Ketika Agama dan Ulama Menjadi Musuh Negara

Share the idea

Saat ini, yang menjadi masalah utama bagi agama Islam adalah berdirinya para thaghut yang selalu melakukan perlawanan terhadap ketuhanan Allah dan merampas kekuasaan-Nya, kemudian diberikan otoritas untuk menetapkan peraturan berupa undang-undang…

Sayyid Qutb, dalam kitabnya yang berjudul, “Tafsir fi Zhilalil Qur’an”, juz III, halaman 1216-1217.

Malam itu seorang syekh dibawa menemuinya, untuk men-talqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

Syekh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah la ilaha illallah…”

Sayyid Qutb hanya tersenyum, seraya berkata,

“Sampai juga engkau wahai syekh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Katahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat la ilaha illallah, sementara engkau mencari makan dengan la ilaha illallah.”

Kegagalan tersebut membuat seorang perwira tinggi berjalan perlahan menghadap Sayyid Qutb. Dengan kuasanya, ia memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Dengan bibir yang bergetar, perwira tersebut memulai bujuk rayunya,

Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita (Gamal Abdul Nasher) yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga anda dan seluruh teman-teman anda akan diampuni..”

Perwira itu segera mengelurakan secarik kertas dari saku bajunya serta sebuah pulpen,

Tulislah saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

Sayyid Qutb pun menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Simpul senyum tersungging di bibirnya. Dengan sangat berwibawa, beliau berkata,

“Tidak tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan yang fana ini dengan akhirat yang abadi”.

Sang perwira terhenyak. Dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, dengan sangat terpaksa ia berkata,

“Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Sayyid Qutb pun berucap dengan tenang, “Selamat datang kematian di jalan Allah… Sungguh Allah Mahabesar!”.

Begitulah sejatinya sebagai seorang Muslim. Tiada kompromi kepada kedzaliman. Bersabar dan serta kokoh menegakkan kebenaran meski nyawa menjadi taruhan.

Semoga Allah senantiasa memberkahi orang-orang yang senantiasa menolak diam dan bersabar dalam cobaan. Semoga kita semua tergolong dalam orang-orang seperti itu. Aamiin…

“Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashiir”

Sumber:

Dikutip dari kumpulan kisah : “Mereka yang kembali kepada Allah” karya Muhammad Abdul Aziz Al Musnad. Penerjemah : Dr. Muhammad Amin Taufiq. Courtesy : Al Firdaws English Forum. Sebuah pengantar yang tertulis pada buku, “Ma’alim Fi Ath Thariq” (2009), Sayyid Quthb. Penerbit Darul Uswah.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *