Mengapa Generasi Muda Islam Harus Jago Menulis?

Share the idea

Apa yang kita makan akan terasa hambar setelah melewati tenggorokan. Apa yang kita pakai akan usang setelah melewati beberapa masa. Akan tetapi, apa yang kita baca akan mengendap hingga nyawa berpisah dengan raga, dan apa yang kita tulis akan mengendap dalam kepala manusia lain, meski kita telah lama pergi meninggalkan dunia.

Nur Fajarudin

Mengapa Afi Nihaya Faradisa lebih terkenal dibandingkan Naufal Raziq? Jawabannya adalah karena Afi menulis. Tidak peduli idenya absurd, menjadi kontroversi, dan belum tentu berguna untuk memajukan bangsa ini, Afi menyampaikannya dalam goresan pena. Afi dan tulisannya akan mengabadi. Adapun Raziq dengan segala kecemerlangan idenya, sayang sekali ia hanya mampu menyampaikannya secara lisan. Ia belum mampu mensistematisasikan dan mempertanggungjawabkan ide briliannya dalam sebuah tulisan. Andai ia tidak ditemukan oleh bangsa lain yang menghargai temuannya, maka akan sangat disayangkan kalau ia hanya berakhir menjadi tukang reparasi elektronik di pasar kecamatan. Mengapa harus ada bangsa lain dan mengapa nasibnya sungguh tragis? Sebagaimana ungkapan Andrea Hirata, “Cukup riskan kita mengharapkan kebaikan dari pemerintah.”

Menulis itu perlu, membaca itu wajib. Hari ini berbagai penemu dan temuannya yang brilian di negeri ini tenggelam karena tak pernah setetes tinta mencatatnya. Kita sungguh malas menulis dan yang lebih parahnya kita juga tidak pernah membaca secara serius. Aktivitas membaca hanya menjadi aktivitas hiburan yang lewat kala sudah terhibur, dan ditinggalkan ketika sedang jenuh.

Padahal, para generasi muda sudah selayaknya mampu mensistematisasikan dan mempertanggungjawabkan ide-ide briliannya dan sebuah tulisan. Meski berbagai forum, kegiatan, lokakarya, seminar, workshop, dipraktiskan dalam lomba dan kurikulum, namun angka literasi kita masih di bawah rata-rata. Mengapa? Karena guru dan orang tuanya tidak menjadi teladan dalam menulis dan membaca.

Hal ini semakin lucu ketika kita seringkali mengidolakan para intelektual absurd, beruforia dan memuja dan memuji mereka yang berani menuliskan hal-hal kontroversial, hal-hal yang bertentangan dengan norma yang berlaku. Sejak era kemunculan JIL hingga Afi, pertanyaan mendasarnya adalah, “Apa sih ide dan teori mereka untuk memajukan bangsa ini?”. Kalau hanya sekedar ajakan untuk memunggungi aturan Sang Pencipta, itu mah bukan kemajuan tapi kemunduran. Dan orang-orang besar, intelektual yang sesungguhnya di negeri ini hanya menjadi tontonan. Nilai mereka di mata anak bangsa tak lebih dari lakon Doraemon. “Jerman mendapatkan ilmunya, sedangkan kita hanya mendapatkan antrian nonton filmnya.”, sindir komika Abdur Arsyad terkait kelakuan bangsa ini dalam menempatkan posisi tokoh seperti Habibie dan orang-orang terbaiknya.

Menulis itu perlu, membaca itu wajib. Jangan lupa, di balik sebuah tulisan ada sebuah pemikiran yang menggerakkan orang untuk menulis dan membaca. Pemikiran itulah yang menjadi ruh dari peradaban. Itulah yang kita sebut ideologi. Hari ini, dunia hanyut dalam peradaban Barat yang berlandaskan nilai-nilai sekularisme. Peradaban ini pun sebenarnya didasarkan oleh ilmu dan menggerakkan orang untuk menulis dan membaca.

Dalam sejarahnya, benih peradaban ini muncul di kota Florence, Italia ketika keluarga Medici dengan penuh semangat mengundang para cerdik cendekia untuk membicarakan berbagai hal menurut disiplin ilmu mereka. Pertentangan dengan kekuasaan gereja yang dianggap sebagai biang kerok kegelapan Eropa, menjadi pemicu lahirnya berbagai revolusi di Eropa yang di dalamnya ditemui jejak para filsuf dan ilmuwan yang menjadi penggeraknya. Trauma atas kekuasaan gereja, Eropa dan peradaban yang sedang menggeliat itu menjauh dirinya dari nilai-nilai agama. Hari ini kita merasakan jejaknya ketika disiplin ilmu baik sains maupun humaniora sepakat menjauhi ranah ketuhanan, bersekongkol menjauhkan dirinya dari agama dan istilah sejenis lain apapun namanya.

Apakah kita bersepakat dengan mereka? Seperti kita mengagungkan Afi dan tulisannya yang berjudul “Warisan” itu? Harusnya kita melek pada sejarah. Toh pada awal kelahiran peradaban Barat di Italia, para cerdik cendekia mereka iri pada peradaban tetangga yang sedang bersemi kala itu. Sebuah peradaban dimana nilai-nilai agama tak berbenturan dengan ilmu pengetahuan. Dunia hari ini berutang pada peradaban tersebut, karena seluruh ilmu pengetahuan yang kita kenal hari ini sebelum dikembangkan oleh Barat, berhulu pada peradaban ini. Peradaban tersebut adalah peradaban Islam.

Inilah peradaban yang lahir di sebuah wilayah tak berperadaban, yang tak disangka-sangka seabad sejak kelahirannya justru menjadi pemimpin dunia dan menjadi mercusuar ilmu terdepan. Inilah peradaban yang diawali dengan perintah untuk membaca dan Al Qur’an dengan jelas menantang manusia untuk menguak hakekat alam semesta, kehidupan, dan dirinya sendiri sebagai manusia dalam rangka untuk mentauhidkan Allah sebagai Dzat yang Maha Mencipta dan Mengatur itu semua. Maka bersemilah berbagai ilmu yang seluruh muaranya untuk taqarrub illAllah, mendekat kepada Allah. Dalam peradaban Islam, tidak peduli anda belajar fiqih, tasawwuf, atau matematika, fisika, kimia, astronomi, dan geografi, maka anda mendapatkan muara yang sama; mendekat Kepada Allah dan menyadari diri sebagai seorang hamba yang taat pada aturan-Nya.

Menulis itu perlu, membaca itu wajib. Jangan lupa di balik sebuah tulisan ada sebuah pemikiran yang menjadi ruh bagi tulisan kita. Hari ini kita dididik dalam naungan peradaban yang menjauhkan diri dari nilai-nilai Ketuhanan. Tapi kita beruntung mendapatkan diri berstatus sebagai seorang muslim, entah karena warisan atau pencarian iman yang penuh kisah. Sebagai muslim, hal paling dasar yang harus kita lakukan adalah mengikrarkan diri dan melepaskan diri dari belenggu kebodohan. Sebuah kebodohan terbesar ketika kita lupa bahwa posisi kita hanyalah seorang hamba yang tugasnya hanya beribadah kepada-Nya.

Sehebat apapun diri ini, jangan lupa bahwa kita hanyalah seonggok makhluk yang menghuni sebutir debu yang melayang-layang di angkasa raya yang tak terbatas luasnya. Misi selanjutnya sebagai muslim adalah berani mengemban misi untuk membebaskan manusia dari belenggu penjajahan manusia menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan nilai-nilai keduniawian menuju kenikmatan meraih luasnya akhirat, dan kedzoliman tata nilai di luar Islam menuju keadilan Islam. Untuk inilah pena kita harusnya meluncur.

Maka sudah seharusnya kita terus menajamkan pisau pemikiran kita dengan aqidah Islam. Kita harus kembali membuka Al Qur’an dan Hadits Rasulullah. Ingat, menjadi muslim bukan berarti kita bodoh, terbelakang, dan tak berperadaban. Menjadi muslim juga bukan berarti kita anti kemajuan, tidak toleran, dan menjadi kaum bersumbu pendek.

Menulis itu perlu, membaca itu wajib. Namun jangan sekadar menulis dan jangan sekadar membaca. Ada pertanggungjawaban di setiap goresan tinta kita. Maka sebagaimana firman pertama yang turun di bulan mulia kepada manusia paling mulia, “Bacalah” kemudian “Tuliskanlah”!!! []

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *