Pantaskah Tiongkok Menjadi Negara Adidaya Global?

Share the idea

Pada Oktober 2020 lalu, Mike Pompeo (Menteri Luar Negeri Amerika Serikat) melakukan kunjungan keduanya ke Indonesia. Sebelumnya, Jepang, yang juga mitra AS, melakukan kunjungan pendahuluan. Semua itu bukanlah kunjungan tanpa misi, melainkan salah satu jalan terpenting AS untuk merangkul negara-negara yang berada pada proyek OBOR dan terlibat dalam konflik Laut China Selatan (Indonesia salah satunya), sehingga AS mampu menggeser pengaruh China dari negara-negara ini dan mengacaukan rencana China atas mereka.

Lantas, apa yang menyebabkan AS melakukan ini? Mari kita lihat kembali apa yang terjadi pada AS dan pesaing beratnya, China.

Perkembangan China akhir-akhir ini, telah mengubah iklim persaingan ekonomi keduanya. Selain mampu menjadi mitra dagang terbesar di hampir setiap negara besar (termasuk Eropa), teknologi China juga berkembang pesat, khususnya dalam AI (Artificial Intelligence) yang berperan besar atas perkembangan teknologi 5G.

Pengontrol 5G diperkirakan mendapatkan keuntungan ratusan miliar dolar selama dekade berikutnya, termasuk penciptaan lapangan kerja skala besar di sektor teknologi nirkabel [1,2].

Untuk membendung perkembangan teknologi China, AS mem-blacklist Huawei sebagai salah satu penyedia perangkat keras terdepan di dunia yang juga produsen utama 5G China. Bahkan, AS juga melarang negara-negara Barat menggunakan 5G dari Huawei. Meski Trump sempat berkelakar bahwa 5G Huawei adalah alat mata-mata China yang akan mengancam keamanan internasional, saat ini agaknya AS dapat menarik sedikit napas panjang mengingat 5G AS yang disokong oleh Nokia, Ericsson, Dell, Microsoft, dll mengalami perkembangan yang baik [3,4].

Untuk memahami kondisi politik China, dalam kitab “Konsepsi Politik” yang ditulis atas nama Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, dinyatakan,

“Adapun China, walaupun ia merupakan negara adidaya, tetapi hanya di dalam wilayah regionalnya. Dengan kata lain, China dapat disifati sebagai negara adidaya regional. Karena itu, pengaruh China terhadap masalah-masalah internasional dalam berbagai kawasan dunia yang bermacam-macam adalah pengaruh yang lemah, kecuali di wilayah regionalnya.” [5]

Benarkah demikian? Mari kita analisis berdasarkan tiga proyek besar China: 1) Konflik perbatasan China-India (proyek sejak lama); 2) String of Pearls (SOP) (proyek sekarang); 3) OBOR/BRI (proyek masa depan)

Proyek 1: Konflik perbatasan China-India

Konflik ini mencakup perbatasan barat (di wilayah Aksai Chin hingga dua wilayah besar yaitu Jammu dan Kashmir), serta perbatasan timur (China dan India saling klaim kepemilikan negara bagian Arunachal Pradesh) [6].

Sengketa di Barat jauh lebih penting dari perbatasan Timur, karena menjadi jalan pintas untuk menghindari jauhnya lintasan ekonomi China dari pusat industrinya (yaitu China timur) [7] menuju Pakistan yang digunakan sebagai jalan masuk ke negara-negara Asia Tengah.

Hubungan Pakistan-China persis dengan India-AS. Mereka berkolaborasi dan saling menguntungkan dalam banyak hal. China memegang kendali atas Pakistan dan berperan besar menumbuhkan ekonominya [8].

Proyek 2: String of Pearls (SOP)

SOP merupakan strategi China dalam mengamankan jalur terbesar dari Timur Tengah ke China (sekitar 80% minyak melewati jalur ini) dengan menyebarkan banyak investasi pelabuhan yang akan menjadi titik pengamanan militer China atas jalur yang meliputi Timur tengah – Selat Malaka – Laut China Selatan (LCS). Pengamanan militer di sepanjang jalur SLOC tentu saja penting, mengingat SLOC sebagai jalur dagang laut internasional China berperan besar atas pertumbuhan ekonomi China.

Selain itu, Timur Tengah sangatlah dibutuhkan China mengingat sekitar setengah dari minyaknya adalah impor dari Timur Tengah. Adapun Selat Malaka, adalah salah satu jalur terpenting peredaran minyak dunia dengan lebih dari 75 persen impor minyaknya melewati selat ini [9]. Malaka juga menjadi selat terdekat peredaran jalur laut yang mengantarkan China ke Asia Tengah. Hal ini tentu memberi keuntungan ekonomis dan menghemat biaya logistik. Ketika selat ini terhambat bagi China, maka China harus melewati jalur yang lebih jauh yaitu Selat Sunda dan Selat Lombok [10].

Terakhir adalah Laut China Selatan (LCS). Sebagai jalur perdagangan terkemuka, sekitar 25 persen dari semua perdagangan maritim global membutuhkan LCS [11].

LCS juga mengandung harta karun berupa gas dan minyak yang sangat melimpah. Terdapat sekitar 11 miliar barel minyak (cukup menggantikan impor minyak mentah China selama 5 tahun) dan 190 trilliun kaki kubik gas (cukup untuk mengganti impor gas alam China selama 102 tahun) [12]. Menurut Timothy Heath (pengamat RAND), LCS adalah jantung keamanan dan perdagangan global AS. Sehingga klaim China di LCS akan sangat berpengaruh bagi kestabilan hegemoni AS.

Sayangnya, hegemoni China di LCS terhambat. Konvensi PBB 1982 tentang hukum laut (UNCLOS) ditandatangani untuk memberi jalan tengah kepemilikan LCS yang diklaim oleh enam negara. Akibatnya, semua negara berhak atas 200 mil laut “zona ekonomi eksklusif” (ZEE) dan boleh mengeksploitasi sumber daya laut sampai ke dasarnya. Jika terjadi klaim tumpang tindih, negara wajib bernegosiasi dengan penuntut lainnya.

Padahal, China mengklaim hampir seluruh teritorial LCS atau sekitar 1200 mil (yang mereka sebut dengan Nine Dash Line) dengan alasan bahwa sejak dinasti China kuno, LCS memang milik China. Klaim ini tidak memiliki landasan hukum apapun, sehingga negosiasi antar negara sekitar LCS tak ada titik temu [13,14].

Proyek 3: One Belt One Road (OBOR)/Belt Road Initiative

China menawarkan perbaikan infrastruktur, pembangunan pelabuhan, dan jalur perdagangan dengan pinjaman kepada sekitar 70 negara [15]. Bagi China, OBOR dilakukan untuk dua agenda besar:

1. Jalan terbesar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi China dengan memberi pinjaman atas nama “pembangunan” (sebagaimana yang dikatakan oleh Xi Jinping sebagai janji masa depan yang lebih baik)[16]. Padahal, OBOR merupakan serangan utang dan keamanan bagi wilayah-wilayah yang ditargetkan. Strategi ini persis dengan pola AS ketika menjatuhkan negara-negara adidaya pada masanya satu per satu, yaitu dengan menjalankan strategi “Marshall Plan”

2. Mempercepat pertumbuhan kekuatan politiknya untuk menyaingi AS dan mengamankan jalur ekonominya.

APAKAH SEMUA ITU BERHASIL?

Untuk mengatasi konflik Jammu dan Kashmir, AS menggunakan negara-negara regional sebagai pionnya, yaitu memperkuat India (rezim boneka di bawah AS) dan menurunkan tensi Pakistan agar tidak menjadi “alat China” untuk mengalahkan India. Ditambah pecahnya fokus China yang juga mengurus konflik perbatasan Timur, membuat China harus berpikir dua kali sebelum mengerahkan kekuatan militernya secara total.

Sedangkan untuk mematahkan strategi SOP dan OBOR, militer AS dan sekutunya terus dikerahkan di LCS: sebagaimana kemunculan kapal induk USS Nimitz, USS Theodore Roosevelt, dan USS Ronald [17]. Bahkan, Jepang dan Australia juga dikerahkan dengan armada yang dipimpin kapal HMAS [18].

Di sisi lain, hegemoni AS di Timur Tengah menjadi penghalang besar bagi pengaruh China di wilayah tersebut. Kondisi ini semakin tidak menguntungkan ketika AS mengencangkan manuver di negara-negara ASEAN sekitar LCS untuk menolak China, termasuk di dalamnya Taiwan, Indonesia, Thailand, Vietnam, dll.

Terhadap Indonesia, AS bahkan menekan melalui kunjungan Yoshihide Suga (PM Jepang) dan Mike Pompeo (Menlu AS). Walhasil, baik SOP maupun OBOR semakin mustahil berjalan sesuai harapan China.

CHINA, NEGARA ADIDAYA REGIONAL

Pertumbuhan ekonomi, teknologi, maupun militer China memang sangat pesat. China bahkan memang berambisi untuk melebarkan pengaruhnya di berbagai negara, namun bukan untuk menjadi negara pertama dan menancapkan ideologinya di seluruh dunia.

Bagi China, semua ambisi ini hanya untuk meluaskan pengaruh ekonominya saja. Meski sempat membuat AS khawatir, namun AS cukup mampu menahan itu semua sehingga masih berada dalam pengawasan AS.

Maka, benarlah kaidah yang menyatakan bahwa China hanyalah negara adidaya regional, bukan global. China bukan kekuatan seperti Romawi dan Persia yang tiada henti melakukan penaklukan ke wilayah lain di dunia dan memberi pengaruh ideologis dan peradaban di masing-masing wilayah taklukannya.

Bagaimanapun, pengaruh komunisme China hanya berhenti di internal negaranya dan tak meluas seperti komintern Uni Soviet. Dalam bidang ekonomi, meski armadanya berhasil menjangkau hampir seluruh dunia dengan jalur suteranya yang megah, China hanya mampu berpengaruh secara politik di wilayah-wilayah di sekitar garis perbatasan negerinya. Wallahu a’lam[]

Referensi Bacaan:

[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20180418090321-37-11425/terapkan-teknologi-5g-operator-dapat-pendapatan-rp-81-t

[2] https://teknologi.bisnis.com/read/20191008/101/1156590/5g-bisa-dongkrak-pendapatan-operator-seluler-hingga-12-per-tahun

[3] https://www.bbc.com/indonesia/majalah-48336363

[4] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20201103203348-185-565538/lawan-huawei-china-trump-dorong-proyek-jaringan-5g-asli-as

[5] Taqiyuddin an-Nabhani. 2015. Konsepsi Politik Hizbut Tahrir (Cetakan 4). HTI Press: Jakarta.

[6] https://www.indiatoday.in/india/story/how-china-captured-aksai-chin-1691562-2020-06-22

[7] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200624182710-113-517072/deretan-sengketa-perbatasan-china-dengan-negara-lain

[8] https://www.matamatapolitik.com/apakah-pakistan-hanyalah-jajahan-china-opini/

[9] Syahroni Alby. 2014. Implementasi Fungsi Strategi String of Pearls China di Samudera Hindia Tahun 2005-2013. Jom FISIP 1 (2): 1-10.

[10] https://jurnalmaritim.com/selat-malaka-dilema-bagi-china-dan-keuntungan-bagi-indonesia-4/

[11] https://www.cnbcindonesia.com/news/20201117190511-4-202570/ini-3-fakta-tersembunyi-harta-karun-laut-china-selatan/2

[12] https://www.matamatapolitik.com/perdagangan-laut-china-selatan-dalam-angka-infografik/

[13] https://www.cnbcindonesia.com/news/20200512092557-4-157782/harta-karun-apa-yang-buat-as-china-ada-di-laut-china-selatan

[14] https://asumsi.co/post/kontroversi-nine-dash-line-cina-dan-ketegangan-di-natuna

[15] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201124093125-532-573660/utang-menumpuk-china-injak-rem-guyur-pinjaman-lewat-obor

[16] http://www.xinhuanet.com//english/2017-05/14/c_136282982.htm

[17] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200615141653-113-513439/3-kapal-induk-as-tiba-di-indo-pasifik-diduga-provokasi-china/

[18] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200723094841-185-527991/fakta-kapal-australia-gabung-as-jepang-di-lcs-terkait-china

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *