Mengapa Para Pemimpin Dunia Mempelajari Sejarah?

Share the idea

“Kalau ingin menguasai dunia, kuasai dulu ilmu sejarah.”

Mengapa dari berbagai cabang ilmu, seperti matematika, fisika, atau geografi, sejarah memiliki andil sepenting itu? Padahal di masa sekolah, pelajaran ini adalah obat paling mujarab bagi penderita insomnia akut. Matematika memang sulit, tapi masih banyak kita temui remaja yang menggemarinya. Begitu pula fisika, kimia, geografi, biologi, juga bahasa Inggris atau bahasa Mandarin sekalipun. Tapi sejarah? Jarang sekali remaja, pelajar, bahkan mahasiswa yang menyukainya.

Bosan, ngantuk, jadul. Itulah suasana yang tercipta ketika pelajaran ini hadir. Gambaran kelas sejarah adalah seorang guru atau dosen tua dengan buku-buku lama yang tebal dan kisah orang-orang lama serta seisi kelas yang menunduk dengan takzim; tidur. Lantas, mengapa harus sejarah?

Ternyata, sejarah adalah pelajaran favorit para pemimpin dan penguasa, para komandan perang, penakluk, juga para penjelajah dan petualang. Mulai dari Rasulullah Muhammad hingga Napoleon Bonaparte. Mulai dari Khalid ibn Walid, Muhammad Al Fatih, Soekarno, hingga Erwin Rommel.

Tentu bukan tanpa sebab mereka menyukai sejarah. Karena mereka semua sadar bahwa sejarah tidak hanya berisi cerita, tapi bagi mereka sejarah adalah rumusan untuk menaklukkan dunia.

Pernahkah kita membayangkan memiliki sebuah mesin waktu? Alangkah asiknya kita bisa berwisata dan bertualang di tempat-tempat menarik di seluruh dunia tanpa dibatasi waktu. Kita juga bisa berjumpa dengan tokoh-tokoh besar. Kita bisa belajar silat dengan para pendekar silat terbaik di tanah Jawa di era Majapahit atau menyerap ilmu saktinya Hang Tuah. Ikut mengarungi lautan dan bertualang bersama Laksamana Cheng Ho. Bisa ikut kuliah bersama dengan Imam Syafi’i, Ibn Sina, Leonardo Da Vinci, Ibn Khaldun, Isaac Newton, hingga Einsten. Juga bisa menikmati fasilitas kuliah gratis di Al Qarawiyyin atau Baytul Hikmah.

Dengan mesin waktu kita juga bisa menyaksikan aneka peristiwa penting di dunia, menyaksikan Ibnu Firnas hingga Wright bersaudara menerbangkan pesawat, menjadi saksi perumusan piagam Jakarta hingga dibacakannya teks proklamasi di Jakarta oleh Soekarno-Hatta. Dan betapa mengasikkannya apabila kita memiliki mesin waktu kita bisa hadir dan ikut berjamaah di majelis Rasulullah dan para sahabat di Madinah. Tapi kita tidak perlu gusar, karena rekreasi yang mengasikkan bisa kita nikmati dengan menyelami sejarah.

Selain fungsi rekreatif, sejarah juga menampilkan berbagai tokoh-tokoh dan peristiwa inspiratif. Kita bisa mendapat jutaan inspirasi dari sosok Rasulullah dan para sahabatnya. Kita juga bisa mendapat inspirasi dari peristiwa dibakarnya kapal di pesisir Spanyol oleh Thariq bin Ziyad. Kita bisa teinspirasi bagaimana Shalahudin Al Ayyubi menyemangati pasukan jihadnya dengan peringatan Maulid Nabi, atau bagaimana Muhammad Al Fatih mempelajari berbagai strategi perang para pemimpin dan para pendahulunya hingga dapat menjebol benteng terkuat; Konstantinopel. Dengan sejarah kita bisa meraup milyaran luapan semangat, ide-ide brilian, sarana pelatihan mental, hingga kebiasaan positif secara gratis dari para tokoh-tokoh dunia.

Ada pula kisah menarik tentang ilmu ini. Ketika seru-serunya perang dunia kedua, Jenderal Erwin Rommel, komandan divisi tank NAZI Jerman dengan jujur mengatakan bahwa ia terinspirasi Khalid ibn Walid.

Bukan hanya terinspirasi, Rommel terbukti mampu menjabarkan kembali strategi perang yang pernah digariskan salah satu jenderal muslim terbesar tersebut. Unit Rommel terkenal dengan sebutan ghost unit karena kecepatannya meraih kemenangan dan merebut wilayah-wilayah penting di Pertempuran Prancis. Jelas ia mencontek Khalid yang terus-menerus menggerakkan kavaleri berkudanya berjihad mengalahkan Persia kemudian bertempur melawan Romawi di Syam dengan kecepatan yang bahkan mengalahkan kecepatan pasukan kavaleri Hannibal beberapa abad sebelumnya. Rommel juga mampu merumuskan kembali strategi withdrawl Khalid di perang Mu’tah ketika ia mampu menyelematkan pasukannya di medan perang Afrika Utara. Instruktif atau mengajarkan berbagai hal teknis (termasuk strategi perang) itulah fungsi sejarah berikutnya. Erwin Rommel terbukti mampu menggunakan fungsi tersebut melalui pendalaman pada sosok Khalid ibn Walid yang hidup ratusan tahun di belakangnya.

Dan akhirnya selain tiga fungsi di atas, sejarah juga menampilkan ibrah atau pelajaran bagaimana sebuah bangsa atau peradaban yang agung kemudian jatuh dan dilupakan zaman. Dari hal ini, sejarah seakan menggiring generasi berikutnya agar belajar dan mampu membuat peradaban yang lebih megah, kuat, dan berdaya tahan tinggi menghadapi zaman.

Al Qur’an seringkali mengisahkan bangsa-bangsa terdahulu untuk dijadikan pedoman agar kita tidak berbuat senaif dan sebodoh bangsa-bangsa tersebut yang hari ini telah dan hanya menjadi puing-puing bersejarah.

Ya, itulah 4 fungsi sejarah menurut Louis Gottschalk. Sebuah alasan sempurna mengapa pelajaran ini menjadi idaman para pemimpin dan penguasa dunia. Kalau hari ini pelajaran sejarah membosankan, kalau hari ini pelajaran sejarah hanya menghasilkan dengkuran dan ingus, maka janganlah menyalakan guru-guru sejarah di sekolah. Ingatlah, bahwa pasca diruntuhkannya institusi Kekhilafahan di Turki, Mustafa Kemal sang penjagal langsung mengubah kurikulum pelajaran sejarah. Ya, ada sebuah tangan konspirasi yang bermain membuat agar sejarah (terutama sejarah yang diajarkan di negeri-negeri muslim) terselewengkan, rusak, terbalik, gelap, serta membosankan. Mereka takut apabila generasi muslim menyukai sejarah dan memahami sejarah diri mereka secara benar, maka sudah jelas siapa yang akan menjadi pewaris bumi berikutnya.[]

Sumber:

Louis Reichenthal Gottschalk. 1961. Understanding history: A primer of historical method. A. Knopf: New York.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *