Mengapa Raja Rusia Menolak Islam?

Share the idea

Pada 980-1015 M, kerajaan Rusia dipimpin oleh Vladimir I (Sviatoslavich) “The Great”, anak dari raja Svyastoslaw yang kekuatannya sanggup membuat ciut Raja Bulgaria, Raja Khazar, bahkan Kaisar Byzantium di Konstantinopel.

Vladimir I sedang galau. Walau kekuatannya ditakuti, namun ia menyadari bahwa kekuasaannya tak akan bisa disejajarkan dengan rival-rivalnya di Eropa jika negaranya masih memeluk agama penyembah berhala warisan founding fathers bangsa Rusia. Vladimir berpandangan, setidaknya ada empat agama dunia yang mampu memperkokoh hegemoninya karena jaringan agama-agama itu bersifat transnasional; Islam, Yahudi, Katolik Roma, dan Kristen Ortodoks.

Putra Svyastoslaw ini mulai mencermati satu per satu agama, hingga pilihannya jatuh pada Kristen Ortodoks. Lantas, mengapa ia menolak Islam? Karena menurutnya, Islam itu sangat ekstrem; melarang minum alkohol dan makan babi, dimana aturan tersebut tidaklah sesuai dengan “kearifan lokal” masyarakat Rusia yang gemar mengonsumsi keduanya.

Ia juga menolak agama Yahudi dan Katolik Roma, karena melihat potret peradaban fisik mereka yang amburadul (saat itu ia berkuasa pada akhir abad ke-10). Maka, dibaptislah Vladimir sebagai Kristen Ortodoks. Menurut pandangannya, agama tersebut sangatlah bagus dengan potret peradaban fisik Ortodoks di Konstantinopel yang mengagumkan, tidak mengganggu “kearifan lokal” masyarakat Rusia, dan yang paling penting adalah agama tersebut dapat menyejajarkannya dengan kerajaan-kerajaan lain di Eropa.

Dari kisah tersebut dapat kita cermati, bahwa yang menjadi motif Vladimir I untuk mencari agama baru adalah unsur kepentingan, bukan kebenaran. Hal ini ternyata tidak hanya menimpa Raja Rusia tersebut. Sejak dulu, sudah tak terhitung jumlah penguasa di setiap tempat dan zaman yang menjadikan kepentingan dunia sebagai motifnya untuk menganut suatu aturan hidup.

Begitu pun hari ini. Ada seorang penguasa di negeri mayoritas Muslim yang mengaku beragama Islam dan dekat dengan ‘ulama’. Namun, ia enggan menerapkan aturan Islam karena penerapan Islam secara keseluruhan itu dianggap dapat mengancam stabilitas nasional, menghambat investasi, mengganggu kearifan lokal, dan lain sebagainya. Ia melihat Islam dengan kacamata kepentingan, bukan kacamata kebenaran.

Padahal andai penguasa tersebut melihat Islam dengan melepas “kacamata kuda”nya dan jernih menggunakan akal serta nuraninya, maka tidak akan ada keraguan baginya untuk menerapkan syariat agama ini tanpa kompromi dan parsial!

Keangkuhan si penguasa itu dalam menolak penerapan Syariat Islam karena tersandung kepentingannya mulai berbuah petaka. Bagaimana mungkin, negara di bawah kekuasaannya yang memiliki garis pantai sepanjang 99.093 km masih mengimpor garam dari luar negeri? Negara dengan SDA melimpah masih mengharap utang kesana-kemari?

Hobinya mencari hutang hingga menumpuk ribuan triliun pun menyebabkan ia terancam impeachment oleh hukum yang dibuat olehnya dan teman-teman seperjuangannya. Belum lagi kekalapannya terhadap seruan-seruan kebenaran yang diwaswasi mengancam kepentingan kubu penguasa, menjelmakan tangannya menjadi tangan besi, yang membuat dirinya makin dibenci.

Dan yang lebih mengenaskan adalah, fenomena sejenis tidak hanya terjadi di negeri tersebut, namun di berbagai negeri muslim yang lain.

Yakinlah, bahwa tidak ada penguasa kalap-diktator yang bisa tidur nyenyak di malam hari. Kedzaliman penguasa angkuh yang terpampang nyata akan memunculkan gerakan rakyat dari hati nurani. Di sisi lain, seruan kebenaran Islam yang terus digaungkan oleh kelompok yang saat ini ditakuti rezim, makin mendapat tempat di hati rakyat. Pada akhirnya, penguasa itu akan tertegun; mempertahankan status-quo kepentingan tidak akan pernah sanggup menghalangi arus deras kebenaran. []

Wallahu a’lam [].

Sumber :

Susan Wise Bauer. 2016. Sejarah Dunia Abad Pertengahan. Elex Media Komputindo: Jakarta

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *