Kita Sudah Tahu Hasil Akhir Bukit Algoritma Bahkan Sebelum Dimulai

Share the idea

Jika ditilik dari tujuan awalnya, keinginan memajukan teknologi bangsa dengan menjadikan Silicon Valley sebagai modelnya, memang terlihat sangat mulia. Selain menjadi pusat pengembangan sumberdaya manusia, Bukit Algoritma digadang-gadang mampu menjadi pusat pengembangan industri dan teknologi 4.0. Termasuk di antaranya adalah pengembangan kecerdasan buatan, robotik, drone, hingga panel surya. Walhasil, perusahaan canggih seperti Facebook dan Google ala Indonesia, diharapkan dapat hadir dan membantu berkembangnya teknologi informasi di negeri ini.

Sayangnya, beberapa fakta di baliknya membuat kita harus berpikir ulang mengenai tujuan dari proyek besar ini. Pertama, sebagaimana yang diungkap oleh politisi PDIP Budiman Sudjatmiko, anggaran proyek yang bisa mencapai triliunan ini bebas dari APBN dan banyak ditarik dari investor asing.[1]

Meski ini juga menjadi auto-kritik bahwa berbagai anggaran dan proyek yang dikelola negara memang rawan dikorupsi dan acap berakhir dengan kekecewaan, kepemilikan swasta dari Bukit Algoritma hanya akan mengulang permainan bisnis yang sudah-sudah: menguntungkan pemilik modal dan tentu saja, juga menguntungkan pejabat yang memberi izin atasnya.

Hal ini diperparah dengan fakta kedua: bahwa, pengeluaran riset Indonesia dalam 20 tahun terakhir sangatlah minim. Sepanjang tahun 2000-2013, belanja keperluan riset dan pengembangan hanya setara 0.07% dari PDB. Pada 2016, angkanya naik hanya menjadi 0.08% dari PDB (sekitar 24.9 triliun rupiah). Angka ini bahkan timpang dengan Filipina (0.14%), Thailand (0.48%), Malaysia (1.26%), Singapura (2.18%), dan tentu saja juga berbeda jauh dengan Amerika yang menjadi induk dari Silicon Valley (2.7% dari PDB pada 2013 dan 2.83% PDB pada 2018). Meski jumlah anggaran terus naik di tahun-tahun berikutnya, namun pada 2019, pengeluaran dana riset Indonesia masih menjadi salah satu yang terendah di Asia.[2,3]

Maka, kita tak terkejut ketika jumlah periset Indonesia juga menjadi salah satu yang terendah, yaitu hanya 244 per 1 juta penduduk (2017-2018). Angka ini sangatlah jauh jika dibandingkan dengan sesama negara Asia lainnya, seperti Pakistan 487, India 408, Vietnam 895, Thailand 2.003, Malaysia 2.656, Tiongkok 3.068, dan Singapura 7.976.[3]

Dengan kondisi negeri ini yang tak betul-betul peduli dengan jumlah periset dan anggaran risetnya, apalagi ekosistem pendukung dari cetak biru Bukit Algoritma yang belum jelas (seperti universitas dan ilmuwan), maka hasil akhir dari proyek Bukit Algoritma ini tak jauh dari komersialisasi teknologi. Dengan angka-angka riset itu, Indonesia menempati urutan 56 dari 63 negara di dunia yang baru menerapkan teknologi digital.[4] Nyatanya, teknologi di negeri ini memang hanya berkutat pada wilayah dan kalangan tertentu. Masyarakat yang tidak mampu mengakses hanya akan menjadi penonton dalam gegap gempita industri 4.0.

Pemerintah tentu saja menikmati hal ini, karena asupan investasi di bidang teknologi terjamin mengalir. Para investor bahkan juga memperoleh insentif pajak, karena wilayah Bukit Algoritma yang termasuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) memang akan mendapatkan fasilitas itu berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 12/2020 dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 237/2020. Salah satunya pemangkasan tarif PPh Badan selama 10-20 tahun tergantung nilai investasi yang dijanjikan.[3]

Jika tidak ada perubahan atas berbagai ketidakjelasan ini, kita tentu dapat mengetahui bagaimana hasil akhir dari proyek Bukit Algoritma ini. Bahkan, jika pertanyan-pertanyaan seputar ekosistem pendukung itu terjawab dan dibuka untuk publik, nampaknya kita memang tak bisa berharap banyak. Karena sistem APBN dan investasi kita, bagaimanapun memang belum berubah.[]

Tulisan Ini berangkat dari program Bincang Asik (BISIK) tematik bersama sahabat KLI Nisa yang diadakan setiap Selasa malam. Nantikan BISIK selanjutnya yang senanitasa membahas berbagai tema menarik lainnya.

Yang ingin join grup telegramnya, silahkan join di bit.ly/teleKLINisa

Sumber dan Referensi Bacaan:

[1]https://bisnis.tempo.co/read/1453093/pembangunan-bukit-algoritma-silicon-valley-diklaim-tak-gunakan-apbn

[2]https://katadata.co.id/timpublikasikatadata/analisisdata/5e9a57af91ca6/restorasi-ekosistem-riset-lahirkan-indonesia-unggul

[3]https://tirto.id/riset-ri-serba-tertinggal-prospek-bukit-algoritma-meragukan-gcij

[4]https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200422205421-185-496307/riset-daya-saing-digital-ri-kalah-jauh-dengan-malaysia

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *