Mengapa Sekularisme, Pluralisme, Dan Liberalisme Semakin Berkembang Di Indonesia?

Share the idea

Penulis: Ibnu Aghinya

Meski Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional (Munas) VII yang digelar pada 26-29 Juli 2005 sudah mengeluarkan fatwa haramnya mengikuti paham SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme), namun sepertinya fatwa ini hanya dianggap angin lalu saja oleh sebagian besar umat Islam Indonesia.

Fatwa yang ditetapkan oleh KH. Ma’ruf Amin 16 tahun silam ini, seakan bukan sesuatu yang harus disikapi serius oleh umat Islam di Indonesia. Kini, SEPILIS kian meluas dan menjangkiti hampir sebagian besar umat Islam Indonesia. Bahkan, tak berlebihan jika ia telah menjadi opini umum yang diyakini sebagai ideologi paling ideal dan cocok untuk mengatur kehidupan di republik ini.

Jika dulu kita hanya mengenal gerombolan Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai pengasong ide-ide SEPILIS di tengah umat Islam Indonesia, maka para penjaja SEPILIS saat ini berasal dari latar belakang yang lebih heterogen. Mulai dari para pegiat media sosial hingga kalangan militer, semuanya berlomba-lomba untuk mempromosikan ide-ide SEPILIS ke tengah-tengah umat. Dengan sangat percaya diri dan haqqul yaqin bahwa itulah jalan yang benar, mereka bersemangat untuk melakukan penghancuran nilai-nilai dasar keislaman secara terang-terangan.

Tentu kita bertanya-tanya. Kenapa semakin hari ide-ide sesat ini semakin mendapatkan momentumnya dalam memengaruhi opini publik?

Alih-alih hanya melempar kesalahan kepada orang-orang jahil yang berbicara di luar kapasitasnya, permasalahan ini justru lebih disebabkan oleh orang-orang yang dilabeli sebagai “ulama” dan “cendekiawan muslim”. Daya rusak pemikiran dari tokoh yang memiliki jabatan dan massa, jauh lebih dahsyat dibanding para awam maupun orang-orang jahil yang merasa dirinya berilmu.

Nyatanya, inilah yang terjadi. Banyak orang yang mengikuti ide-ide SEPILIS bukan karena paham mengenai ide-ide sesat tersebut, tapi karena siapa yang mempromosikan ide-ide tersebut.

Hal ini kemudian memunculkan tanda tanya di benak kita. Mengapa orang-orang yang justru berasal dari institusi keislaman dan memiliki gelar di bidang keislaman, justru menjadi pihak yang paling getol dalam melancarkan perusakan terhadap dienul Islam itu sendiri?

Mungkin saja kita bisa mengatakan bahwa mereka sedang khilaf, tersesat, belum dapat hidayah, dan sebagainya. Namun, jika kasus-kasus tersebut memang disebabkan oleh kekhilafan dan semacamnya, seharusnya jumlahnya tidak seberapa. Karena yang namanya oknum, harusnya bersifat kecil dan hanya beberapa saja. Namun masalahnya, kasus-kasus perusakan agama yang berasal dari ide-ide SEPILIS ini sifatnya luas dan terjadi secara terus-menerus. Pasti ada penyebab laten yang tersistematis dan bersifat kontinyu.

Menurut Dr. Adian Husaini, fenomena perusakan keislaman yang dilakukan kalangan cendekiawan muslim ini tak terlepas dari penyakit kronis yang ada di dalam sistem pendidikan perguruan tinggi Islam di negeri ini. Menurut beliau, semuanya bermula pada tahun 1970-an, ketika terjadi pembaruan mendasar dalam kurikulum pendidikan perguruan tinggi Islam. Kala itu, Prof. Dr. Harun Nasution yang baru saja pulang dari studinya di McGill University mencanangkan sebuah konsep pembaruan pendidikan di perguruan tinggi Islam.

Prof. Dr. Harun Nasution yang pemikirannya sangat dipengaruhi oleh para orientalis Barat, amat bersemangat untuk melakukan “pencerahan” kepada umat Islam di Indonesia dengan sebuah terobosan pemikiran. Upaya ini bukan tanpa perlawanan. Prof. Dr. HM. Rasjidi (Menteri Agama RI pertama) merasa perlu untuk memperingatkan menteri agama kala itu dan umat Islam pada umumnya, mengenai bahaya pemikiran serta metodologi keilmuan Islam yang dibawa oleh Prof. Dr. Harun Nasution dan hendak diterapkan di lembaga pendidikan.

Namun, upaya perlawanan yang dilakukan oleh Prof. Dr. HM. Rasjid itu tak berhasil. Sebab, pemerintahan Orde Baru kala itu juga sedang gencar melakukan program deislamisasi, de-ideologi Islam, de-politisasi Islam yang dipandang sebagai ancaman baru pasca tumbangnya kekuatan kiri di Indonesia.

Walhasil, rencana besar yang dicanangkan Prof. Dr. Harun Nasution itu terus dilanjutkan dan mulai menuai hasilnya pada dekade-dekade selanjutnya. Tentu kita mengenal sosok seperti Nurcholish Madjid yang identik dengan pemikiran sekularisasi Islam dan jargon “Islam Yes, Partai Islam No”, serta beberapa intelektual muda lainnya yang vokal dan terbuka dalam menggaungkan ide SEPILIS.

Menurut Dr. Adian Husaini, terdapat perbedaan paradigma dalam studi Islam antara metode klasik yang diwariskan oleh peradaban Islam, dengan metode orientalisme yang disusun oleh para orientalis. Dalam metode klasik, Islam dipelajari untuk diyakini dan diamalkan. Sedangkan dalam metode orientalis, Islam dipelajari hanya sebatas obyek penelitian yang bisa dikritisi dan bahkan diragukan otentisitasnya.

Sikap kritis yang dilahirkan dari paradigma studi keislaman ala orientalis yang kini menjangkiti lembaga pendidikan Islam, bukan saja diarahkan pada pendapat para ulama Islam, namun juga menjangkau hingga nash-nash agama (Al-Qur’an dan Sunnah).

Nash-nash agama dipandang hanya sebagai produk kebudayaan yang harusnya mampu menyesuaikan diri dengan konteks zaman. Dari sinilah kita sering mendengar istilah “Islam Kontekstual”, untuk membedakannya dengan “Islam Tekstual” yang dianggap hanya membebek pada teks-teks agama dan tidak progresif.

Efeknya, terjadilah perombakan besar-besaran dalam memahami Islam itu sendiri di lingkungan lembaga pendidikan Islam.

Ketentuan tentang pernikahan beda agama, hukum poligami, kewajiban berjilbab, konsep Daulah Islam, dan berbagai ketentuan lain di dalam agama yang selama ini sudah mapan dalam tradisi keilmuan Islam, hendak dirombak dan dikontekstualisasikan dengan masa kini.

Bahkan perombakan itu tak berhenti pada level syariat saja, namun juga mulai merangsek pada tataran aqidah. Pluralisme agama yang merupakan suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama relatif, kini semakin ngetrend. Islam liberal yang mempertanyakan maslahat atas berbagai syariat, terus digaungkan kembali. Asas-asas kemanusiaan yang berkiblat pada HAM, posisinya diletakkan lebih tinggi dan lebih utama dari dalil-dalil agama. Dan banyak sekali contoh-contoh serupa yang disebabkan oleh perubahan paradigma keilmuan yang digunakan.

Kalau kita telusuri lebih jauh lagi, keputusan untuk mengambil paradigma orientalis dalam studi Islam ini tak lepas dari sikap inferioritas terhadap pemikiran dan peradaban non-Islami.

Sebagian besar cendekiawan muslim merasa kerdil ketika berhadapan dengan tradisi keilmuan Barat yang dipandang lebih tinggi dan mapan. Sepertinya mereka lupa bahwa pemikiran dan peradaban Islam juga tak kalah hebat, bahkan lebih cemerlang lagi. Sebuah peradaban yang dibangun di atas pondasi aqidah Islamiyah yang kokoh dan kepercayaan diri yang tinggi. Sebuah peradaban yang bukan terpengaruh oleh pemikiran asing, namun justru mampu mengislamisasi pemikiran asing tersebut. Sebuah peradaban yang meyakini betul sabda Nabi yang menyatakan, Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.[]

Sumber:

Husaini, Adian. 2016. Hegemoni Kristen Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: Gema Insani).

Jaiz, Hartono Ahmad. 2006. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar).

Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 (diunduh dari: http://mui.or.id/wp-content/uploads/files/fatwa/12.-Pluralisme-Liberalisme-dan-Sekularisme-Agama.pdf)

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *