Ketika Penjajah Belanda Memasukkan Nilai-Nilai Sekularisme ke Nusantara

Share the idea

Masuknya Islam ke Nusantara merupakan sebuah fenomena menarik yang selalu layak untuk ditelaah. Sepanjang sejarah peradaban Islam, Nusantara (khususnya Jawa) merupakan wilayah yang diislamkan tanpa pagelaran pasukan. Strategi yang dilakukan oleh para pengemban dakwahnya, di kemudian hari memberikan kesan yang demikian kuat dan melekat, hingga hanya dakwah Rasulullah dan Para Sahabat saja yang mengalahkan kesuksesan dakwah Walisongo.

Salah satu bentuk kecintaan atas sang Nabi, Indonesia memiliki tradisi membaca Al Barzanji dan Maulidud Diba’.  Mengapa setiap pembacaan Al Barzanji atau Maulidud Diba’ ada sholawat yang dibaca sambil berdiri? Karena sholawat itu berkaitan dengan peristiwa hijrah, sehingga kita seakan-akan disetting sebagai bagian masyarakat Madinah yang menyambut Rasulullah.

Namun, keluhuran budaya yang telah mengalami Islamisasi ini rusak dengan datangnya penjajah. Di Jawa, pasca kekalahan Pangeran Diponegoro, Belanda berkuasa penuh namun mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar. Untuk mengatasi hal ini Belanda melaksanakan program Tanam Paksa. Untuk menyukseskan Tanam Paksa, Belanda memberi iming-iming kedudukan kepada para bupati. Bangsawan lokal ini memiliki kedudukan baru sebagai priyayi yang langsung tunduk di bawah penguasa Belanda.

Perubahan konsep kekuasaan ini juga mempengaruhi alam pikiran orang Jawa. Para Priyayi melihat bahwa kedaulatan Islam telah kalah dan beralih pada keadaulatan kaum kafir Belanda. Sikap inferior ini kemudian digunakan oleh Belanda untuk merusak tatanan budaya di Jawa. Para ulama dan santri dijauhkan dari para priyayi dan rakyat kecil. Jauh dari pengaruh ulama dan santri, menyebabkan para priyayi jatuh pada pendidikan ala Barat.

Belanda memasukkan nilai-nilai sekular Barat dan mitos-mitos kemegahan Jawa di era sebelum Islam. Program ini menyebabkan lahirnya sikap antipati terhadap Islam di kalangan priyayi Jawa. Rakyat kecil yang menderita akibat tekanan Tanam Paksa dan dijauhkan dari para ulama, seperti anak ayam kehilangan induk. Mereka pada akhirnya “dirawat” oleh para pendeta melalui program Missi dan Zending, yang didukung penuh oleh penguasa kolonial. Andai lepas dari pengaruh gereja, rakyat kecil di Jawa akhirnya jatuh ke tangan pelukan aktivis Sosialis-Komunis.

Para ulama dan santri sendiri yang dijauhkan dari kraton dan perdesaan, pada akhirnya fokus menjalin hubungan dengan gerakan pan Islamisme. Hubungan ini semakin membuat ulama dan santri dibenci oleh pemerintah kolonial dan semakin menjauhkan mereka dari simpul kekuasaan dan massa di Jawa. Para ulama dan santri meskipun terbuka wawasan internasionalnya, tapi kadung tercabut dari akar budayanya dan semakin sulit memahami gerak laku dinamis masyarakat.

Semua program ini dijalankan dengan sungguh-sungguh oleh penguasa kolonial, bahkan didukung para intelektual seperti Snouck Hurgronje hingga Clifford Geertz. Meskipun terkesan lambat dan lembut, efek dari gerakan ini terasa hingga hari ini. Menjadi sebuah tantangan bagi pengemban dakwah agar sedikit melirik pada bidang budaya dan sastra.

Generasi berganti generasi. Sejarah berulang dengan pola yang sama dan pelaku yang berbeda.

Selalu ada pihak yang memilih untuk mengikuti jalan kebenaran, dan selalu ada pihak yang memilih menjadi musuh abadi ajaran Tuhan.

Jika risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah risalah akhir zaman

Maka barisan mana yang harus kita pilih sebagai jalan perjuangan?

Sumber :

Irfan Afifi. 2019. Saya, Jawa, dan Islam. Penerbit Pocer dan Tanda Baca: Yogyakarta.

Kuntowijoyo. 2001. Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Mizan: Bandung. 

MC. Ricklefs. 2013. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang. Penerbit Serambi: Jakarta.

Taufik Ismail. 1998. Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Yayasan Ananda: Jakarta.

Widji Saksono. 1996. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Mizan: Bandung.

Share the idea

One thought on “Ketika Penjajah Belanda Memasukkan Nilai-Nilai Sekularisme ke Nusantara

  • 15 June 2021 at 07:00
    Permalink

    Okey!! tulisan yang bagus. Senang membacanya. Salam kenal ya. Terimakasih juga apabila mengunjungi blog saya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *