Membongkar Strategi Manis Para Feminis

Share the idea

Sebagai sebuah istilah yang bukan berasal dari Islam, para feminis pun menyadari, bahwa menyelipkan nilai-nilai feminisme ke dalam ajaran Islam adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Asingnya pemikiran baru tersebut membuat masyarakat Islam sangat berhati-hati kepada mereka.  Oleh karena itu, secara licik mereka memunculkan slogan-slogan baru, seperti “semangat yang dibawa feminisme adalah semangat yang sama dengan Islam”, “ajaran feminisme adalah sama dengan yang Islam serukan”, bahkan lebih memperhalus bahasa-bahasa mereka dengan penggunaan kata-kata bahwa “feminisme tidak bertentangan dengan Islam”. Beberapa kalangan kemudian menyebut hal ini dengan sebutan, “Feminisme Islam”.

Kata-kata bahwa feminisme tidak bertentangan dengan Islam, sesungguhnya memiliki pola yang sama ketika musuh-musuh Islam berusaha memasukkan ide-ide mereka ke dalam pemikiran umat Islam di masa kemunduran Khilafah Utsmani. Sebagai contoh, salah satu penyebab kemunduran pemikiran umat Islam saat itu adalah menerima demokrasi. Dalam demokrasi terdapat musyawarah, Islam pun mengenal musyawarah. Demokrasi yang mengusung slogan “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat” dengan pendekatan musyawarah nya, kemudian dianggap memiliki nilai-nilai yang sama dengan Islam, sehingga demokrasi ditafsirkan tidak bertentangan dengan Islam. Pada akhirnya, demokrasi yang awalnya dianggap sebagai pemikiran asing, diterima sebagai alternatif baru, yang kemudian perlahan menggantikan nilai Islam yang dianggap sudah usang. Dan hari ini, keadaan berbalik. Masyarakat terbiasa dengan demokrasi dan merasa asing dengan syariat Islam sendiri.

Untuk memahami hal ini, dapat digunakan analogi yang mudah.

Manusia memiliki tangan, monyet pun memiliki tangan. Jika keduanya sama-sama memiliki tangan, apakah manusia dapat disamakan dengan monyet?

Demokrasi mengajarkan musyawarah, Islam juga mengajarkan musyawarah. Lantas, apakah demokrasi dapat disamakan dengan Islam?

Feminisme mengajarkan persamaan derajat, Islam juga mengajarkan persamaan derajat. Lantas, apakah feminisme dapat disamakan dengan Islam?

Tidak berhenti sampai di situ, kalangan feminis bahkan menuntut reinterpretasi dan dekonstruksi terhadap penafsiran Al-Qur’an yang dianggap tidak adil, sudah ketinggalan zaman, dan tidak cocok dengan tuntutan dunia yang modern. Bahkan mereka juga menyeru agar perempuan berupaya sendiri membaca Al-Qur’an dengan cara baru dari perspektif feminin demi membela hak-hak perempuan yang selama ini dianggap telah diamputasi oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dianggap membela dominasi laki-laki.

Sebagai salah satu contoh dari kekeliruan luar biasa adalah munculnya sosok Aminah Wadud, yang menjadi imam sholat untuk ma’mum laki-laki dan perempuan di Amerika. Aminah Wadud juga berpendapat bahwa Islam tidak bertentangan (sekali lagi, slogan yang digunakan adalah kata-kata tidak bertentangan dan sejenisnya) dengan kebebasan berpikir dan tidak mengharamkan ide, sehingga tidak memaksa perempuan untuk menggunakan hijab. Dalam mengusung idenya, mereka tetap mengagungkan nilai-nilai Islam untuk mendapat simpati agar tidak dituduh sebagai antek Barat.

Contoh lainnya adalah munculnya penafsiran baru mengenai kebolehan perempuan menjadi pemimpin negara. Dalih yang digunakan pun sama, bahwa “Penafsiran Al-Qur’an memerlukan penyesuain dengan kondisi zaman.” Mereka berdalih, bahwa dalil mengenai peraturan terhadap perempuan hanya cocok digunakan pada zaman Rasulullah, sedangkan pada zaman ketika dunia terbagi menjadi berbagai negara bangsa, maka aturan yang melarang perempuan menjadi kepala negara sudah tidak cocok lagi.

Tidak hanya menghapuskan, kalangan feminis pun juga berusaha membuat syariat baru dengan cara yang mengecoh. Mereka menggunakan prinsip dasar Islam secara umum, seperti persamaan, persaudaraan, keadilan, kemaslahatan, kemanusiaan, keberagaman, dan kesetaraan. Sebagai contoh, digunakan ayat, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa.” (TQS. Al Hujurat ayat 13). Mereka kemudian menafsirkan bahwa ayat tersebut menjadi bukti bahwa Al-Qur’an mendukung kesetaraan, sehingga laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan porsi warisan yang setara. Penafsiran yang sama juga digunakan untuk kesetaraan hak kesaksian antara laki-laki dan perempuan, hak kepemimpinan, dan hak talak. Sungguh, mereka telah memelintir ayat Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan nilai-nilai yang mereka bawa.

Salah satu contoh dari implementasi strategi yang sangat berbahaya ini adalah aksi yang dipelopori oleh Musdah Mulia. Layaknya Aminah Wadud, dimunculkanlah sosok dari kalangan umat Islam sendiri yang membela pemikiran-pemikiran kaum feminis. Dengan gelar Profesor dan Doktor, sosok Musdah Mulia menjadi tokoh sempurna dengan kapasitas intelektual yang pemikirannya layak diikuti oleh masyarakat.

Pemikirannya dianggap modern dan berkemajuan. Padahal, ide-ide yang diusung adalah haramnya poligami, pernikahan bukan ibadah, dibolehkannya perempuan menikahkan dirinya sendiri, ijab kabul bukanlah rukun pernikahan, dan anak kecil boleh bebas memilih agamanya sendiri. Ide lain yang coba mereka usung adalah legalisasi aborsi, kondomisasi (sekali lagi, dalih yang digunakan tampak mempesona, yaitu membudayakan seks aman dan sehat). Meskipun ekstrim dan terkesan tidak mungkin memberikan dampak, apa yang dilakukan kalangan liberal ini berhasil mempengaruhi muslim yang masih awam dengan ilmu agama.

Sejarah, berulang dengan pola yang sama dan aktor yang berbeda. Layaknya Snouck Hurgronje dan Musthafa Kemal, taktik psikologis paling berbahaya adalah ketika “musuh” muncul dari tubuh dan pemikiran umat Islam sendiri!

Untuk mengokohkan nilai-nilai feminisme, salah satu langkah yang paling gencar dilakukan adalah melalui pembuatan Undang-Undang. Penyusupan nilai-nilai feminisme pun dilakukan dengan sangat halus. Seperti biasa, taktik umum yang digunakan adalah untuk menarik simpati banyak pihak, baik melalui perbuatan yang seolah-olah membela perempuan, atau bermain dengan kata-kata dan diksi. Kata-kata “korban” dan “berkerudung” menjadi slogan dagangan paling laku. Hijab dianggap telah mengekang kebebasan berekspresi wanita. Berbagai kasus pun diangkat, dan perlahan-lahan memupus aturan-aturan Islam dalam pergaulan dan keluarga.

Contohnya adalah yang terjadi pada UU no. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ada nilai-nilai berbahaya yang sengaja mereka tanamkan. Misalnya, penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah sikap laki-laki yang superior terhadap perempuan. Contoh lain, pada UU perkawinan. Untuk mencapai kesetaraan ideal, harus dihindari anggapan bahwa peran suami adalah sebagai kepala keluarga, hindari suami bertanggung jawab kepada nafkah istri, hindari anggapan istri bertanggung jawab atas pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

Pada UU perceraian, setiap pasangan boleh menceraikan suami atau istrinya tanpa melihat siapa yang salah dan negara tidak ikut campur dalam urusan perceraian. Segala UU yang memberi proteksi kepada wanita (seperti cuti hamil, jam kerja malam) dianggap diskriminatif dan merendahkan wanita. Wanita dibebaskan dari pekerjaan pengasuhan anak, nafkah harus ditanggung suami dan istri, serta meningkatkan porsi istri untuk bekerja di luar rumah. Perlahan tapi pasti, mereka merekayasa persetujuan masyarakat melalui Undang-Undang.

Walau memang tak dapat dipungkiri, bahwa faktanya ada wanita yang berpendidikan rendah, ada perempuan mengalami tindakan kekerasan, namun hal sebaliknya pun juga berlaku. Ada perempuan yang berpendidikan tinggi dan laki-laki yang berpendidikan rendah. Kekerasan pun tidak selalu karena laki-laki. Pun korban kekerasan tidak selalu perempuan. Maka, persoalannya adalah bukan masalah laki-laki atau perempuan, namun sistem hidup yang mendukung munculnya budaya kekerasan.

Hal ini tentu menyebabkan ketidakharmonisan keluarga, karena terjadi kekacauan pembagain peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Perempuan didorong terus menerus mencari uang, padahal sejatinya ia sedang digiring untuk meninggalkan kewajibannya sebagai ibu bagi anak-anaknya. Dalih yang digunakan selalu sama, bahwa hal ini untuk menyelamatkan perempuan sebagai “korban”.

Namun, hal ini sudah selayaknya kita kaji kembali, “Bukankah berbagai tindakan tidak pantas terhadap perempuan adalah buah dari sistem sekulerisme dan liberalisme? Bukankah ini merupakan hasil produk hukum mereka sendiri? Lantas, mengapa mereka justru ‘menyalahkan’ apa yang dulu pernah mereka rumuskan? Bukankah ini telah menunjukkan kecacatan hukum yang mereka buat?”

Dan ketika Islam telah menawarkan solusi atas berbagai permasalahan tersebut, yang secara historis bahkan telah terbukti, lantas mengapa mereka tolak dan tetap mempertahankan produk sekulerisme yang selama ini menjadi sumber masalah? Apakah mereka alergi dengan agama? Bukankah ini adalah sebuah keanehan? []

Sumber:

Abdul Mustaqim. 2003. Tafsir Feminis Versus Tafsir Patriarki: Telaah Kritis Penafsiran Dekonstruktif Riffat Hassan. Sabda Persada: Yogyakarta.

Aliansi Penulis Pro Syariah. 2007. Keadilan dan Kesetaraan Gender: Tipu Daya Penghancuran Keluarga.

Ismail Adam Patel. 2005. Perempuan, Feminisme, dan Islam. Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

Dokumentasi Naskah Orasi Konferensi Perempuan Internasional 2015. Perempuan dan Syariah: Memisahkan Realita dari Fiksi.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *