Mengintip Kejayaan Islam di Bumi Real Madrid

Share the idea

Kisah 8 abad kejayaan Islam di Spanyol ini bermula dari pembebasan Thariq bin Ziyad (di Spanyol dikenal sebagai Taric el Tuerto – Thariq yang memiliki satu mata) atas wilayah Gibraltar (dari kata Jabal Thariq. Jabal berarti gunung, meliputi daerah yang dilingkari merah) dan meluas ke berbagai wilayah Andalusia (meliputi Spanyol, Portugal, Andorra, Prancis, dan sekitarnya).

Ketertarikan umat Islam atas wilayah Spanyol diawali dengan undangan dari salah satu penguasa Eropa sendiri, yakni Julian yang memohon pasukan muslim untuk menolongnya melawan Rodrigo sang penguasa Visigoth.

Mulai dari kerumitan desain hingga ketinggian langit-langit, Masjid Kordoba menjadi salah satu wujud kejayaan Islam di Spanyol yang juga diakui UNESCO.

Demi memetakan kekuatan tempur lawan, Khalifah al-Walid menginstruksikan Wali (Gubernur) Musa bin Nusayr untuk membebaskan daerah Semenanjung Iberia. Momen ini berakhir dengan kemenangan, dan kota tersebut dinamakan Tarifa – diambil dari nama Tarif bin Malik sebagai komandan pasukan.

Salah satu gerbang istana kota Medina Azahara, Kordoba, yang dibangun oleh
Abdurrahman III an-Nasir (k. 929-961 M).

Mulai dari Tarifa dan Gibraltar, banyak sekali wilayah di Spanyol yang kemudian dibebaskan umat Islam. Wibawa yang demikian kuat itu dapat kita lihat melalui banyaknya nama wilayah yang dipengaruh oleh Bahasa Arab, seperti Kordoba (Qurtubah), Albacete (al-Basit), Granada (Garnatah), Guadalquivir (al-Wadi al-Kabir), dan tak lupa, Madrid (al-Majrit). Menurut Chandler (1987), Kordoba di abad ke-10 menjadi kota dengan jumlah penduduk terbanyak ke-3 di dunia (450 ribu), berada di bawah Baghdad (1.2 juta) dan Kaifeng – Tiongkok (1 juta).

Interior Istana Alhambra (Qa’lat al-Hamra – Istana Merah), bangunan ikonik Granada seluas 14 hektar. Dibangun di ketinggian 150 meter, membuat pemandangan keseluruhan kota bisa dilihat dari dalam istana.

Datangnya kaum muslimin ternyata juga memperbaiki kondisi Yahudi di Spanyol, yakni hilangnya pem4ksaan agama terhadap mereka. Kepada umat Kristen dan Yahudi kemudian diterapkan hukum terkait kaf1r dzimmi, seperti diperbolehkan mempertahankan gereja dan sinagog, serta diwajibkan membayar jizyah sebagai ganti perlindungan dan kesejahteraan atas mereka.

Kondisi ini sangat berbanding terbalik ketika pasangan suami istri, yakni Ratu Isabella (Isabel I de Castilla) dan Raja Fernando (Ferdinand II of Aragon) memimpin operasi penaklukan kembali (Reconquista) negeri-negeri di Andalusia untuk kembali ke tangan Kristen. Puncaknya terjadi pada 1492, ketika kota terakhir pertahanan Islam di Andalusia (yakni Granada) jatuh.

Lebih buruknya, mereka juga memaksa kaum muslimin yang awalnya merupakan penduduk mayoritas di Andalusia, untuk masuk Kristen. Naasnya, pemaksaan itu dilakukan dengan pilihan-pilihan yang tidak manusiawi, yakni: 1) Murtad, atau 2) pergi dari Andalusia tanpa boleh membawa anak-anaknya, atau 3) dibunuh.

Sultan Abu Abdullah menyerahkan kunci gerbang kota (lingkaran kuning) kepada Raja Fernando (berpakaian merah) dan Ratu Isabella (berpakaian putih). Terlihat juga Istana Alhambra sebagai background lukisan

Menguasai Andalusia saja tidak cukup. Raja Spanyol dan Portugal kemudian saling bersaing mencari rute-rute baru yang mengantarkan pada kekayaan dan kedigdayaan Kristen di luar Eropa. Inilah yang menjadi cikal bakal aksi politik Paus Alexander VI dalam Perjanjian Tordesillas 1494, yakni diberikannya fatwa (papal bull) kepada Spanyol dan Portugal untuk mencari 3G: Gold (kekayaan), Gospel (injil, yakni penyebaran agama), dan Glory (kejayaan).

Melalui perjanjian ini, Paus membagi dunia menjadi dua, yakni milik Spanyol (dunia Barat – Amerika Utara dan Selatan kecuali sebagian Brazil) dan Portugis (dunia Timur – seluruh Asia dan Afrika).

Portugis mengirim Vasco da Gama, dan Spanyol mengirim Kristoforus Kolumbus. Portugis kemudian mencapai Selat Malaka yang ternyata inilah yang menjadi pusat komersial perdagangan rempah yang menghubungkan Timur dan Barat dunia Islam.

Fakta-fakta ini tentu mementahkan teori absurd bahwa kolonialisme di Nusantara secara tidak langsung disebabkan oleh pembebasan Konstantinopel yang berlangsung pada 29 Mei 1453, tepat 569 tahun yang lalu.

Meski Konstantinopel sudah dalam kekuasaan Islam, mereka tetap boleh berdagang bahkan juga mendapat akses rempah dari pelabuhan-pelabuhan umat Islam, seperti Iskandariyah (Alexandria), Aleppo (Suriah), termasuk dari Istanbul itu sendiri.

Istana Alcázar di Sevilla. Masih digunakan oleh Kerajaan Spanyol 

Pencarian Spanyol dan Portugal atas jalur lain, seperti memutari Afrika, bertemu Tanjung Harapan, hingga mencapai Nusantara, tak lain adalah karena kedengkian, nafsu memonopoli, serta misi agama yang sudah disebutkan di awal. Misi agama tersebut dijadikan legitimasi mereka untuk menaklukkan India, Samudra Hindia, dan Nusantara.

Kolonialisme itulah yang mengantarkan kita pada masa penjajahan Belanda. Sebagaimana yang diungkap dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, koran Mesir al-Liwa’ pada 2 Juni 1904 menyebut bahwa Belanda mengulangi sejarah Spanyol di abad pertengahan, ketika agama Kristen mencoba menumpas agama Islam.

Dr. Snouck Hurgronje, pura-pura menjadi mualaf demi melemahkan perjuangan umat Islam melawan penjajah

Pada 21 September, koran yang sama juga memaki-maki sang adviseur(penasihat) Pemerintah Kolonial Belanda, “Duktur Snuk” (Dr. Snouck Hurgonje), yang berusaha memperkenalkan pemikiran materialistik kepada kaum muslim, merencanakan mengus1r semua orang Arab dari Jawa, dan melarang ibadah haji ke kota-kota suci Islam.[]

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.