Neo-Sufisme: Mengenal Awal Mula Masuknya Tasawuf di Nusantara

Share the idea

Sebelum kita makin berfokus tentang hubungan Hijaz dan Nusantara pada abad ke-19, ada baiknya kita membahas gambaran umum mengenai Islam di pusatnya Timur Tengah pada pada abad-abad sebelumnya. Nusantara sebagai wilayah pinggiran (periferal) dunia Islam mungkin menjadi wilayah yang paling sedikit mengalami Arabisasi. Walau begitu, perkembangan Islam di Nusantara pasti seiring sejalan dengan perkembangan Islam di Timur Tengah. Dalam konteks ini, jaringan ulama internasional (syabakah al-ulama al-duwali) yang berpusat di Hijaz memainkan peranan penting untuk mengirimkan impuls-impuls pembaruan Islam ke wilayah pinggiran semacam Nusantara.[1]

Semenjak pembebasan Islam mencapai wilayah yang telah memiliki konsep pemikiran matang seperti Yunani dan India dengan filsafatnya, mau tak mau kaum Muslimin akan bersinggungan dengan pemikiran penduduk setempat yang mengemban filsafat-filsafat mereka. Pada awalnya, kaum Muslimin menggunakan filsafat Yunani dan India untuk ‘menyerang’ keyakinan mereka menggunakan cara berpikir filsafat sendiri.

Namun, lambat laun filsafat tersebut malah menjangkiti cara berpikir kaum Muslimin dalam memahami permasalahan akidah. Output dari penggunaan filsafat dalam memahami akidah ini kemudian memunculkan madzhab-madzhab teologi seperti Mu’tazilah dan Jabariyah dalam pola pikir dan tashawwuf (usaha untuk mendekatkan diri dengan Tuhan sampai mencapai penyatuan antara makhluq dan khaliq [wihdat al-wujud]) dalam pola sikap kaum Muslimin.

Kerancuan dalam memahami Islam itu terus melanda kaum Muslimin sampai usaha untuk mengembalikan syari’ah dalam konsep menyucikan hati ala tashawwuf digalakkan pada akhir abad ke-4 H, sebagaimana yang dilakukan oleh al-Kharraz dan Junayd al-Baghdadi. Begitu juga pada abad ke-5 H, para ulama sufi seperti al-Sarraj dan al-Kalabadhi menggagas suatu konsep tashawwuf yang tetap memegang teguh syari’at.

Gerakan pembaruan tashawwuf ini mencapai puncaknya ketika Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111) dalam magnum opus-nya seperti kitab Ihya ‘Ulumuddin berhasil memadukan antara tashawwuf yang bertujuan untuk penguatan iman dalam batas-batas syariah guna mencapai kemurnian batin. Motif moral tashawwuf diperkuat, dan beberapa teknik dzikir dan muraqabah juga diambil, namun mereka diidentifikasi dengan doktrin-doktrin syariah. Perkembangan inilah yang memunculkan apa yang disebut oleh Fazlur Rahman sebagai neo-sufisme (tashawwuf al-jadid).[2]

Model keilmuan Islam seperti itulah yang kemudian populer di kalangan ulama Hijaz pada abad ke-17. Haramayn dengan keistimewaannya yang menjadi tempat berkumpul umat Islam dari berjuta bangsa dan bahasa setiap tahun ini, menjadikan jaringan keilmuan yang berkembang di sana bersifat kosmopolitan. Walaupun lembaga pendidikan seperti madrasah dan ribath di Haramayn jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kota-kota Islam lainnya seperti Damaskus, Kairo, Zabid dan Isfahan, namun dengan sifat kosmopolitannya ini menjadikan lembaga-lembaga pendidikan di Haramayn mampu berumur lebih panjang dibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan di kota-kota Islam lainnya.

Dari madrasah, ribath, serta halaqah yang ada di Haramayn inilah, jaringan ulama Timur Tengah yang menghubungkannya dengan ulama-ulama di Nusantara mulai terjalin. Ulama non-Hijazi yang menjadi penghubung terpenting dalam transmisi/jaringan ulama pada abad ke-17 adalah Syekh Shibghatullah al-Barwaji (w.1015/1606) dan Syekh Ahmad al-Syinnawi. Mereka berdua adalah guru dari Syekh Ibrahim al-Kurani, penulis kitab Ithaf al-Dzaki yang telah jelaskan secara ringkas sebelumnya.

Keilmuan Islam bercorak tashawwuf al-jadid ini terus tertransmisikan dalam jaringan ulama sampai tersambung kepada ulama-ulama Nusantara di abad ke-17, seperti Nuruddin al-Raniri, Abdur-Ra’uf as-Sinkili, dan Yusuf al-Maqassari. Dimana isnad keilmuan mereka tersambung ke al-Kurani, al-Syinnawi, Shibghatullah, sampai ke ulama muhaddits yang mahsyur seperti Jalaluddin as-Suyuthi dan Ibnu Hajar al-Asqalani.

Ulama Nusantara yang mula-mula menyebarkan ajaran Islam bercorak tashawwuf al-jadid ini adalah Nuruddin al-Raniri yang perannya tidak dapat dilupakan di Aceh. Berasal dari Ranir, India. Al-Raniri memulai petualangan intelektualnya dengan menuntut ilmu kepada para ulama yang berperan dalam jaringan di Haramayn, sampai pengembaraannya itu bermuara ke Kesultanan Aceh yang saat itu tampuk kekuasaannya sedang dipegang oleh Sultan Iskandar II. Di Aceh ini, ar-Raniri terlibat pertarungan intelektual seru melawan paham wahdatul-wujud yang diusung oleh Hamzah al-Fanshuri dan Syamsuddin as-Sumatrani.

Sebelumnya perlu diketahui, ar-Raniri membagi paham wihdatul wujud menjadi dua, yakni wujudiyyah mulhid (kesatuan wujud ateistis) dan wujudiyyah muwwahid (kesatuan wujud ahli tauhid). Wujudiyyah mulhid meniscayakan kesatuan zat makhluq dan khaliq, sedangkan wujudiyyah muwwahid membuat pemisahan yang jelas antara makhluq dan khaliq, sedangkan kesatuan di antara keduanya diumpamakan seperti “tangan dan bayangan”, satu kesatuan namun secara zat tidak mungkin sama.

Al-Fanshuri dan as-Sumatrani yang mengusung paham wujudiyyah mulhid ini dinyatakan kafir oleh ar-Raniri dan mereka berdua pun dijatuhi hukuman mati serta buku-buku mereka dibakar di depan Masjid Baiturrahman. Walaupun pemikirannya sama, Abdur-Ra’uf as-Sinkili tidak menggunakan pendekatan setegas al-Raniri dalam menentang paham wihdatul-wujud, namun lebih ke pendekatan yang lebih halus.

Aktivitas Yusuf al-Maqassari jauh lebih mendebarkan karena dirinya tidak hanya bergulat di bidang intelektualisme sebagaimana ar-Raniri dan as-Sinkili, namun al-Maqassari juga turut memanggul senjata memimpin perlawanan bersama Sultan Ageng Tirtayasa head-to-head melawan kaum kafir Belanda yang berkoalisi dengan Sultan “Haji” Abdul Qahhar di Banten. Walaupun pihaknya kalah dan al-Maqassari sendiri dibuang ke Ceylon (Srilangka), dirinya terus berjuang dengan pena dan diam-diam mentransmisikan semangat jihad kepada para jamaah Haji dari Nusantara yang transit di Ceylon. Pihak Belanda yang menyadari hal ini merasa terancam dan mencoba membungkam al-Maqassari dengan lebih keras lagi; yaitu pembuangan ke tempat yang lebih jauh, Cape Town di Afrika Selatan. 

Tak pelak, aktivitas ar-Raniri, as-Sinkili, dan al-Maqassari dimana mereka adalah para sufi yang juga memimpin beberapa tarekat ini menjadi argumen Azra untuk menolak pendapat kaum modernis yang kerap menuduh kaum sufi sebagai penyebab utama kemunduran Islam dengan kepasifannya itu. Buktinya, ketokohan ketiga ulama itu

(al-Raniri, al-Sinkili, al-Maqassari) sebagai tokoh sufi dan pemimpin tarekat tak menghentikan mereka untuk beraktivitas keduniawian, yaitu berpolitik dan berjihad. Jejak mereka pun diikuti oleh ulama-ulama Nusantara berikutnya di abad ke-18 seperti Abdush-Shamad al-Falimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari, juga Dawud bin Abdullah al-Fathani yang getol berpolitik dan menggelorakan semangat jihad melawan kafir Protestan Belanda di Jawa dan Borneo dan Buddha Thai di tanah Patani (Thailand).[]

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari serial tulisan hubungan antara Nusantara dengan Hijaz selama masa kolonial. Simak kelanjutannya!

Sumber:

[1,2] Azyumardi Azra, Syabakah al-Ulama: Harakah al-Tawashil baina al-Syarqi al-Awsath wa al-Arakhbil fi al-Qarnain al-Sabi’ ‘Asyar wa al-Tsamin ‘Asyar al-Miladiyyah (Jakarta: Markaz al-Dirasat al-Islamiyyah wa al-Ijtima’iyyah [PPIM] IAIN Jakarta)

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *