Mengapa Liberalisme Disebut Sebagai Ideologi Paling Ideal?

Share the idea

Manusia digerakkan oleh dua sebab, yaitu dorongan yang berasal dari luar dan dari dalam dirinya. Dorongan luar dapat berupa persuasi ataupun ancaman. Ancaman biasanya terwujud dalam bentuk kekerasan dan dorongan ini berlaku hanya sementara, karena seseorang hanya akan melakukan suatu hal jika ancaman tersebut bersifat nyata. Namun jika ancaman telah hilang, maka seseorang akan berhenti melakukan suatu hal tersebut.

Lain halnya dengan persuasi, yaitu dorongan yang bersifat ajakan. Jika seseorang menuruti ajakan tersebut, maka ia akan menerima imbalan yang dijanjikan (sifatnya pragmatis dan temporal). Sebaliknya, jika ia tidak segera mendapatkan apa yang dijanjikan, maka ia cenderung untuk memberontak dan ingkar terhadap ajakan tersebut. Oleh karena itu, persuasi ini harus terus menerus dilanjutkan dengan persuasi-persuasi lain agar seseorang bisa terus bertahan dalam ketetapannya mempercayai apa yang dijanjikan oleh sang pemberi persuasi.

Sedangkan sebab yang datangnya dari dalam diri manusia ialah paham atau ide (idea). Ide memiliki dampak yang begitu dahsyat dalam mengendalikan tindak-tanduk manusia. Ide ini berasal dari dua sumber, yakni ia yang datangnya dari Tuhan dan yang datangnya dari manusia. Keduanya memiliki efek yang sama, yaitu dapat menggerakan manusia ke suatu jalan (entah itu kebaikan ataupun keburukan).

Di dunia ini begitu banyak ide, bahkan hampir setiap orang memiliki ide masing-masing di dalam tempurung kepalanya. Namun begitu, hanya ada tiga ide dasar di dunia ini –atau yang umumnya kita sebut sebagai ideologi–, yakni Islam, Komunisme, dan Liberalisme. Jika memang begitu banyak ide yang dilahirkan oleh umat manusia, lantas mengapa hanya terdapat tiga ide dasar? Tiga ide tersebut merupakan pondasi dari berbagai cabang ide di dunia ini. Atau dengan kata lain, berbagai ide di dunia ini pada dasarnya berakar kepada salah satu dari ketiga ideologi tersebut.

Ideologi yang eksis dan sangat populer saat ini adalah Liberalisme, yang dijadikan dasar atas berbagai aturan hidup manusia, baik dalam bernegara maupun dalam beragama. Dalam bukunya yang berjudul ”The End of History and the Last Man”, Francis Fukuyama (seorang ilmuwan politik Amerika Serikat) menyatakan, “Yang kita saksikan sekarang bukan saja akhir dari Perang Dingin, atau berlalunya masa-masa sejarah pasca perang, melainkan akhir dari sejarah itu sendiri, yaitu akhir dari evolusi ideologi manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk pemerintahan manusia paling akhir”.

Liberalisme lahir dari rahim peradaban Barat yang pertama kali terlacak pada zaman Yunani Kuno, yakni saat negara-kota (city-state) di Yunani menerapkan apa yang seringkali kita sebut sebagai “demokrasi”. Demokrasi sendiri merupakan salah satu cerminan pengejawantahan prinsip Liberalisme. Meski pada zaman tersebut penerapan demokrasi masih dalam bentuk demokrasi langsung (seseorang dilibatkan secara langsung untuk memutuskan suatu keputusan – lawan dari demokrasi perwakilan yang saat ini kita terapkan), namun para ilmuan menganggapnya sebagai suatu bentuk kemajuan di masa tersebut.

Liberalisme menemukan momentumnya saat Abad Pencerahan, yaitu ketika bangsa Eropa mulai sadar bahwa otoritas yang mengekangnya merupakan entitas yang harus diruntuhkan. Liberalisme ini kemudian menyebar dan mulai mempengaruhi pemikiran umat manusia.

Tokoh yang populer saat itu ialah John Locke, seorang filsuf Inggris. Ide utama Lock kala itu ialah perihal kebebasan beragama, demokrasi liberal, klasik republikan, dan lain sebagainya. Ia juga yang mempengaruhi pemikiran George Berkley, Jean-Jacques Rousseau, Immanuel Kant, John Rawls, Robert Nozick dan David Hume, yang merupakan parah tokoh pemikir Liberalisme. Selain itu, Locke jugalah yang merupakan seorang pemikir yang mempengaruhi beberapa figur founding father Amerika Serikat dalam merancang konstitusi negaranya kala itu.

Di era modern, perkembangan Liberalisme ditopang oleh sebuah imperium yang berhasil memenangkan pertempuran dalam Perang Dunia I sekaligus Perang Dunia II, yakni Amerika dan sekutu Baratnya. Pasca Perang Dunia, liberalisme mendapatkan tantangan dari rival ideologinya kala itu, yakni Komunisme yang ditopang oleh Uni Soviet. Meski demikian, selama masa tersebut, yakni era Perang Dingin, Liberalisme seakan menunjukkan taringnya bahwa dirinyalah ide yang lebih baik dibandingkan dengan Komunisme.

Saat Perang Dingin telah usai, yang ditandai dengan tumbangnya Uni Soviet sebagai penopang ide Komunisme pada akhir dekade 1980-an, pengukuhan yang menyatakan bahwa Liberalisme sebagai sistem terbaik semakin meluas dan gaungnya semakin nyaring didengar. Komunisme menjadi sebuah ide utopis yang hanya ada dalam pikiran dan takkan pernah bisa diwujudkan. Uni Soviet sebagai satu-satunya model negara yang sukses mengadopsi dan menopang ide tersebut kini telah runtuh. Di saat inilah Liberalisme semakin meneguhkan posisiya bahwa hanya ialah yang layak diemban oleh setiap individu manusia.

Namun, pasca Perang Dingin Liberalisme bukan berarti tanpa tandingan. Tantangan besar terhadap paham ini datang dari salah satu ide dasar lainnya, yaitu Islam. Islam dan Liberalisme merupakan ide yang sama-sama membentuk tingkah-pola setiap individu. Perbedaan signifikan antara keduanya adalah: Islam berasal dari Tuhan yang Esa, Allah; sedangkan liberalisme berasal dari nalar makhluk yang lemah, yakni manusia. Terlepas dari semua itu, keduanya sama-sama membentuk setiap tindak-tanduk manusia di muka bumi ini.

Seseorang yang di dalam dirinya bersemayam salah satu dari kedua ide tersebut, maka setiap jalan hidupnya akan senantiasa dipengaruhi oleh prinsip yang berasal dari ide tersebut. Kekuatan dari ide inilah yang disebut-sebut sebagai faktor penggerak perbuatan manusia yang datang dari dalam diri manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, jika seseorang mengaku telah mengadopsi Islam sebagai prinsip dalam hidupnya namun dalam aktivitasnya tidak mencerminkan prinsip ide keislaman, maka patutlah dipertanyakan, “benarkah Islam sudah menjadi ide yang menempel di dalam dirinya?” Padahal seharusnya, ide itulah yang menggerakan dia untuk beraktivitas sesuai dengan prinsip keislaman.

Islam dan Liberalisme merupakan ide yang berbeda, layaknya air dan api yang saling meniadakan. Artinya, jika ide Liberalisme itu dominan dalam diri seorang individu, maka prinsip-prinsip ide keislaman akan dengan sendirinya menghilang. Begitu juga sebaliknya, jika prinsip Islam yang dominan, maka prinsip Liberalisme akan hilang. Lantas, dapatkah keduanya berkoeksisten jika dosisinya sama?

Itulah yang ingin diterapkan oleh sebagian pengemban ide Islam di dunia ini. Mereka tidak percaya diri dengan ide Islam. Mengapa? Hal demikian terjadi karena mereka melihat fakta, bahwa bangsa Eropa yang di masa lalu pernah mengalami zaman kebodohan, seketika menjadi peradaban yang begitu besar ketika mengadopsi ide Liberalisme. Selain faktor tersebut, mereka juga melihat bahwa hanya Liberalisme lah yang dapat bertahan hingga kini melawan berbagai ide, misalnya Fasisme dan Komunisme.[]

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

Francis Fukuyama. 1992. The End of History and The Last Man.

The Free Press: New York.

Marvin Perry. 2012. Peradaban Barat dari Zaman kuno Sampai Zaman Pencerahan. Kreasi Wacana: Yogyakarta.

Taqiyuddin an-Nabhani. 2012. Peraturan Hidup dalam Islam (Edisi Mu’tamadah). HTI Press: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *