Nasionalisme dan Perang Salib Gaya Baru

Share the idea

Bingung. Pasukan salibis sedang mengalami kebingungan yang luar biasa. Meskipun berbagai macam propaganda militer dan non-militer telah dilancarkan, namun kekuasaan sentral kekhilafahan Islam tetap “tak tersentuh”. Bahkan jika Daulah dapat diruntuhkan, masih terdapat peluang bahwa Khilafah dapat bangkit kembali,  seperti yang terjadi saat berdirinya Khilafah Utsmaniyyah dan Abbasiyah.

Kekhilafahan Utsmani memang mengalami pelemahan kekuatan yang luar biasa, terbukti atas berbagai pertempuran yang hampir semuanya berakhir dengan kekalahan Utsmani. Superioritas militer Utsmani yang selama ini menjadi mimpi buruk bagi Eropa, perlahan menghilang. Mesir, India, dan berbagai wilayah lain jatuh di bawah kendali Eropa. Khilafah yang terus menerus mengalami kemunduran, berbanding terbalik dengan Eropa yang terus menerus mengalami kemajuan.

Menyadari bahwa kaum muslimin tidak bisa dikalahkan melalui jalur militer, mereka menyimpulkan bahwa satu-satunya cara mengalahkan kaum muslimin adalah dengan mempengaruhi pemahaman mereka terhadap ajaran Islam.

Perdana menteri inggris, Benjamin Disraeli, suatu saat membawa Al Qur’an ke Gedung Parlemen dan mengatakan, bahwa kaum muslimin tak akan dapat dikalahkan sampai Al Qur’an dijauhkan dari mereka. Pernyataan Disraeli ini menandakan dimulainya perang Salib gaya baru. Rancangan perang yang lebih menakutkan dengan akibat yang lebih dahsyat dibandingkan perang Salib pertama. Sebuah misi yang dilakukan pasukan salibis, atas nama dendam dan kebencian mereka terhadap Islam.

Pemahaman Islam harus dicabut dari benak kaum muslim, sehingga negara Islam dapat dijatuhkan dari dalam. Tentu, hal ini diprediksi menimbulkan efek yang luar biasa, sehingga negara Islam dapat dilenyapkan hingga ke akar-akarnya.

Untuk melakukannya, menebarkan benih-benih nasionalisme adalah sebuah langkah awal untuk memulai propagandanya dengan berharap terjadi kegoncangan besar di dalam Khilafah.

Rencana Eropa dimulai dengan mengirimkan agennya yang tergabung dalam aktivitas berkedok bantuan kemanusiaan dan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, mereka mulai mendirikan markas pusat kegiatan misionaris di berbagai daerah.

Penyusupan yang bahkan sampai masuk ke dalam struktur politik Utsmani ini bertujuan untuk memasukkan pemahaman kolonialisme dan pandangan politik yang bertentangan dengan Islam.

Para misionaris yang terdiri dari Inggris, Prancis, dan Amerika ini memiliki 2 tujuan utama:

  1. Menjauhkan kaum muslimin dari pemahaman yang benar tentang Islam, dengan memasukkan keragu-raguan dan menyuntikkannya ke dalam benak kaum muslimin untuk mempengaruhi aqidah mereka.
  2. Menanamkan benih-benih nasionalisme untuk menciptakan kesenjangan antara orang-orang Turki, Persia, dan Arab.

Benar saja. Pengaruh nasionalisme begitu kuat menghujam dan memberikan andil yang sangat besar bagi keruntuhan Khilafah. Terjadi permusuhan yang luar biasa antara muslim Turki dan muslim Arab. Keduanya saling menjatuhkan dan saling tuduh.

Pada akhirnya, kebencian yang diletupkan oleh musuh-musuh Islam mampu mengubur Khilafah sedalam-dalamnya, hingga ia tak mampu bangkit kembali. Maka, hari ini dapat kita saksikan, kaum muslimin begitu lemah akibat tersekat-sekat oleh sistem negara bangsa.

Hal ini semakin melanggengkan imperialisme di wilayah kaum muslimin. Atas nama kemerdekaan dan nasionalisme, umat Islam melepaskan persatuan yang sudah sejak dulu diajarkan oleh Nabi Muhammad, ketika dipersaudarakannya kaum Muhajirin dan Anshar.

Dampak lebih lanjut dari semakin melencengnya pemahaman kaum muslimin akibat nasionalisme, hari ini kita mengenal #IslamNusantara dan #nkrihargamati. Mengklaim suatu bangsa lebih baik dari bangsa lain hingga membenci Khilafah, itulah situasi yang juga terjadi ketika terjadi perseturuan antara muslim Turki dan muslim Arab di akhir masa Kekhilafahan. Sejatinya, hari ini, sejarah itu terulang kembali. Memiliki pola yang sama, dengan aktor yang berbeda.[]

Sumber:

Samih Athef Az-Zein. 2004. Mengapa Umat Islam Mundur?. Pustaka Thariqul Izzah. Bogor.

Shabir Ahmed dan Abid Karim. 1997. Akar Nasionalisme di Dunia Islam. Penerbit Al-Izzah. Bangil.

Erick J. Zurcher. 2003. Sejarah Modern Turki. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Share the idea