Mengapa Peradaban Islam Mengalami Kemunduran?

Share the idea

KEMUNDURAN FIQIH ISLAM

Setelah masa perkembangan yang sangat gemilang dalam ilmu fiqih yang ditandai munculnya mazhab-mazhab fiqih yang merupakan produk ijtihad dari para mujtahid, kemudian muncul generasi para pengikut mazhab dan orang-orang yang bertaqlid pada mazhab-mazhab itu. Mereka tidak mengikuti metode yang ditempuh para imam dalam hal ijtihad dan penarikan kesimpulan terhadap suatu masalah seperti mengkaji dalil-dalil dan menjelaskan aspek pengambilan dalil, namun hanya berfokus pada mendukung cabang-cabang dan ushul-ushulnya dengan segala cara. Hal ini menyibukkan dan memalingkan para ulama mazhab-mazhab dari mengkaji sumber dalil yang paling dasar yakni Al-Qur’an dan hadits.

Dengan demikian, pembahasan-pembahasan mereka terbatas pada mazhab-mazhab mereka dan melemahkan semangat mereka dari melakukan ijtihad mutlaq dan dari merujuk kepada sumber hukum utama. Hingga muncul anggapan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup.

Akibatnya, kebanyakan para ulama yang terdiri dari mereka-mereka yang ahli dalam ijtihad, dan terpenuhi dalam diri mereka keahlian berijtihad tidak berani melakukan ijtihad, dan tidak berani mengatakan bahwa mereka adalah mujtahid. Kemunduran ini telah tampak pada akhir abad ke-10 M. Awal abad ke-13 M sampai akhir abad ke-19 M merupakan kemunduran total meskipun masih dalam batasan-batasan Islam. Namun, setelah akhir abad ke-19 M sampai sekarang kemundurannya mencapai batas hingga bercampurnya hukum-hukum syara’ dengan perundang-undangan yang tidak islami. Kondisinya sampai pada batas kemerosotan yang paling dalam.

SALAH KAPRAH MENYIKAPI KEMAJUAN BARAT

Akibat dari kemerosotan fiqih menjurus kepada sulitnya mengarahkan manusia untuk menjalankan hukum-hukum syara’. Setelah meluasnya keberadaan syariat Islam di segala penjuru dunia, dimunculkan propaganda bahwa syariat Islam mempersempit para pemeluknya, sehingga mereka dipaksa merasakan undang-undang selain syariat Islam. Pada masa akhir Daulah Utsmaniyah kekeliruan para fuqaha menjadi penyebab utama kemerosotan umat.

Pada saat itu terdapat para fuqaha yang selalu siap berfatwa dengan mengharamkan segala hal yang baru dan mengafirkan semua pemikir intelektual. Di antara kekeliruan besar itu ialah ketika muncul percetakan-percetakan dan Daulah berniat mencetak Al-Qur’an Al-Karim tetapi sebagian fuqaha mengharamkan pencetakan Al-Qur’an.

John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford mengungkapkan, salah satu alasan terlambatnya perkembangan percetakan di dunia Islam karena adanya penolakan dari kalangan pemuka agama. Ada dua alasan utama penolakan hal tersebut, yaitu karena itu adalah teknologi orang kafir dan ada kekhawatiran ilmu tersebar secara tidak terkontrol dan tidak dipertanggungjawabkan.

Sangat nyata bahwa umat Islam salah kaprah dalam memandang perkembangan teknologi. Mereka tidak mampu memilah antara hadharah dan madaniyah. Hingga akhirnya percetakan mulai dikembangkan di Timur Tengah oleh Ibrahim Muteferrika (1674-1754 M). Selama lebih dari 10 tahun, Ibrahim mencoba meyakinkan Kesultanan Usmaniyah atau Turki Usmani dan para syekhnya agar tak menolak kehadiran percetakan di dunia Islam.

REFORMASI LIBERAL

Akibat terhentinya aktivitas ijtihad di dalam Daulah Khilafah Utsmani, mereka kemudian mencoba menyelesaikan persoalan dalam negerinya dengan mengambil kiblat kepada musuh bebuyutannya, yaitu Barat. Negara-bangsa Eropa dianggap sebagai model berharga untuk ditiru dan para ahli didatangkan dari Eropa untuk mengarahkan perubahan yang diyakini sangat diperlukan Daulah Utsmani. Perubahan Era Tanzimat yang bertujuan untuk mereformasi Daulah meliputi sistem pos modern, bank nasional, sensus, reformasi pajak, parlemen, dan lagu kebangsaan Utsmani. Sistem pendidikan dirombak agar sejalan dengan sistem Perancis. Berdasarkan ide dari Barat, pendidikan sekuler perlu lebih mendapatkan dukungan melebihi pendidikan agama yang telah menjadi norma sepanjang sejarah Islam.

Sebagian pejabat pemerintahan berpendidikan Barat, yang dikenal sebagai Turki Muda, meyakini kegagalan Tanzimat pada 1876 karena kurang liberal. Sehingga mereka semakin mendorong sekularisme Eropa dan membatasi kekuasaan Sultan lebih jauh. Sampai akhirnya ketika institusi politik Islam yang bernama khilafah dan pemimpinnya yang disebut khalifah dianggap tidak mampu untuk mencegah kemunduran Utsmani dan dihapus secara total dari kehidupan bangsa Turki. []

Sumber :

Al-Hassani ST. 1001 inventions: The enduring legacy of Muslim civilization. National Geographic Books; 2012.

An-Nabhani T. Kepribadian Islam Jilid I. HTI Press; 2008.

As-Sirjani R. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Pustaka Al Kautsar; 2012 Jan 2.

Alkhateeb F. Sejarah Islam yang Hilang; Menelusuri kembali Kejayaan Muslim pada Masa Lalu. Bentang Pustaka; 2016.

Basya AF. Sumbangan Keilmuan Islam pada Dunia. Pustaka Al Kautsar; 2015.

Zahw MA. The history of hadith: historiografi hadits Nabi dari masa ke masa. Keira Publishing; 2015.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *