Ketika Sultan Muhammad Al Fatih Memukul Anaknya

Share the idea

Seorang pemimpin sudah selayaknya bersikap tegas melaksanakan hukum dan aturan syariah, karena sejatinya ia adalah pelaksana dan pemelihara hukum Allah, bukan pembuat hukum yang baru. Kesadaran bahwa kepemimpinannya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah inilah yang menjadikan sosok Muhammad Al-Fatih tegas dalam melaksanakan hukum, bahkan kepada anaknya sendiri.

Salah seorang putra Sultan Muhammad Al-Fatih pernah melakukan kerusakan di Edirne. Hakim yang bertugas kala itu mengutus seseorang untuk melarang perbuatan tersebut, namun putra Sultan tak mau berhenti. Maka sang hakim turun tangan dan berangkat untuk mencegah perbuatannya. Tak disangka, putra Sultan justru memukul hakim dengan pukulan yang sangat keras.

Tatkala Sultan mendengar perbuatan putranya, ia marah besar dan memerintahkan agar putranya mendapat hukuman mati karena telah berani melecehkan orang yang bertugas melaksanakan syariat. Perbuatannya dianggap sebagai sebuah bentuk penghinaan terhadap syariat Allah.

Beberapa menteri pun meminta Sultan untuk meringankan hukumannya. Namun, Sultan dengan tegas menolaknya. Para menteri pun segera mendatangi Maula Muhyiddin Muhammad untuk menyelesaikan perkara ini. Pada awalnya, Sultan juga menolak saran dari Sang Maula. Maula Muhyiddin kemudian berkata,

“Sesungguhnya hakim ini, dalam kedudukan sebagai hakim, saat dia menghukum dalam keadaan marah, maka ia tak berhak duduk sebagai hakim. Maka, tatkala dipukul oleh seseorang, tidak berarti orang itu telah melecehkan syariah hingga ia berhak untuk dibunuh.”

Sultan pun diam. Setelah itu, putranya didatangkan ke Istanbul untuk menghadap Sultan dan mencium tangannya sebagai ungkapan terima kasih karena mendapat ampunan. Saat itulah, Sultan mengambil satu tongkat yang besar dan ia pukulkan dengan pukulan yang sangat keras, hingga membuat putranya jatuh sakit selama empat bulan. Orang-orang mengobatinya hingga ia sembuh. Kelak, putra Sultan ini menjadi salah satu menteri Sultan Bayazid II. Sang Putra Sultan tersebut bernama Daud Pasya.

Daud tek pernah melupakan kejadian luar biasa itu. Bukan kemarahan dan dendam yang muncul, melainkan rasa syukur dan terima kasih. Ia pun mendoakan ayahnya sembari mengatakan,

“Sesungguhnya kembalinya saya pada kebenaran ini, tak lebih karena pukulan Sultan.” []

Sumber :

Alwi Alatas. 2005. Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel. Zikrul: Jakarta.

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *