Kemuliaan Umat Islam Dalam Negara Khilafah

Share the idea

Kapan peradaban Islam mencapai zaman keemasannya, memang sangat tergantung dari ukuran yang kita pakai.

Kalau ukurannya adalah jumlah muttaqin dan mujahidin per kapita, mungkin zaman paling emas adalah zaman Rasul.

Peta dunia muslim berdasarkan persentase populasi. Update 14 Juni 2020. Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Muslim_world_map.png

Inilah peta kekuasaan Islam di masa Daulah Islam Madinah (Rasulullah), Khulafa’ur-Rasyidin, dan Khilafah Umayyah. Terjadilah era gencarnya futuhat dan permanennya hasil futuhat. Islam, benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Bukan sekedar rahmatan lil ‘Arab.


Peta kekuasaan Daulah Islam Madinah hingga Khilafah Bani Umayyah. Sumber: https://commons.princeton.edu/mg/age-of-the-caliphs/

Kalau ukurannya adalah luasnya kekuasaan, kuatnya pengaruh, banyaknya karya ilmu, teknologi, dan seni. Maka itu semua sudah tercapai sejak abad ke-2 H. Itulah abad pertama Khilafah ‘Abbasiyyah.


Ilustrasi Baghdad kuno, kota melingkar (Round City of Baghdad). Sumber: https://www.ancient-origins.net/ancient-places-asia/round-city-baghdad-0011898
Dan gambar buku 1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization. Third Edition. National Geographic Books.

Di saat ini pulalah, Islam juga disegani oleh kekuatan-kekuatan besar dunia. Khalifah Harun al-Rasyid misalnya, berhasil mempermalukan Nikephoros I (Naqfur), sang penguasa Bizantium, dalam pertempuran di Krasos, Turki (Battle of Krasos).

Sebabnya, Nikephoros dengan jumawa nekat mengirim surat kepada Khalifah, agar ia mengembalikan jizyah yang diberikan oleh Irene of Athens, sang penguasa sebelumnya. Ia menulis,

Dari Nikephoros Kaisar Romawi 

Kepada Harun Raja Arab

“Sesungguhnya ratu sebelumku memposisikanmu sebagai garuda raksasa, sedangkan ia memposisikan dirinya sebagai seekor elang. Maka ia pun mengirimkan kepadamu hartanya dalam jumlah banyak. Itu disebabkan kelemahan dan kebodohannya sebagai wanita.

Jika kau telah membaca suratku ini, maka kembalikan semua hartanya yang telah kau terima dan tebuslah dirimu. Kalau tidak, pedang di antara kami dan engkau.”

Usai membaca surat itu, betapa merah muka Khalifah karena amarah, hingga tidak ada seorang pun yang berani memandang wajah dan berbicara dengannya.

Bagaimana tidak, surat itu tak lain adalah sebuah penghinaan dan penginjak-injakan harga diri Islam dan kaum Muslimin. Khalifah lantas menulis surat balasan singkat untuk Nikephoros,

Bismillahirrahmanirrahim

“Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mu’minin

Untuk Nikephoros, anjing Romawi

Aku telah membaca suratmu dengan jelas, hai anak wanita kafir. Adapun jawabannya adalah apa yang akan kau lihat sendiri, bukan apa yang kau dengar.”

Khalifah benar-benar mewujudkan kalimat “apa yang akan kau lihat sendiri, bukan apa yang kau dengar” melalui pengiriman ratusan ribu pasukan Muslim yang siap mati untuk berjihad di jalan Allah.

Hasilnya? Bizantium kalah telak dan Nikephoros meminta damai kepada Khalifah Harun ar-Rasyid dan ‘menjilat ludahnya sendiri’ dengan bersedia membayar jizyah tahunan yang lebih besar dibanding Ratu Irene,

Kisah tentang Khilafah, tentu tak berhenti sampai di situ. Di masa akhir ‘Abbasiyyah dan masa awal ketika Utsmaniyyah beralih menjadi Khilafah (abad ke-16 M), itulah era ketika dakwah dan jihad di Nusantara terjadi sangat masif.

Tak hanya atmosfer jihad. Bahkan, Nusantara juga merasakan transfer teknologi militer Khilafah.

Hasil dari peradaban ribuan tahun inilah, yang kemudian mengundang decak kagum banyak pihak. Termasuk dari orang-orang Barat sendiri.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Pangeran Charles dalam pidatonya pada 1993,

“Jika ada banyak kesalahpahaman di Barat tentang Islam, ada juga banyak ketidaktahuan tentang hutang budaya dan peradaban kita sendiri kepada dunia Islam. Itu adalah kegagalan, yang berasal, menurutku, dari kekangan sejarah, yang telah kita warisi. Dunia Islam abad pertengahan, dari Asia Tengah hingga pantai Atlantik, adalah dunia tempat para cendekiawan berkembang pesat. Tetapi karena kita cenderung melihat Islam sebagai musuh Barat, sebagai budaya asing, masyarakat, dan sistem kepercayaan, kita cenderung mengabaikan atau menghapus relevansinya yang besar dengan sejarah kita sendiri.”

Dengan Islam yang sama, mereka tampakkan keagungan.

Dengan Islam yang sama, apa yang kita tampakkan?

Dapatkan gambaran kondisi politik umat Islam di masa kolonialisme dan menjelang runtuhnya Khilafah ‘Utsmaniyyah dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”,hasil penelitian Nicko Pandawa yang dibukukan. Terdapat 891 catatan kaki yang melengkapi hasil penelitiannya.

Untuk pembelian, klik link berikut http://bit.ly/BukuKLI1

Selamat membaca!

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *