Kondisi Nusantara Sebelum Datangnya Penjajah Eropa

Share the idea

Dalam manga One Piece, kisah pertarungan seru terlama, terumit, dan tersulit pertama bagi Straw Hat Pirates (SHP) adalah Arc Alabasta. Untuk pertama kalinya mereka menghadapi komplotan musuh kuat yang didukung organisasi rapi dan aneka konspirasi, yakni Crocodile sang Shichibukai dan kroni-kroninya.

Shichibukai sendiri (yang secara harfiah berarti “Tujuh Panglima Perang Laut”) mirip dengan konsep Privateer, yakni angkatan laut sewaan yang bertempur demi harta rampasan yang digunakan oleh armada laut negeri-negeri Eropa Barat seperti Inggris, Prancis, dan Belanda dalam menghadapi armada kerajaan Spanyol dan Portugal yang kuat dalam perang kolonial. Privateer nantinya melambungkan era bajak laut dan melahirkan organisasi semacam EIC dan VOC. Tapi tulisan ini tidak akan membahas Shichibukai secara panjang kali lebar.

Kita akan fokus pada Alabasta, sebuah negeri aman sentosa yang dipimpin oleh Raja Nefertari Cobra. Meski berbentuk monarki dengan alam bergurun, negeri ini mampu memakmurkan rakyatnya. Hingga datanglah Baroque Works, perusahaan yang menjalin kerjasama dengan kerajaan dan punya visi membawa kemakmuran pada seluruh rakyat Alabasta.

Namun ada udang di balik rempeyek, Crocodile selaku pimpinan Baroque Works menyimpan misi jahat untuk menguasai seluruh negeri Alabasta. Diciptakanlah chaos berupa penggarongan air (ya, air merupakan hajat hidup paling utama di Alabasta) dan hoax terkait penguasa. Terjadilah pemberontakan dan kekacauan hingga kedatangan SHP (kelompok bajak laut Luffy dkk) yang membuka topeng siapa sebenarnya dalang kekacauan di Alabasta dan menghancurkan Crocodile beserta Baroque Works-nya. Sampai di sini kisah Alabasta selesai, namun SHP kembali menemui lakon serupa di Dressrosa dan Wano.

Kembali ke dunia nyata. Pertanyaan kita adalah, ada nggak sih negeri di dunia yang mengalami kejadian seperti Alabasta? Mengingat kecerdikan Eiichiro Oda dalam menganalogikan berbagai peristiwa di dunia, maka arc Alabasta mungkin nyata adanya.

Kalau kita buka buku-buku sejarah, kita bisa membaca betapa banyak negara-negara kaya yang hari ini justru terkategori sebagai negara termiskin di dunia. Uniknya, hal tersebut umumnya terjadi di negeri-negeri muslim, mulai dari Afghanistan hingga Indonesia. Meski sudah menggalakkan sekularisme hingga mengikuti “bimbingan” dan kerjasama dari adidaya, tapi kondisi mereka tak maju-maju juga.

Kemiskinan itu tak masuk akal. Nusantara misalnya, di masa lalu mendapat julukan dari para penjelajah, pelaut, dan ahli bumi sebagai “repihan surga yang jatuh ke bumi”. Musim dan lautan yang bersahabat dan deretan gunung berapi, menjadikan wilayah ini kaya akan sumber alam. Bentangan pegunungan tinggi di utara Asia Tenggara, menjadi benteng alami atas invasi bangsa Tiongkok. Kapal, menjadi satu-satunya transportasi yang bisa menjelajahi wilayah ini.

Nusantara melahirkan pelaut tangguh jauh sebelum bangsa-bangsa lain menjelajah samudra. Para pelaut Nusantara menjelajah ke Tiongkok hingga Afrika dan Timur Tengah, dari Australia hingga Madagaskar. Mereka memperdagangkan komoditas ekspor terbaik Nusantara; Rempah-rempah.

Wilayah Nusantara kaya akan tumbuhan rempah, meski komoditas utama yang diperjualbelikan di tetaplah beras, garam, dan ikan asin. Uniknya, rempah-rempah adalah komoditas ekspor dimana setiap pulau memiliki rempahnya sendiri.

Pala hanya tumbuh di Banda, sedangkan Cengkeh hanya terdapat di pulau-pulau Maluku Utara. Dari Timor ada cendana dan getah wangi. Barang-barang ini dikapalkan ke Jawa. Jawa menyumbang kemukus, cabe lempuyang, jahe, kunyit, temulawak, temuireng, kencur, lengkuas, juga keluwak. Rempah-rempah otu kemudian dikapalkan ke Sumatera bertemu lada, kayu manis, sirih, gambir, bunga lawang, dan kapur barus.

Dari pulau paling barat ini, rempah bersama sutera, keramik, manik kaca, serta kerajinan logam dibawa menjelajah samudra hingga sampailah di pusat-pusat peradaban dunia.

Mumi Fir’aun dibalsam menggunakan kapur barus. Bangsawan Romawi mengawetkan dan menyedapkan makanan dengan pala dan lada. Armada Nabi Sulaiman berangkat ke Nusantara dan kata “kayu manis” tercetak di alkitab, sedangkan “kapur barus” mengabadi dalam Al Qur’an.

Kota-kota dagang lahir di sepanjang Asia Tenggara dan kepulauan Nusantara. Mungkin tak semegah Luxor, Roma, Konstantinopel, Ctesiphon, juga Damaskus dan Baghdad di masa Islam. Ini disebabkan tak ada invasi berat yang menggulung Asia Tenggara, hingga kota-kotanya jarang memiliki benteng.

Peperangan dan bencana alam disikapi oleh penduduk Asia Tenggara dengan membangun rumah-rumah dari bahan kayu dan bambu yang dengan mudah dibongkar pasang. Bencana alam seperti gunung meletus juga hanya disikapi dengan perpindahan sesaat, hunian lama akan ditempati kembali karena faktor kesuburan tanah hasil erupsi gunung berapi.

Jarangnya invasi serta hubungan karena jaringan ekonomi, menyebabkan Asia Tenggara di masa lalu lebih ramah dibandingkan tempat manapun di dunia. Dari sini, terjadilah persilangan budaya dan agama di Asia Tenggara dengan cara damai.

Asia Tenggara dan kepulauan Nusantara menjadi melting pot bagi lahirnya budaya Budhis yang mendominasi wilayah utara Asia Tenggara dan Islam yang menjadi mayoritas di semenanjung Malaya dan Kepulauan Nusantara. Asia Tenggara dan Nusantara juga menjadi wilayah ekonomi paling penting di dunia selama berabad-abad. Kemakmuran tersebar cukup merata di Asia Tenggara.

Meski tidak menampakkan peninggalan aktivitas intelektual seperti peradaban lain, Asia Tenggara, khususnya Sriwijaya pernah menjadi pusat pembelajaran agama Budha dan jaringan ulama Nusantara pernah mendominasi dunia Islam sepanjang abad 15–16 masehi.

Asia Tenggara justru runtuh bukan oleh Mongol atau muslim Timur Tengah, tapi oleh bangsa yang letaknya sangat jauh, yakni Eropa.

Berbeda dengan bangsa Arab, India, dan Tiongkok yang telah lama melakukan relasi dagang dengan Asia Tenggara, bangsa Eropa memutlakkan prinsip monopoli dagang. Hal ini didasarkan pada keserakahan mereka ketika mengetahui besarnya keuntungan yang didapatkan dari pasar rempah-rempah.

EIC milik Inggris dan VOC nya Belanda menjadi yang terdepan dalam mengeruk dan menguasai pasar di Asia Tenggara dan Nusantara. Mereka bahkan banyak menjatuhkan kerajaan dan kesultanan di Asia Tenggara untuk memuluskan langkah monopolinya. Revolusi Industri, Revolusi Prancis dan disusul Perang Napoleon, menyebabkan Asia Tenggara dan Nusantara langsung dikooptasi oleh Inggris, Prancis, dan Belanda. Pasar rempah digantikan oleh komoditas seperti kopi, teh, gula, karet, dan kina. Pertanian dan perkebunan lokal, serta hutan yang selama ini menjadi sumber kekayaan dibabat habis demi penanaman komoditas ekspor. Asia Tenggara mengalami era kolonialisasi total sepanjang abad 18-19 dan dimiskinkan secara sistemik oleh penjajah Eropa.

Pasca Perang Dunia II, sebagian besar bangsa-bangsa Asia Tenggara merdeka dari penjajahan Barat. Tapi dunia telah bergulir, komoditas penguat ekonomi dunia telah berganti dan sendi kehidupan Asia Tenggara kadung dihancurkan.

Meski telah merdeka, bangsa-bangsa Asia Tenggara hingga hari ini, khususnya Indonesia belum mampu lepas dari pengaruh Barat. Repihan surga tersebut rupanya cukup lama dijadikan jurang neraka oleh para kafir penjajah.[]

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:


Ahmet T. Kuru. 2021. Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

Anthony Reid. 1992. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 (Jilid I dan II). Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta.

Azyumardi Azra. 2005. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad XVI – XVII. Kencana: Jakarta.

M.C. Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Serambi: Jakarta.

National Geographic Indonesia. April 2019. Rupa Dekade Pertama Batavia.

National Geographic Indonesia. Januari 2021. Merapah Rempah.

Phillip K. Hitti. 2018. History of The Arabs. Zaman: Jakarta.

Ross E. Dunn. 2011. Petualangan Ibnu Battuta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *