Mengapa Syari’at Islam Terkesan Demikian Ketat dan Kejam?

Share the idea

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.” (TQS al-Baqarah [2]: 179)

Dalam Islam, hukuman setidaknya memiliki 2 fungsi: penebus dosa (jawabir) dan pemberi efek jera yang mencegah masyarakat melakukan tindak kejahatan serupa (zawajir).

Misalnya dalam kasus pembunuhan. Hukuman qishash ditetapkan untuk menjaga jiwa. Bahkan jika keluarga korban sudah memaafkan sekalipun, pelaku tetap diwajibkan membayar denda setara 100 ekor unta. Sebab, jika pembunuh mengetahui hukumannya itu, normalnya, ia akan berpikir ribuan kali untuk melakukan pembunuhan.

Fungsi yang sama juga berlaku atas hukum potong tangan bagi yang mencuri setidaknya seperempat dinar, muslim yang murtad atau sengaja meninggalkan sholat fardhu sehingga harus dibunuh, serta rajam maupun cambuk bagi para pezina. Coba renungkan: mengorbankan nyawa seorang pembunuh demi menyelamatkan ribuan nyawa orang lain yang baik-baik, atau mengorbankan satu nyawa tapi berjuta laki-laki dan perempuan suci selamat dari kejahatan kelamin, atau mengorbankan satu telapak tangan demi menyelamatkan seantero negara dari maling, bukankah hal yang selama ini disebut HAM sebagai kekejaman yang ketinggalan zaman itu, justru menjadi sumber kebaikan?

Lantas, bagaimana Islam mendefinisikan kejahatan?

Sederhana. Kejahatan adalah segala perbuatan yang tercela. Pertanyaannya, tercela berdasarkan standar siapa? Tentu saja berdasarkan apa yang dicela oleh Allah. Artinya, suatu perbuatan tidak akan dianggap sebagai kejahatan, kecuali syara’ menetapkan bahwa perbuatan itu tercela. Tidak lebih, tidak kurang.

Ingat. Standarnya adalah syara’. Bukan manusia, bukan hak asasi manusia, apalagi consent dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Ketika syara’ telah menetapkan bahwa perbuatan itu tercela, maka sudah pasti perbuatan itu disebut sebagai kejahatan. Tak peduli besar atau kecil, keduanya adalah kejahatan. Dan ketika suatu perbuatan sudah ditetapkan sebagai kejahatan, di saat itulah syara’ mewajibkan pemberian sanksi atasnya.

Bagaimanapun, kejahatan bukanlah sesuatu yang fitri (ada dengan sendirinya) pada diri manusia. Kejahatan juga bukan profesi yang bisa diusahakan, dan juga bukan penyakit yang menimpa manusia. Kejahatan, adalah tindakan yang melanggar aturan yang mengatur perbuatan manusia: dalam hubungannya dengan Tuhannya, dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, dan atas hubungannya dengan manusia lainnya.

Karena bagaimanapun, manusia sebagai makhluk sosial yang bernaluri dan memiliki kebutuhan, haruslah memiliki aturan. Dan jika pemenuhan atas naluri maupun kebutuhan itu dibiarkan tanpa aturan, apalagi tanpa aturan dari yang menciptakan manusia, tentu akan mengantarkan pada pemenuhan yang keliru hingga kekacauan.

Itulah sebabnya, Allah mensyariatkan halal dan haram. Tak peduli ada maslahat atau tidak, muslim atau kafir, laki-laki maupun perempuan, syariat Islam ada untuk menyelesaikan permasalahan manusia.

Perintah dan larangan ini tak akan berarti jika tak ada sanksi bagi yang melanggarnya. Dan syari’at Islam pun menjelaskan, bahwa bagi para pelanggar akan dikenai sanksi di dunia dan di akhirat.

Sanksi di dunia, yang tentu saja didasarkan pada syariat Islam, dilaksanakan oleh imam (Khalifah) atau orang yang mewakilinya. Yaitu dilakukan oleh negara dengan menegakkan sanksi yang telah ditetapkan Allah. Adapun sanksi yang diterima di dunia, seiring dengan taubat yang dilakukan, maka dapat menghapuskan sanksinya di akhirat. Hal ini karena, sebagaimana yang disebutkan di awal, hukuman dapat berfungsi sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa dan sanksi di akhirat).

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, dari ‘Ubadah bin Shamit berkata,

“Kami bersama Rasulullah dalam suatu majelis dan beliau bersabda, “Kalian telah memba’iatku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak berzina, kemudian beliau membaca keseluruhan ayat tersebut. “Barangsiapa di antara kalian memenuhinya, maka pahalanya di sisi Allah, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu, maka sanksinya adalah kifarat (denda) baginya, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu, maka Allah akan menutupinya, mungkin mengampuni atau (mungkin) mengazab.”

Hadits ini menjelaskan, bahwa sanksi dunia diperuntukkan untuk dosa tertentu, yakni sanksi yang dijatuhkan negara bagi pelaku dosa. Sanksi yang didasarkan atas syariat Islam ini, dapat menggugurkan sanksi akhirat. Karena itulah, para pelaku zina di masa Nabi, seperti Ma’iz bin Malik maupun perempuan dari suku Juhainah, secara sukarela mengakui perzinaannya dan dirajam hingga mati. Mereka sudi menanggung sakitnya hukuman di dunia, karena takut akan azab akhirat.

Uniknya, inilah komentar Rasulullah,

“Sungguh, ia telah bertaubat. Seandainya taubatnya dibagi antara 70 penduduk Madinah, niscaya akan tertutup semuanya.”

Anehnya kita, dengan kesempurnaan Islam itu, masih saja mencari solusi dengan hukum sekular. Syariat Islam, selain dicap kejam dan tak cocok diterapkan di masa modern, hanya digunakan ketika menikah dan pengurusan jenazah.

Ini agama apa restoran prasmanan?[]

Sumber: Abdurrahman al-Maliki dan Ahmad ad-Da’ur. 2004. Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian dalam Islam. Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *