Mengapa Dakwah Nabi Muhammad Sangat Dibenci Masyarakat Quraisy?

Share the idea

Dalam hal agama, masyarakat Arab menganut politeisme (meyakini lebih dari satu Tuhan). Hal ini diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi, yang berakar dari garis keturunan Nabi Isma’il yang menyimpang dan memutarbalikkan ajaran monoteisme (meyakini hanya ada satu Tuhan) yang diajarkan oleh garis keturunan Nabi Ibrahim dan putranya.

Oleh karena itu, mereka membuat berhala batu dan kayu untuk mewakili sifat-sifat Tuhan. Lama kelamaan, satu berhala dibuat mewakili satu tuhan, bahkan jumlahnya mencapai 360 tuhan yang diletakkan di dalam Ka’bah.

Walau menyembah berhala, namun mereka tetap mempercayai bahwa Allah adalah Tuhan mereka – sebagai bentuk penghormatan atas ajaran Ibrahim. Namun, mereka meyakini bahwa Allah hanya salah satu dari sekian banyak tuhan lain, yang dilambangkan dengan berhala.

Maka, kita sering menemukan dalam naskah-naskah sejarah, masyarakat Arab yang sering bersumpah atas nama Allah, “Demi Allah”, padahal mereka menyembah berhala. Mereka meyakini Allah adalah Tuhan mereka, namun mereka menyembah berhala sebagai tuhan-tuhan mereka yang lain.

Di Indonesia, kata “Ilaah” seringkali diterjemahkan sebagai “Tuhan”, sedangkan kata “Rabb” juga berarti “Tuhan”. Apa bedanya?

Dalam kalimat syahadat “Asyhadu An Laa ilaaha Illa Allah”, yang digunakan adalah kata “Ilaah”, bukan “Rabb”. Di sini, kata “Ilaah” sesungguhnya bermakna “sesembahan atau yang disembah”, sedangkan “Rabb” bermakna Tuhan (Penguasa/Pemilik).

Secara makna, penggunaan kata tersebut mengakui bahwa satu satunya sesembahan adalah Allah, sekaligus meniadakan kemungkinan untuk menyembah Tuhan selain Allah. Hal tersebut juga disebabkan, pada saat itu, masyarakat Arab meyakini bahwa Tuhan mereka adalah Allah, tapi perilaku mereka justru menyembah kepada selain Allah.

Oleh karena itu, ajaran Islam yang menyerukan prinsip monoteisme ketat sangat bertentangan dengan keyakinan masyarakat Arab. Ajaran ini menyeru untuk menyembah hanya kepada satu Tuhan, sedangkan berhala-berhala yang disembah oleh penduduk Mekkah tak lebih dari batu dan kayu yang tak berguna.

Selain menyeru untuk menyembah Tuhan yang satu, Islam juga mengecam penyakit sosial masyarakat Mekkah. Hal ini juga sangat berlawanan dengan kebiasaan masyarakat Arab saat itu, yaitu tingginya kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin.

Seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya, kondisi jazirah Arab yang gersang dan tandus, “memaksa” masyarakat Arab menjadikan perdagangan dan bisnis sebagai roda ekonomi utama mereka (bahwa dibanding berusaha menaklukkan wilayah lain, mereka lebih memilih untuk berdagang).

Pada musim dingin, mereka melakukan perjalanan bisnis ke Yaman, dan pada musim panas mereka pergi ke Syam (Hal ini juga diabadikan dalam QS. Al-Quraisy ayat 1-2).

Dengan meningkatnya kemakmuran dan rute perdagangan, kesenjangan sosial dalam masyarakat semakin mencolok. Golongan kaya akan membiayai perjalanan banyak kafilah dagang, sehingga orang kaya akan semakin kaya. Sebaliknya, golongan miskin akan semakin terpinggirkan.

Ide-ide baru Islam – yang mengajarkan hanya menyembah satu Tuhan, menyisihkan harta kepada orang miskin, dan kesamaan kelas sosial – tentu sangat mengancam tatanan sosial Mekkah yang sudah mapan. Bagi kalangan yang sudah memegang kekuasaan, revolusi sosial seperti yang diajarkan oleh Islam tentu tidak diterima.

Bahkan jika Nabi Muhammad tidak menganjurkan perubahan apa pun, keyakinan baru itu sendiri merupakan ancaman bagi posisi ekonomi dan sosial para penganut politeis.

Perlu diketahui, bahwa Ka’bah yang terletak di Mekkah, merupakan pusat keagamaan bagi bangsa Arah di seantero jazirah. Setahun sekali, orang-orang Arab akan bepergian ke Mekkah untuk melakukan ziarah dan menyembah ratusan berhala. Di sisi lain, perdagangan adalah hasil samping dari peziarahan. Hal tersebut secara alami memicu berkembangnya pasar, dan menjadikan Mekkah sebagai pusat politik, ekonomi, dan agama di tanah Arab.

Sebagai fasilitator perdagangan, masyarakat Qurasy tentu mendapat keuntungan yang sangat besar. Namun, ajaran baru yang dibawa Nabi Muhammad menolak arti penting berhala dan menekankan keesaan Tuhan. Tanpa berhala, tak ada peziarahan. Tanpa peziarahan, tak ada perdagangan.

 Inilah kepentingan yang diganggu oleh kemunculan Islam. Tentu, hal itu menjadi skenario yang sangat tidak menyenangkan bagi masyarakat Qurasy, dan pengikut Nabi Muhammad menyadarinya. Terlebih, komunitas muslim saat itu masih kecil, lemah, dan mayoritas berasal dari kelas sosial yang rendah (budak, pelayan, orang-orang miskin). Maka, umat Islam belum mampu terlibat dalam konflik ideologis dengan orang-orang yang memegang kekuasaan.

Setidaknya, melalui faktor-faktor inilah, Nabi Muhammad yang sebelumnya merupakan sosok yang sangat dipercaya dan jujur, berubah menjadi sosok yang sangat dibenci hanya karena menyerukan Islam. Sungguh sangat aneh dan sulit dipercaya.

Perjuangan menyerukan Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan kebencian yang diterimanya, patutlah mendapat perhatian dari kita semua. Hari ini, sejarah terulang kembali dengan pola yang sama dan aktor yang berbeda. Ketika penerapan syariat Islam lantang diserukan, pihak-pihak yang sudah nyaman dengan harta, jabatan, dan kelas sosialnya tentu adalah pihak yang paling merasa terancam. Segala macam cara, dilakukan oleh mereka untuk menyingkirkan “ancaman” syariat Islam.

Maka tentu, satu-satunya yang kita lakukan adalah meniru apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Istiqomah dalam dakwah, dan terus melanjutkan perjuangan. Sungguh, pergerakan ini tidak akan berhenti, hingga Allah memanggil jiwa-jiwa ini, atau Allah memenangkan agama ini.   

Sumber:

Ahmad Al-Usairy. 2008. Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad XX. Penerbit Akbar. Jakarta.

Lost Islamic History. 2016. Lost Islamic History. Penerbit Zahira. Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *