Mengenal Van Heutsz: Bapak Nasionalisme Indonesia Sesungguhnya

Share the idea

Pernyataan dalam judul artikel mungkin menghentak kita. Bukankah nasionalisme negeri ini dikukuhkan oleh para founding fathers bangsa seperti Soekarno, Hatta, Agoes Salim, Tan Malaka dan Soetan Sjahrir? Bukankah “kesadaran nasional” pertama kali dihembuskan oleh gerakan-gerakan seperti Sarekat Islam, Boedi Oetomo, Jamiet Chair, atau ISDV?

Tentu nama-nama itulah yang selama ini diajarkan di sekolah. Kurikulum pendidikan sejarah nasional yang bertujuan “membangun jiwa patriotis” sudah pasti akan mengenyahkan nama penjajah sebagai “pembangkit kesadaran nasional”. Lagipula, bukankah J.B. van Heutsz (k. 1904-1909) adalah Gubernur Jenderal pemerintah kolonial Belanda yang tangannya basah oleh darah segar orang Aceh, Bali, sampai Bone?

Walau demikian, suka tidak suka, para nasionalis Indonesia harus menyalurkan sebagian royalti lagu kebangsaan “Dari Sabang Sampai Merauke” kepada van Heutsz. Karena pada faktanya, van Heutsz adalah orang pertama yang memiliki impian mempersatukan dan menjaga keutuhan wilayah yang hari ini dikenal sebagai Republik Indonesia.

Jauh sebelum entitas negara Indonesia lahir; sebelum nama “Indonesia” banyak diucap orang; negeri ini dikenal sebagai “negeri di bawah angin” (bilad tahta al-rih); atau tanah Jawi; atau lebih mudah kita gunakan saja istilah Nusantara.

Dulu, wilayah Nusantara tidak hanya terdiri dari wilayah Indonesia saat ini, namun juga meliputi Pattani (Thailand), semenanjung Malaya, Brunei, sampai Sulu dan Maguindanao (Filipina).

Kekuasaan di sepanjang kepulauan yang teruntai bagai ratna mutu manikam ini memang banyak, namun pada umumnya mereka memiliki kesamaan identitas: Islam, berbahasa Melayu, dan sikap tunduk (atau setidaknya hormat) kepada Khalifah Utsmaniyyah yang bersinggasana di Istanbul.

Muslim di Pattani, Thailand

Maka tentu saja saat ini kita bertanya-tanya. Apabila wilayah nusantara pernah mencapai semenanjung malaya, Brunei, bahkan sebagian Thailand dan Filipina, serta memiliki warna kulit yang sama, rumpun bahasa yang sama, tunduk pada satu otoritas yang sama, bahkan bersatu dalam agama yang sama…

Lantas, mengapa kita terpecah menjadi beberapa negara yang berbeda?

Mengapa wilayah Indonesia meliputi Sabang sampai Merauke? Mengapa Kalimantan yang merupakan satu pulau, terdapat tiga negara? Siapa yang menentukan itu semua? 

Nusantara, yang dipecah-pecah oleh penjajah

 Setelah abad ke-15 M, wilayah Nusantara ini menjadi ring tinju bangsa-bangsa Eropa yang saling bersaing. Para penjajah banyak menaklukkan kekuasaan yang ada di Nusantara.

Sampai akhir abad ke-19, kekuasaan Eropa makin mapan dengan didudukinya Indo-Cina oleh Prancis, Filipina oleh Spanyol kemudian Amerika, Semenanjung Malaya dan Borneo Utara oleh Inggris, dan pulau Sumatera sampai Papua oleh Belanda.

Dalam kasus Belanda, wilayah yang berhasil mereka taklukkan kemudian dinamakan “Hindia-Belanda”. Namun, apakah benar mereka berhasil menaklukkan seluruh wilayah yang diklaim sebagai “Hindia-Belanda” dan menjajah Indonesia selama 350 tahun? Tentu tidak. Sampai tahun 1904, sultan Aceh, Bone, dan raja-raja Bali masih gagah menolak tunduk kepada penjajah.

Dan inilah van Heutsz yang berhasil naik menjadi Gubernur Jenderal pada tahun 1904. Dia adalah seorang Belanda liberal yang bervisi ethici, pengusung Politik Etis yang hendak “memperadabkan rakyat Hindia”.

Sebelum memangku jabatan tertinggi di Batavia itu, van Heutsz sudah populer sebagai pembantai brutal bangsa Aceh. “Kuburan Kompeni di Kutaraja, Aceh, telah menjadi peninggalan sejarah akan kehebatan perang kolonial,” sindir Pramoedya Ananta Toer dalam Jejak Langkah (2015: 323). “Kuburan semacam itu akan diperluas (van Heutsz) di Celebes, Maluku, dan Sunda Kecil.”

Dengan memaksa para penguasa Nusantara menandatangani korte verklaring (penyataan pendek) sebagai simbol tunduknya mereka kepada ratu dan bendera Belanda, van Heutsz berhasil menggapai impiannya dengan mewujudkan kesatuan seluruh wilayah Hindia-Belanda.

Dari sini Robert van Niel (2009: 70) menulis, “Sesudah tahun 1904, orang dapat berkata mengenai Hindia Belanda sebagai suatu kesatuan geografis-politis dengan perluasan daerah dan kekuasaan politik ke seluruh kepulauan Hindia.”

“Indonesia modern,” lanjut van Niel, “adalah lanjutan teritorial negara birokratik modern ini, yang dibentuk pada permulaan abad kedua puluh.”

Dari keutuhan wilayah yang dibentuk van Heutsz inilah, nasionalisme Indonesia lahir. Konsepsi “kesadaran berbangsa” yang kemudian digagas oleh elite pribumi dan para aktivisnya, menganggap “tanah air” mereka hanyalah apa-apa yang dibatasi oleh teritori kolonial. Thanks to van Heutsz.

Sebagai contoh, adalah masyarakat Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaya. Mereka sama-sama satu agama, satu bahasa, dan satu etnis. Namun akibat dari konsepsi “nasionalisme” dan “tanah air” yang dipatok oleh van Heutsz, orang-orang Melayu di Sumatera merasa lebih bersaudara dengan orang-orang Ambon yang hidup ribuan mil jauhnya dari mereka. “Toh dalam abad kedua puluh orang-orang Sumatera mulai memahami orang-orang Ambon sebagai sesama orang Indonesia,” kelakar Ben Anderson dalam Imagined Communities (2002: 183). “Sementara orang-orang Melayu di seberang Selat (Malaysia), mereka anggap ‘orang-orang asing’.”

Lucu memang, bahwa konsepsi yang selama ini dibanggakan sebagai motor perjuangan kemerdekaan melawan penjajah, justru lahir berkat jasa sang penjajah. Selamat, van Heutsz! Walau kau abadi di Neraka, namun berkat kau tak mungkin kami, masyarakat dari Sabang sampai Merauke, bisa bersaudara. Walau dengan konsekuensi, kami akhirnya merasa asing dengan Muslim di Malaysia, Brunei, Thailand, sampai Filipina![]

Sumber:

A.C.S Peacock dan Annabel Teh Gallop (Ed.), From Anatolia to Aceh: Ottoman, Turks, and Southeast Asia, (Oxford: Oxford University Press, 2015)

Benedict Anderson, Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang, (Yogyakarta: INSISTS Press, 2002)

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1999)

Michael Francis Laffan, Islamic Nationhood and Colonial Indonesia: The Umma Below the Winds, (London: RoutledgeCurzon, 2003)

Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah, (Jakarta: Lentera Dipantara, 2015)

Robert van Niel, Munculnya Elite Modern Indonesia, (Jakarta: Pustaka Jaya, 2009)

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *