Mengapa Feminisme Tidak Akan Pernah Berhasil?
Penulis : Sayyidah Khoirul Nisa
Feminisme terus digadang sebagai gerakan yang dipandang mampu mewujudkan kesetaraan dan kebebasan dari penindasan perempuan selama berabad-abad. Baik di Timur maupun Barat, agama dan tradisi kuno sering dianggap menempatkan perempuan sebagai penduduk kelas dua. Bahkan di Eropa, para pendeta dulu menyebut perempuan adalah jalan godaan setan.[1]
Sebelum Islam datang, peradaban dunia dipenuhi pandangan yang menganggap perempuan tak punya hak-hak yang wajib dihargai di tengah masyarakat. Pasca hadirnya Islam, peradaban lain masih melanjutkan pandangan kunonya itu, sementara Islam, harus diakui telah berhasil mengangkat posisi perempuan ke posisi yang mulia dan penuh prestis.
Seiring perjalanan abad pencerahan di Eropa dan perjuangan ratusan tahun dengan berbagai dinamika, feminisme merasa telah menemui buah perjuangannya. Hak pilih bagi perempuan, kuota parlemen, luasnya keterlibatan di dunia kerja, kesamaan posisi dengan pasangannya, hak-hak reproduksi, hak tubuh, dan berbagai hal lain yang mereka suarakan.
Beberapa peristiwa besar bagi gerakan feminisme di antaranya adalah ditetapkannya CEDAW (Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women) tahun 1979 dan Deklarasi Beijing tahun 1995. Keduanya lalu mewujud dalam penetapan perundang-undangan di berbagai negara yang meratifikasinya. Namun, nyatanya yang terjadi adalah terciptanya berbagai kesengsaraan dan tekanan bagi perempuan di berbagai negara.
Seiring meningkatnya partisipasi perempuan di ruang publik, angka kekerasan terhadap perempuan ternyata semakin meningkat. Menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2020, angka kekerasan terhadap perempuan meningkat hampir 8 kali lipat dalam 12 tahun terakhir, dimana pada tahun 2019 terdapat 431.471 kasus[2].
Sementara itu di Eropa, meski memulai perjuangan kesetaraan gender lebih dulu, angka kekerasan terhadap perempuan sangatlah tinggi. Survei luas Uni Eropa yang dilakukan pada tahun 2014 oleh Badan Hak-Hak Dasar Eropa menyatakan bahwa satu dari tiga wanita di Uni Eropa mengalami beberapa bentuk serangan fisik dan/atau seksual sejak usia 15 tahun[3].
Masuknya perempuan di dunia kerja pun ternyata membawa efek menyesakkan, seperti stres berkepanjangan. Studi di Inggris menyatakan perempuan yang memiliki dua anak dan bekerja penuh waktu, 40% lebih stres dibanding perempuan tanpa anak yang bekerja. Sementara ibu dua anak yang bekerja dengan jam kerja berkurang memiliki tingkat stres kronis 37% lebih rendah daripada ibu yang bekerja dengan jam kerja tidak fleksibel[4].
Kajian di Swedia, negara yang rutin membakar Al-Qur’an itu, juga menemukan kecenderungan bahwa promosi ke jabatan tinggi di politik menggenjot tingkat perceraian di kalangan perempuan. Perempuan yang menjadi pimpinan eksekutif perusahaan juga lebih cepat bercerai dibandingkan laki-laki dengan tingkat karir serupa[5].
Masuknya perempuan ke dunia kerja juga menurunkan angka pernikahan karena lebih fokus pada karir daripada berkeluarga. Hal ini terlihat dari menurunnya tingkat pernikahan di negara-negara yang telah lama terpapar paham feminisme. AS berhasil mencapai titik terendah angka pernikahan dalam sejarahnya pada 2018 (sebesar 6,5 per 1000 populasi) yang memang menurun dibanding tahun 1929 sebesar 12 pernikahan per 1000 populasi[6].
Di Inggris, data tahun 2017 menunjukkan terjadinya penurunan jumlah pernikahan antara pasangan yang berbeda jenis, dengan penurunan 45 persen sejak 1972[7]. Tentu saja tren ini membuat angka pertumbuhan penduduk juga menurun. Seperti yang terjadi di AS, sejalan dengan menurunnya tingkat pernikahan, angka kelahiran tahun 2018 mencapai titik terendah yaitu 11.59 per 1000 perempuan[8]. Dan bisa dipastikan, penurunan terus-menerus angka kelahiran dapat berbahaya bagi sebuah negara.
Fakta tak terelakkan lain sebagai akibat feminisme adalah eksploitasi perempuan yang dimanfaatkan untuk meraih keuntungan dengan menjual sensualitas dan keindahan mereka. Perempuan menjadi bintang di berbagai iklan produk, perempuan pula yang menjadi target pasar produk industri, dan mereka juga yang masuk ke dunia industri sebagai buruh.
Melihat semua fakta-fakta ini, tentu membuat kita bertanya-tanya. Apakah pergerakan feminisme memang mengantarkan perempuan pada kondisi ideal, atau justru membelokkan arahnya ke dalam kepayahan yang lain?
Delusi feminisme sebenarnya terpengaruh kuat dari definisi gender mereka yang delutif. Gender dalam term feminisme tidak sesederhana kita mengartikan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Gender menurut feminisme adalah sesuatu yang tidak rigid sebagai buah dari konstruksi sosial. Sifat maskulin dan feminin dianggap sebagai budaya bentukan masyarakat selama bertahun-tahun. Setiap masyarakat dianggap memiliki berbagai “naskah” (scripts) untuk diikuti anggotanya, seperti belajar memainkan peran feminin, maskulin, atau keduanya[9].
Bahkan feminisme mengklasifikasikan gender dalam beberapa makna, yakni: identitas gender, ekspresi gender, dan orientasi seksual. Identitas Gender adalah bagaimana seseorang memandang dirinya. Ada cisgender yang mengindetifikasi diri sesuai jenis kelaminnya dan ada transgender yang mengidentifikasi diri berlawanan dengan jenis kelaminnya.
Istilah ekspresi gender merujuk pada bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya melalui perilaku, cara berbicara, cara berpakaian, potongan rambut, dan lain-lain yang mewakili sifat-sifat perempuan (disebut feminin), laki-laki (disebut maskulin), dan di antara keduanya (disebut androgini).
Selanjutnya, orientasi seksual adalah ketertarikan emosi dan seksual kepada suatu objek, kepada lawan jenis (disebut heteroseksual), kepada jenis kelamin yang sama (disebut homoseksual) atau keduanya (disebut biseksual) [10]. Dan bagi feminisme, seseorang bebas memilih identitas gender mana pun, orientasi seksual mana pun, dan ekspresi gender mana pun.
Paham ini pula yang membuat LGBT adalah sesuatu yang diterima oleh feminisme, atau memang bagian dari perjuangannya. Karena memperjuangkan LGBT sama dengan memperjuangan definisi gender yang mereka serukan, gender yang tidak kaku, gender yangbisa berubah seiring berjalannya waktu.
Meskipun berbagai aliran feminisme memiliki sudut pandang yang berbeda-beda, namun mereka tetap satu suara tentang kebebasan perempuan. Feminisme mencitrakan perempuan yang bebas dari kurungan budaya maupun agama yang sebelumnya telah membawa realita pedih berabad-abad di Barat.
Dengan semangat kebebasan inilah, feminisme mendefinisikan gender dan menyuarakan kebebasan seksual serta hak otoritas penuh terhadap tubuh perempuan. Tak ayal, slogan “tubuhku, otoritasku” adalah seruan yang terus feminisme dengungkan.
Perempuan berhak menentukan baju apa yang dia pakai, siapa yang dia suka (laki-laki atau perempuan), berhubungan seks dengan siapa saja yang mereka suka, apakah akan menikah atau tinggal bersama, apakah akan memiliki anak atau tidak, apakah akan meneruskan kehamilan atau mengakhirinya, semua adalah hak perempuan. Termasuk peran-peran dalam keluarga yang mereka anggap tidak kaku dan fleksibel itu. Siapa yang merawat anak, siapa yang mencari nafkah, bukanlah hal baku yang tak bisa diubah. Oleh karena itu, feminisme sejak awal memang sangat mungkin memicu kebingungan peran dalam rumah tangga hingga menimbulkan ketidakharmonisan.
Namun, berdasarkan konsep-konsep itu pula, feminisme justru akan terus gagal mewujudkan kondisi ideal bagi perempuan. Sebab, mereka tidak mau menerima keunikan yang sudah Pencipta berikan bagi perempuan maupun laki-laki. Perbedaan jenis kelamin secara lahiriah bukanlah hal yang hanya akan mempengaruhi bentuk fisik perempuan, namun juga sifat, karakter, dan juga perannya di tengah masyarakat. Keberadaan rahim dan payudara adalah bukti tak terbantahkan bahwa perempuan dianugerahi peran sebagai ibu. Sifat keibuan perempuan adalah hal yang sepaket bersama proses penciptaannya.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor biologis memang mempengaruhi karakter maskulin atau feminin dari manusia. Bahkan, hormon testosteron yang identik dengan maskulinitas, membuat bayi yang berusia 3 hingga 4 bulan lebih lama memandangi mainan laki-laki daripada mainan perempuan[11].
Namun, jauh sebelum penelitian-penelitian tentang gen, hormon, dan anatomi perempuan dan laki-laki menyebabkan perbedaaan karakter di antara keduanya, Islam telah menegaskan fitrah laki-dan perempuan yang berbeda dari pemberlakuan sejumlah hukum-hukum syariah yang berbeda ketika berkaitan dengan kekhasan keduanya. Islam mengagungkan peran ibu, memberi tanggung jawab kepemimpinan pada laki-laki, serta mengatur interaksi-interaksi yang terjalin di antara laki-laki dan perempuan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis.
Keunikan masing-masing laki-laki dan perempuan yang terus dinafikkan oleh feminisme akan melanggengkan delusi mereka sehingga mereka tak akan mampu memperbaiki kehidupan perempuan. Menafikkan perbedaan laki-laki dan perempuan selanjutnya akan merusak peradaban manusia, seperti saat hari ini kita melihat rapuhnya tatanan sosial masyarakat di Barat maupun di Timur karena implementasi paham-paham sekular yang mencampakkan peran Pencipta.[]
Sumber dan Rekomendasi Bacaan
[1]Dinar Dewi Kania, 2012, https://thisisgender.com/isu-gender-sejarah-dan-perkembangannya/
[2]Andi Misbahul Pratiwi, 2020, https://www.jurnalperempuan.org/warta-feminis/kekerasan-terhadap-perempuan-meningkat-delapan-kali-lipat-selama-12-tahun-terakhir
[3]Lauren Chadwick , 2019, https://www.euronews.com/2019/11/19/there-is-huge-resistance-europe-s-problem-with-violence-against-women
[4]Sabrina Barr, 2019, https://www.independent.co.uk/life-style/health-and-families/working-mother-stress-work-full-time-job-pressure-children-family-study-a8749191.html
[5]Hephzibah Anderson, 2020, https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-51276786
[6]Gaby Galvin, 2020, https://www.usnews.com/news/healthiest-communities/articles/2020-04-29/us-marriage-rate-drops-to-record-low
[7]Chiara Giordano, 2020, https://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/marriage-rate-uk-latest-figures-lowest-record-ons-a9464706.html
[8]____, 2020, https://theconversation.com/the-us-birth-rate-keeps-declining-4-questions-answered-128962
[9]Fitri Lestari, 2015, https://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/seks-gender-dan-konstruksi-sosial
[10]Fanny Rofalina, 2013, http://rofalina.com/2013/11/gender-orientasi-jenis-kelamin-perbedaan.html
[11]Redaksi Kumparan, 2018, https://kumparan.com/kumparansains/mengapa-perempuan-senang-main-boneka-laki-laki-senang-mobil-mobilan
