Mengapa Indonesia Harus Ikut Campur dalam Masalah Uighur?

Share the idea

Tidak semua pihak atau aktor politik internasional mendukung prinsip R2P. Beberapa dari mereka menganggap bahwa kedaulatan suatu negara harus tetap dihargai tanpa memandang kondisi dan situasi. Negara-negara di Asia Tenggara yang tergabung ke dalam regionalisme ASEAN (Association South East Asia Nations) termasuk kubu yang berada di barisan para penolak R2P tersebut.

ASEAN memiliki prinsip yang menolak segala bentuk intervensi atas kedaulatan suatu negara. Prinsip ini dikenal dengan nama ‘Non-Interference Principle’ atau prinsip non-intervensi. Prinsip ini merupakan fondasi bagi kerja sama di antara negara-negara ASEAN. Prinsip non-intervensi dinyatakan dalam Treaty of Amity and Cooperation ASEAN February 27, 1976.

Pada tahun 1997, suara untuk memodifikasi prinsip non-intervensi di ASEAN mulai terdengar. Tepatnya pada Juli 1997, Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim kala itu meminta ASEAN untuk mengadopsi prinsip “constructive intervention” di Kamboja. Satu tahun kemudian, Menteri Luar Negeri Thailand kala itu, Surin Pitsuwan menganggap bahwa prinsip non-intervensi ASEAN harus diganti dengan “constructive intervention” tatkala masalah domestik dalam suatu negara anggota ASEAN mengancam stabilitas regional. Surin kemudian mengembangkanya menjadi “flexible engagement”.

Flexible engagement merupakan trobosan terbaru kala itu untuk perubahan cara diplomasi di ASEAN. Secara sederhana, flexible engagement merupakan perbincangan yang dilakukan antar negara-negara ASEAN demi mendiskusikan masalah-masalah domestik negara-negara tersebut tanpa maksud mengintervensi urusan domestik mereka.

Proposal “flexible engagement” Thailand didukung oleh Filipina, namun mendapat kritikan pedas dari Myanmar sert ditolak oleh Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Akibatnya, prinsip non-intervensi sampai saat ini masih menjadi pedoman bagi negara-negara ASEAN. Hal inilah yang menyebabkan tidak berkutiknya negara-negara ASEAN terhadap beberapa isu kemanusiaan yang terjadi di wilayah kedaulatan sesama anggotanya.

Bagi negara-negara ASEAN, intervensi jelas tidak dibenarkan karena bertentangan dengan prinsip yang selama ini mereka emban, yakni prinsip saling menghormati dan menghargai kedaulatan sesama anggotanya. Konsep itu dikenal dengan nama ‘ASEAN Way’.

Selain itu, R2P juga mendapat kritikan pedas secara praktikal. Hal ini dikarenakan nafsu AS dan para sekutunya untuk menacapkan pengaruhnya di Libya. Intervensi ke Libya pada 2011 merupakan contoh paling baru dari pengejawantahan R2P. Kala itu, Kolonel Qaddafi yang merupakan penguasa Libya dituduh melakukan pelanggaran HAM berat terhadap rakyatnya sendiri. Oleh karenanya, AS dan sekutunya merasa mempunyai tanggung jawab kemanusiaan untuk menghentikan mimpi buruk di sana. Mereka pun melancarkan serangan udara terhadap basis pertahanan loyalis Qaddafi sampai akhirnya sang kolonel terbunuh di tangan rakyatnya sendiri.

Aksi pongah yang dipertontonkan AS dan sekutunya tersebut membuat publik internasional geram. Standar ganda ini menyebabkan konsep R2P secara praktikal diperdebatkan dan mendapatkan kritikan yang tajam.

Sejak AS dan sekutunya mencontohkan secara brutal intervensi kemanusiaan di Libya, prinsip ini akhirnya dipandang jelek oleh sebagian publik internasional. Apa yang dilakukan AS di Libya pada 2011 lalu ternyata justru mendistorsi prinsip mulia dari R2P itu sendiri.

Pemerintah Indonesia tentu saja tidak sejalan dengan R2P atau intervensi kemanusiaan yang dicontohkan oleh Amerika dan sekutunya, namun bukan berarti kemudian Indonesia menolak intervensi kemanusiaan secara keseluruhan. Jika pemerintah Indonesia masih mengaku sebagai bangsa yang beradab dan masih mengaku berpegang teguh pada undang-undang dasarnya, maka sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah Indonesia untuk berperan menghentikan berbagai mimpi buruk kemanusiaan. Tidak terkecuali ikut berperan secara aktif untuk menghentikan apa yang menimpa komunitas Uyghur di Xinjiang, Tiongkok. Sekali lagi ditekankan, bahwa hal ini hanya terjadi jika kita masih mengaku sebagai bangsa yang “beradab”.[]

Sumber:

Anwar Ibrahim (21 Juli 1997). “Crisis Prevention”, dalam Newsweek International.

CNN Indonesia (17/12/18). “JK Tolak Penindasan Terhadap Muslim Uighur di China”. Diakses melalui: https:m.cnnindonesia.com/nasion al/20181217140715-20-354266/jk-tolak-penindasan-terhadap-muslim-uighur-di-china, pada 16/01/2019

Eibhlin O’Neill (29 Desember 2016). “The Story of Turkish Aid to the Irish during the Great Hunger”. Diakses melalui: https:www.transceltic.com/blog/story-of-turkish-aid-irish-during-the-great-hunger, pada 18/01/2019

Gareth Evans (2008). “The Responsibility to Protect : Ending Mass Atrocity Crimes Once and for All”. Washington, D.C.: Brookings Institution Press

Hidayatullah (27/02/2015). “Beginilah Islam Membela Para Muslimah”. Diakses melalui: https:m.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2015/02/27/39594/beginilah-islam-membela-para-muslimah.html, pada 17/01/2019

Linjun WU. “East Asia and The Principle of Non-Intervention: Policies and Practices.” Maryland Series in Contemporary Asia Studies. Number 5-2000 (160).

Ruben Reike. “Libya and Responsibility to Protect: Lessons for the Prevention of Mass Atrocities.” St. Antony’s International Review. Vol 8, No. 1.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *