Kisah Harun Ar-Rasyid Meladeni Tantangan Raja Eropa

Share the idea

Baghdad, 802 M.

The most powerfull state on the world. Itulah Khilafah Bani Abbasiyah ketika dipimpin Khalifah Harun ar-Rasyid (786-809). Kekuatan kaum Muslim benar-benar gemilang di bawah kepemimpinan beliau. Sampai-sampai negara-negara lain di seluruh penjuru dunia pun tunduk, segan, dan menaruh hormat yang tinggi kepada Khilafah, termasuk Imperium Romawi.

Saat itu, Romawi dipimpin oleh seorang Ratu yang bernama Irene of Athens (752-803 M). Suatu hari, Khalifah Harun ar-Rasyid melancarkan sebuah jihad untuk menaklukkan Romawi agar hambatan dakwah di sana menghilang. Berlangsunglah pertempuran yang seru di Anatolia, Turki. Kekuatan kaum Muslim yang luar biasa ini pun akhirnya dapat mengalahkan pasukan Romawi. Setelah itu, Ratu Irene meminta damai dan memutuskan untuk membayar Jizyah (pajak) sebanyak 70.000-90.000 dinar setiap tahun kepada Khilafah. Ratu Irene tetap setia membayar Jizyah setahun sekali sampai ia wafat.

Ketika Ratu Irene wafat pada 803 M, maka tahkta kedudukan Kaisar Romawi Byzantium digantikan oleh Nikephoros I (Naqfur). Ia merasa percaya diri karena didukung berbagai pihak. Akhirnya dengan jumawa ia nekat untuk mengirimkan surat kepada Khalifah Harun ar-Rasyid agar mengembalikan harta Jizyah yang sudah diberikan Ratu Irene sebelumnya. Ia menulis;

Dari Nikephoros Kaisar Romawi 

Kepada Harun Raja Arab 

“Sesungguhnya ratu sebelum saya memposisikan anda sebagai garuda raksasa, sedangkan ia memposisikan dirinya sebagai seekor elang. Maka ia pun mengirimkan kepada anda hartanya dalam jumlah banyak. Itu dikarenakan kelemahan dan kebodohannya sebagai wanita.

Jika anda telah membaca suratku ini, maka kembalikan semua hartanya yang telah anda terima dan tebuslah dirimu. Kalau tidak, pedang di antara kami dan anda.”

Sampailah surat tersebut di tangan Sang Khalifah. Ketika selesai membaca surat itu, betapa merah muka beliau karena amarah, hingga tidak ada seorang pun yang berani memandang wajahnya atau berbicara dengannya. Bagaimana tidak, surat itu tidak lain adalah sebuah penghinaan dan penginjak-injakan harga diri Islam dan kaum Muslim. Khalifah Harun lantas menulis surat balasan yang singkat untuk Nikephoros;

 Bismillahirrahmanirrahim

“Dari Harun arRasyid, Amirul Mu’minin

Untuk Nikephoros, anjing Romawi

Aku telah membaca suratmu dengan jelas, hai anak wanita kafir. Adapun jawabannya adalah apa yang akan kaulihat sendiri, bukan apa yang kau dengar.”

“apa yang akan kau lihat sendiri, bukan apa yang kau dengar”, kalimat itu benar-benar direalisasikan oleh Khalifah Harun, yaitu dengan dikirimnya surat tersebut kepada Nikephoros I disertai ‘paket bonus’, yaitu ratusan ribu pasukan Muslim yang siap mati untuk berjihad di jalan Allah memerangi Romawi.

Pecahlah pertempuran di Krasos, Turki. Hasil peperangan benar-benar membuat malu Nikephoros. Pasukannya kalah telak di hadapan pasukan Muslimin. Akhirnya, Nikephoros meminta damai kepada Khalifah Harun ar-Rasyid dan ‘menjilat ludahnya sendiri’ dengan bersedia membayar jizyah tahunan yang lebih besar dibanding Ratu Irene sebelumnya, yakni sebesar 300.000 dinar.

Di saat kaum Muslim masih memegang teguh syariat Islam, menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman dalam segala aspek termasuk dalam hal negara dan politik luar negeri, maka inilah hasilnya. Harga diri Islam dan kaum Muslim benar-benar menjadi sangat tinggi. Negara-negara lain tidak berani untuk mengganggu kehidupan kaum Muslim. Di samping ada pemimpin yang kuat, sistem negaranya pun juga kuat. Kehormatan, kekuatan, harga diri, pengakuan, dan kemuliaan benar-benar dirasakan oleh kaum Muslim dibawah naungan the most powerfull state on the world, Khilafah.

 Dan 1.217 tahun kemudian, hingga hari ini kita masih melihat umat Islam dalam kondisi terpuruk yang dengan mudah menjadi “santapan” musuh-musuh Islam. Semoga semakin banyak bagian umat Islam yang sadar dan mau berjuang dalam rangka mengembalikan kembali kejayaan Islam. Wallahu a’lam. []

Sumber :

Imam As-Suyuthi. 2015. Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Khalifah. Qisthi Press: Jakarta.

Jonathan Black. 2018. Sejarah Dunia yang Disembunyikan. Alvabet: Jakarta.

Share the idea