Menafsirkan Prasasti: Hubungan Samudra Pasai, Walisongo, Dan Khilafah

Share the idea

Membaca naskah-naskah kuno. Demikianlah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh fiktif dalam cerita One Piece, yakni menafsirkan isi prasasti “Poneglyph”. Tujuannya, adalah demi membongkar rahasia negeri idaman mereka, “Laugh Tale”, mengorek konspirasi pemerintah dunia, serta mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di masa abad kekosongan (void century) sekitar 800 tahun yang lalu.

Uniknya, untuk mengungkap rahasia-rahasia dunia itu, jalan yang ditempuh tidaklah mudah. Prasasti-prasasti “Poneglyph” tak hanya sulit diakses, tapi juga hampir mustahil untuk dibaca. Bahkan disebutkan, satu-satunya orang di dunia yang mampu membaca manuskrip kuno itu hanya satu orang. Ia adalah Nico Robin, intelektual jebolan Ohara, yakni tempat di mana para intelektual berkumpul dan berusaha mengungkap sejarah dunia yang hilang.

Nico, membaca prasasti “Poneglyph”

Nyatanya, prasasti-prasati “Poneglyph” itu tak hanya membuka rahasia seputar “Laugh Tale”. Dalam salah satu penggalan cerita, ungkapan-ungkapan simbolis yang berada pada maupun di sekitar prasasti, berhasil menyingkap tabir:

bahwa, di antara dua suku yang benar-benar berbeda, yakni klan Kozuki dan suku Mink, ternyata terdapat jejak persaudaraan yang kuat yang diikat melalui sebuah sumpah setia nan suci.

Metode-metode sejenis tak hanya terjadi dalam dunia One Piece. Hal luar biasa inilah yang sejatinya dilakukan oleh para sejarawan. Membaca dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.

Namun, sebagaimana yang ditandaskan oleh Nicko Pandawa selaku sutradara film “Jejak Khilafah di Nusantara” pertama dan kedua sekaligus penulis buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”.

“Dari segi data, sebenarnya bukan ditutup-tutupi. Tapi, sulit diakses. Itu aja.

Kita mendapatkan buku-buku ini bukan dengan harga murah. Tidak ada yang menjualnya di negeri ini. Harus kita beli ke Eropa dan sebagainya dengan harga yang tidak murah. Dari situ, ternyata sejarah itu mahal.

Tapi, melalui film ini, kita menghadirkan akses atau inspirasi. Dengan data-data yang sulit dijangkau ini, kita sebarkan kepada umat.

Karena, sejarah ini sejatinya milik umat. Dan umat berhak tahu tentang dirinya.”

Nicko Pandawa dan buku “Ottoman-Southeast Asian Relation

Relasi Sunan Gresik dengan Sumatra Pasai, Khilafah ‘Abbasiyyah, dan Dunia Islam Global

Bagaimanapun, besarnya Islam di Indonesia adalah sebuah hal unik. Fenomena ini menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang menjadi mayoritas tidak hanya di wilayah asalnya (Jazirah Arab), namun juga di luar wilayah asalnya (Indonesia).

Adapun agama-agama lain, ada yang hanya menjadi mayoritas di wilayah asalnya (seperti Hindu dan Buddha) serta hanya menjadi mayoritas di luar wilayah asalnya (seperti Kristen yang berasal dari Palestina namun justru besar di Eropa).

Hal ini tentu menjadikan kita bertanya-tanya. Mungkinkah hal tersebut adalah suatu hal yang kebetulan? Atau, ia adalah bagian dari strategi matang yang memang direncanakan? Jika memang bagian dari rencana, bagaimana itu semua terjadi?

Untuk memahami kondisi politik dan dakwah yang terjadi di masa Sunan Gresik selaku inisiator Walisongo, salah satu caranya adalah menafsirkan isi dan kondisi makam Sunan Gresik itu sendiri.

Makam Malik Ibrahim alias Sunan Gresik di Gresik, Jawa Timur, yang tak jauh dari pusat Kerajaan Majapahit

Isi dari epitaf (tulisan di nisan) tersebut, secara lengkap telah dibahas dalam artikel Komunitas Literasi Islam yang berjudul “Jejak Khilafah Di Nusantara: Menafsirkan Rahasia Hidup Dan Dakwah Sunan Gresik”.

Adapun dalam artikel @komunitasliterasiislam kali ini yang berjudul “Strategi Samudra Pasai dan Walisongo Awal dalam Mengislamkan Nusantara”, akan merangkum dan menyimpulkan kaitan nisan Sunan Gresik dengan Kesultanan Samudra Pasai dan Khilafah ‘Abbasiyyah.

 

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *