama terakhir Orde Lama.

Pasca kepulangan Musso dari Uni Soviet, kader-kader komunis segera melakukan manuver untuk memuluskan misi pendirian Republik Soviet di Indonesia. Tiga partai yang beraliran Marxisme-Leninisme, yaitu Partai Buruh Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, dan PKI ilegal (PKI pasca kegagalan pemberontakan 1926) disatukan dalam satu wadah, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI).

PKI inilah yang kelak memimpin pemberontakan atas nama Revolusi Proletariat dalam sebuah pemerintahan front nasional, dengan daerah-daerah strategis di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai target utama wilayah yang harus dikuasai.

“Itu memang kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen! (Saya datang di sini untuk menciptakan ketertiban)”. Ucap Musso kala bercengkrama dengan kawan lamanya, Sukarno.

Kendali atas kota-kota tersebut dilakukan dengan berbagai macam cara, mulai dari agitasi, demonstrasi, perusakan, pelucutan senjata, perampokan, pembakaran, penculikan, hingga pembunuhan. Bermodalkan basis massa yang sangat kuat, meliputi serikat-serikat buruh dan penduduk desa yang sangat peka dengan janji reformasi agraria, amukan mereka tidak hanya menyasar pemerintah resmi, tapi juga masyarakat dan ulama.

Robert Jay (seorang Antropolog Amerika) menggambarkan kekejaman PKI,

“Mereka menggunakan kekuatan mereka untuk melenyapkan bukan saja para pejabat pemerintah pusat, tapi juga penduduk biasa yang merasa dendam. Mereka itu terutama ulama-ulama tradisionalis, santri, dan lain-lain yang dikenal kesolehan mereka kepada Islam. Mereka ini ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang, kadang-kadang ketiga-tiganya sekaligus. Masjid dan madrasah dibakar, rumah-rumah pemeluknya dirampok dan dirusak.”

Penculikan dan pembunuhan terhadap para ulama juga dilakukan dengan ancaman pembakaran pesantren-pesantren agar mereka menyerahkan diri, sebagaimana yang terjadi di Pesantren Takeran dan Pesantren Tremas. Ada ulama yang menyerahkan diri ke PKI untuk menghindari terjadinya korban yang lebih besar di antara para pengikutnya, dan ada juga yang menyamar agar tidak dikenali identitas keulamaannya.

Seorang narasumber bercerita kepada Robert Jay tentang kekejaman PKI kepada para ulama dan santri, “Soalnya begini Mas. Kami mulai mendengar kabar itu dari Madiun. Ulama-ulama dan santri-santri mereka dikunci di dalam madrasah, lalu madrasah-madrasah itu dibakar. Mereka itu tidak berbuat apa-apa, orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik. Hanya karena mereka muslim saja. Orang dibawa ke alun-alun kota, di depan masjid, kemudian kepala mereka dipancung. Parit-parit di sepanjang jalan itu digenangi darah setinggi tiga sentimeter, mas.”

Sin Po (surat kabar Tionghoa pertama di Indonesia) pada 1 Oktober 1948 mengungkap alasan PKI yang juga mengincar nyawa para ulama dan santri,

“Pembrontakan communist itoe ditoedjukan kerna kaoem FDR-PKI merasa tidak soeka pada Masjoemi dan banjak sekali orang-orang jang Masjoemi di daerah jang didoedoekin oleh communits telah diboenoe dengan kekedjaman.”

Menanggapi kekejaman itu, pemerintah bertindak cepat. Walhasil, pada tanggal 19 Desember 1948, Amir Sjarifuddin dengan pemimpin PKI lainnya, yakni Soeripno, Maroeto Daroesman, Sardjono, Oei Gee Hwat, Arjono, Djoko Seodjono, Soekarno, Katamhadi, Ronomarsono, dan D. Mangkoe menjalani hukuman mati di Desa Ngalihan, Karanganyar Solo atas perintah Gubernur Militer Solo, Kolonel Gatot Subroto.

Sebelum dieksekusi, Amir dan kawan-kawannya menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu PKI, Internasionale. Selesai bernyanyi Amir menyeru, “Bersatulah kaum buruh seluruh dunia! Aku mati untukmu!”

Kemudian mulailah mereka ditembak satu per satu. Revolusi memakan anaknya sendiri.

M. Natsir berkomentar atas pertempuran di Madiun yang berjalan 12 hari lamanya itu, “Noda paling besar dalam hikayat Indonesia. Kekejaman orang-orang yang telah iles-iles (injak-injak) moral dan undang-undang. Tapi kebenaran dan keadilan akan menang lantaran pengorbanan dari orang-orang yang binasa dalam ini perjuangan. Saat dari direbut pulangnya, Madiun tidak nanti bisa dilupakan.”

Begitulah sepenggal kisah kekejaman PKI. Para ulama pun tak lepas dari amuk semangat revolusioner mereka yang berjuang tanpa dasar ketaatan kepada Allah. Alih-alih berjuang meninggikan derajat para kaum buruh dan proletar, yang terjadi justru sebaliknya: perusakan, kekejaman dan pembantaian. Itulah buah perjuangan yang bertumpu hanya pada akal yang dibisiki hawa nafsu syaithan.[]

Sumber:

Beggy Rizkiansyah, dkk. 2017. Dari Kata Menjadi Senjata : Konfrontasi Partai Komunis Indonesia dengan Umat Islam. Penerbit Jurnalis Islam Bersatu (JITU). Jakarta.

Harry A. Poeze. 2011. Madiun 1948: PKI Bergerak. Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *