Mencabut Virus Sekularisme: Hubungan Pemikiran Antara Sayyid Qutb, Taqiyuddin An-Nabhani, dan Syed Naquib Al-Attas

Share the idea

La Purga, sebuah nama hukuman yang amat mengerikan. Sang terhukum dadanya dicap besi membara berlambang salib kemudian dieksekusi mati dengan cara disalib, ditenggelamkan, dikubur hidup-hidup, atau dibakar. Hukuman yang diberikan oleh institusi gereja kepada para intelektual, ilmuwan, dan para filsuf ini menjadi pemicu perang panjang kedua pihak tersebut di abad pertengahan Eropa. Awalnya dipicu oleh temuan-temuan ilmiah para intelektual Eropa di berbagai ilmu, semisal matematika, astronomi, dan kimia. Ilmu-ilmu tersebut dipulung secara cuma-cuma oleh para ilmuwan Eropa dari peradaban Islam yang berkembang pesat.

Masalahnya, berbeda dengan Islam yang memacu umatnya untuk menyingkap fenomena alam semesta sebagai bukti kemahakuasaan Allah, Kristen justru dipenuhi dengan dogma-dogma yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Maka dimulailah perburuan dan pembantaian para cerdik pandai di seluruh pelosok Eropa dengan alasan temuan ilmiah mereka bertentangan dengan keimanan Kristen.

Kaum intelektual pun tak tinggal diam, mereka melakukan pergolakan pemikiran dan perlawanan terhadap gereja sehingga memicu munculnya sekularisme.

Sekularisme adalah jalan yang akhirnya diambil oleh masyarakat Eropa. Sebuah jalan tengah untuk mengakhiri pertentangan yang nyaris membelah Eropa. Dalam sekularisme, pihak gereja dimarjinalisasi dan hanya mengurus kepentingan kerohanian mereka. Semua unsur kehidupan duniawi diatur sendiri oleh manusia tanpa melibatkan hukum Tuhan. Semboyan utama sekularisme adalah “berikan hak Tuhan kepada Tuhan dan berikan hak raja kepada raja”.

Sekularisme tentu menjadi masalah bagi peradaban Islam, karena solusi sekularisme hanya layak diperuntukkan kepada kaum Kristen Eropa. “Orang Kristen maju ketika mereka membuang Injil..”, sindir ulama besar Hindustan, Syekh Abul Hasan Ali An-Nadwi.

Namun bencana itu datang. Peradaban Islam mengalami kemunduran. Secara pemikiran kaum muslimin terus mengalami kemerosotan sejak Al Qaffal memfatwakan haramnya melakukan ijtihad. Sedangkan secara politik, Daulah Khilafah yang diwarisi oleh bani Utsmaniyah tidak lagi sekuat pendahulunya seperti Sultan Muhammad II Al Fatih atau Sultan Sulaiman Al Qanuni. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Barat untuk menikam dan memutilasi dunia Islam.

Dengan semangat 3G (gold, gospel, and glory), Barat menjajah dan mengiris-iris negeri Muslim. Belanda mendapatkan kepulauan Nusantara. Inggris menjarah rayah semenanjung Melayu, Burma, India, Afrika Timur, hingga Mesir. Perancis menguasai Indochina dan Afrika Utara.

Tak cukup hanya dengan kekuatan senjata, Barat juga menancapkan pisau beracunnya  ke tengah-tengah kaum muslimin berupa ide sekularisme. Bahkan ide tersebut langsung ditancapkan di pusat peradaban Islam, Jazirah Arab.

Para orientalis dan misionaris bertebaran dan mendirikan berbagai pusat pembelajaran di Beirut, Damaskus, Kairo, Baghdad, dan Jeddah. Efeknya adalah banyak pemuda Islam yang menjadi murid di pusat-pusat pembelajaran tersebut, sehingga keranjingan dengan ide sekularisme.

Ide tersebut menancap kuat di benak mereka, mengubah pola pikir mereka, dan menganggap bahwa Islam kurang lebih sama dengan agama lainnya yang hanya berkutat pada masalah spiritual belaka. Mereka mengingkari Daulah Khilafah dan menyerukan ide nasionalisme baik nasionalisme Arab, nasionalisme Turki, nasionalisme Kurdi, atau nasionalisme Albania.

Serangan bertubi-tubi ini melemahkan peradaban Islam dan mengakibatkan runtuhnya Daulah Khilafah. Khilafah yang merupakan warisan Rasulullah itu dibubarkan pada 3 Maret 1924 di tangan kaum nasionalis Turki. Sejak saat itu, kaum muslimin mengalami kemunduran di semua aspek kehidupan. Meskipun banyak negeri muslim telah merdeka dari penjajahan fisik, Islam dan kaum muslimin masih terbelakang, ditindas, dan diremehkan oleh bangsa lain di dunia.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan di benak kaum muslimin, terutama kalangan ulama. Para ulama mencoba mengurai benang kusut permasalahan ini. Muncullah kesimpulan bahwa akar masalah kaum muslimin adalah diterapkannya sekularisme di tengah-tengah kehidupan mereka.

Prof. Syed Naquib Al-Attas menyimpulkan kemunduran kaum muslimin adalah adanya sekularisasi yang masif di tengah dunia Islam. Sekularisasi sendiri menurut beliau adalah, “pembebasan manusia dari kungkungan agama dan kemudian dari kungkungan metafisika yang mengatur akal dan bahasanya”. Dengan kata lain, Prof. Syed Naquib Al-Attas berpendapat bahwa sekularisasi adalah pembebasan manusia dari segala unsur gaib, suci, sakral, dan agama.

Maka, sekularisme menurut beliau adalah paham yang menghilangkan unsur-unsur ketuhanan dan keagamaan dari dalam diri manusia. Dan dapat disimpulkan bahwa sekularisasi di dunia Islam adalah usaha untuk menjauhkan kaum muslimin dari – meminjam istilah beliau, worldview Islam. Jika kaum muslimin sudah melepaskan cara pandangnya dari cara pandang Islam, maka saat itulah kaum muslimin menjadi lemah dan mudah dikuasai.

Pendapat yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh Asy-syahid Sayyid Qutb. Salah satu ideolog jama’ah Ikhwanul Muslimin ini menilai bahwa Barat telah sungguh-sungguh berupaya sekuat tenaga menguasai dunia Islam.

Barat, menurut beliau mendirikan rezim-rezim boneka di negeri-negeri kaum muslimin. Rezim tersebut berkedok Islam atau minimal menampakkan penghormatan terhadap agama Islam, namun mereka memerintah bukan dengan hukum Allah dan menjauhkan hukum Allah dari masyarakat. Mereka, para rezim, seakan-akan menghormati Islam namun mereka membuka lebar-lebar pintu kemaksiatan dengan dalih modernisasi. Inilah bukti sekularisasi yang dilakukan Barat terhadap negeri muslim.

Sedangkan menurut pendapat Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, sekularisme adalah fashluddin ‘anil hayah atau pemisahan agama dari kehidupan. Sekularisme merupakan aqidah dari kapitalisme serta menjadi qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis) dan qaidah fikriyah (kaidah berpikir). Dari kaidah berpikir inilah masyarakat Barat berpendapat bahwa manusia berhak membuat peraturan hidupnya. Ketika bangsa Barat mulai menjajah negeri-negeri kaum muslimin, ide ini disuntikkan di tengah-tengah merekka untuk menjauhkan mereka dari mabda Islam.

Sekularisme dijejalkan Barat di tengah-tengah kaum muslimin bukan untuk memajukan dunia Islam atau membuat mereka memiliki kedudukan yang sama dengan masyarakat Barat, melainkan untuk melemahkan peradaban Islam serta memudahkan mereka untuk menjajah dan menguasai negeri-negeri kaum muslimin. Maka, diperlukan usaha yang kuat untuk mencabut virus sekularisme dari kepala kaum muslimin.

Syed Naquib Al-Attas menyadari bahwa Barat memasukkan sekularisme melalui lembaga pendidikan. Di lembaga-lembaga pendidikan tersebut Barat melakukan sekularisasi ilmu. Maka, kaum muslimin harus melakukan hal sebaliknya, yaitu Islamisasi ilmu. Penanaman worldview Islam harus dilakukan secara masif di lembaga-lembaga pendidikan Islam untuk mencetak intelektual yang berkarakter dan berkepribadian Islam. Seorang intelektual yang memiliki visi Qur’ani dan membebaskan kaum muslimin dari belenggu ide-ide Barat yang menyesatkan.

Selaras dengan Syed Naquib Al-Attas, Asy-syahid Sayyid Qutb juga menyerukan hal yang sama namun dalam bidang yang lebih luas, masyarakat. Ulama yang dihukum gantung oleh rezim Mesir ini menganjurkan kepada para da’i  untuk menyadarkan masyarakat dari belenggu hukum-hukum kufur seperti sekularisme. Harus ada pembinaan yang terus-menerus di tengah-tengah masyarakat agar umat tersadarkan dari segala sistem kufur dan mengambil manhaj Islam.

Sedangkan menurut Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, sekularisme adalah aqidah dasar kapitalisme dan kapitalisme diemban, dilindungi, dan disebarkan secara masif oleh negeri-negeri Barat. Bangsa Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris mendaulat diri mereka sebagai pengemban kapitalisme. Dari fakta inilah Syekh Taqiyuddin menambahkan bahwa usaha mencabut dan melindungi kaum muslimin dari virus sekularisme adalah dibutuhkan sebuah institusi yang melindungi mabda Islam dan kaum muslimin. Dan institusi tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah negara yang mengemban mabda Islam. Negara yang menerapkan, melindungi, dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga menjadi lawan yang sepadan dari negara-negara kapitalisme.

Maka dapat disimpulkan bahwa usaha mencabut serta membentengi umat dari sekularisme haruslah usaha yang serius, bukan usaha yang main-main. Kesadaran umat harus dibangun dari berbagai lini, pendidikan, dakwah, hingga politik. Semua elemen umat yang telah tersadarkan harus bahu-membahu menyampaikan di tengah-tengah umat siap sebenarnya musuh sejati umat serta cita-cita sejati umat Islam. Bila semua usaha ini telah dilakukan, maka tidak mungkin izzul Islam wal Muslimin dengan mudah digenggam kembali oleh umat yang mulia ini. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

Al-Attas, Syed Naquib. 1993. Islam and Secularism; second impression. (Kuala Lumpur; International Institute of Islamic Thought and Civilization).

An-Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Peraturan Hidup Dalam Islam; cet.VI. (Jakarta; HTI press)

At-Tharablusi, Abdullah. 2001. Perubahan Mendasar Pemikiran Sayyid Qutb. (Surabaya; Ibadah.net)

Husaini, Adian. DR. 2010. Pendidikan Islam : Membangun Manusia Berkarakter dan Beradab. (Jakarta; Program Studi Pendidikan Islam Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun dan Cakrawala Publishing).

Qutb, Sayyid.  2013. Ma’alim fi ath-Thariq. (Yogyakarta; Darul Uswah).

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *