Menyikapi Perbedaan Ahli Terkait Vaksinasi

Share the idea

Penulis : Andika Abu Nadzhifah

Mengikuti rekomendasi ilmuwan yang berbasis sains dikatakan menyembah sains dan ilmuwan?

Dalam penanganan pandemi, jika bukan mengikuti para ilmuwan terkait yang memang membuat rekomendasi berbasis sains, lantas harus mengikuti siapa? Mengikuti musisi? seniman? Mengikuti pelukis? Herbalis? Ya tentu tidak.

Ilmuwan mungkin salah? Sains mungkin salah? Betul, tidak ada dari keduanya yang sempurna. Tapi siapa yang bisa memfalsifikasi ilmuwan? Orang awam? musisi? Penonton setia channel FE 101? Ya bukanlah. Falsifikasi sains hanya bisa dilakukan oleh orang yang menempuh metodologi ilmiah, yakni para ilmuwan. Bukan orang awam yang hanya modal semangat tapi ditanya apa itu ribonucleat acid, nyatanya cuma bisa bengong.

Bagi seorang muslim, mengikuti dan memahamkan publik akan rekomendasi ilmuwan merupakan bagian dari ikhtiyar dalam menghindari dharar (bahaya). Karena yang paham dalam masalah epidemiologi, farmakologi, virologi, ya para ilmuwan itu.

Ketika Rasulullah mengatakan, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu“, maknanya adalah bahwa perkara teknis itu diserahkan pada yang ahli dalam perkara tersebut.

Maka, bagi yang awam dalam bidang tersebut, pilihannya cuma mengikuti pakarnya. Sesederhana itu.

Tapi pakar kan bisa berbeda pendapat? Hei, sains itu tidak kenal demokrasi. Yang menentukan benar salah bukan banyaknya ilmuwan yang mendukung suatu ide.

Namun, ketika mayoritas ilmuwan sudah bersuara yang sama, artinya penemuan mereka terhadap suatu hal memang sudah konsisten satu sama lain. Konsistensi penemuan inilah yang menjadi indikasi, apakah sebuah klaim saintifik bisa dikatakan sudah pasti benar atau masih ada peluang keliru. Istilahnya adalah “konsensus.”

Maka, pendapat yang layak diikuti adalah pendapat yang sudah mendekati atau mencapai konsensus ilmiah. Contohnya? Bahwa vaksinasi itu efektif dalam mitigasi pandemi.

Para ilmuwan juga paham limitasi sains. Makanya, tidak pernah ada produk sains dan teknologi yang memiliki efisiensi/efektivitas hingga 100%. Atas landasan itu pula, vaksinasi tidak dianggap sebagai silver bullet, yang sekali injeksi maka selesai semua masalah. Justru selesai vaksinasi, mekanisme 3M yang dilakukan selama ini harus tetap dilaksanakan, untuk menjamin bahwa program mitigasi yang diharapkan melalui vaksinasi bisa berlangsung secara efektif.

Seorang muslim memandang sains sebagai metode untuk memahami bagaimana alam semesta, manusia, dan kehidupan bekerja, atau dalam istilah lain disebut sunnatullah. Jadi, ketika seorang muslim mengikuti rekomendasi saintifik oleh pakar sains, maka hakikatnya dia sedang mengikuti sunnatullah dalam hal tertentu. Sunnatullah dari covid-19 adalah dia menyebar melalui droplet. Dengan memahami sunnatullah ini, maka ilmuwan membuat rekomendasi untuk mencegah penularan via droplet menggunakan masker. Pemahaman terhadap sunnatullah alias sains inilah yang dapat mencegah virus menyebar kemana-mana dan menginfeksi banyak orang!

Jadi, mengikuti rekomendasi saintifik dari para ilmuwan tidak ada urusannya dengan menyembah keduanya. Justru mengikuti sains dan ilmuwan adalah bentuk dari adab terhadap ilmu dan orang berilmu, sekaligus mengikuti perintah syara’. Jika rekomendasi itu dibela dan didengungkan di mana-mana, hal tersebut adalah wajar, mengingat dampaknya yang diduga kuat dapat memitigasi pandemi. Lagi-lagi, tidak ada urusannya dengan menyembah sains, justru itu adalah adab terhadap ilmu: menyerahkan pada yang ahli!

Satu-satunya spesies yang menyembah sains adalah ateis. Mereka menganggap sains bisa menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta, manusia, dan kehidupan tidak membutuhkan Tuhan.

Mereka menganggap sains bisa menjawab bagaimana ketiganya tercipta tanpa melibatkan Tuhan. Kalaupun tidak terjawab, mereka akan denial dan berdalih, “belum saja, nanti juga terjawab.”

Kera-kera tidak bertuhan inilah yang sesungguhnya menyembah sains, bukannya muslim yang mengikuti dan menyampaikan rekomendasi saintifik!

Rasulullah bersabda, “Jika urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” Maka, jika urusan mitigasi pandemi diserahkan bukan pada pakar, yakni ilmuwan yang paham sains pandemi, hasilnya adalah kerusakan belaka.

Maka serahkanlah urusan uslub mitigasi pandemi pada para ilmuwan, jangan mengarang sendiri. Apalagi menuduh mereka yang percaya pada ilmuwan dan sains sebagai menyembah keduanya. Itu adalah pernyataan tak berdasar dan fakir adab terhadap ilmu!

Sudah ada ilmuwan muslim sekaligus pengemban dakwah Islam ideologis yang juga menjadi pakar di bidangnya.

Mereka tidak hanya memahami perbedaan perkara hadhoroh-madaniyah, namun lebih dari itu: mereka adalah orang-orang yang juga memahami fakta.

Perpaduan mereka dengan para ahli fikih yang juga menjadi pengemban dakwah ideologis, adalah kombinasi yang memberi panduan yang tepat bagi kita yang awam.

Maka, yang kita butuhkan saat ini adalah kesabaran untuk terus belajar dan ber literasi.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *