Pengakuan Barat atas Kegemilangan Peradaban Khilafah

Share the idea

Kehidupan ilmiah mencapai kejayaannya pada masa Islam di tangan para ilmuwan dan tokoh-tokoh muslim terkemuka, baik dari Arab, Persia, Afghanistan, Turki, maupun yang lain. Di antara mereka terdapat dokter, apoteker, pakar kimia, pakar fisika, pakar matematika, geografi dan lainnya yang kesemuanya itu disatukan di bawah naungan peradaban Islam, mulai dari bagian timur hingga ke barat. Mereka menduduki posisi-posisi penting dalam sejarah ilmu pengetahuan dan peradaban.

Bangsa-bangsa dengan berbagai etnis dan jenisnya saling berkontribusi dalam memperkaya ilmu pengetahuan manusia serta menjaga warisan peradaban yang berbeda-beda. Tidak diragukan lagi bahwa peran dan kontribusi peradaban Islam selama abad pertengahan merupakan peran signifikan dan sentral dalam menggerakkan roda kejayaan ilmiah dan menutrisi kebangkitan Eropa modern.

Pengakuan dari Barat pun menunjukkan hal serupa. Sebagaimana yang diutarakan oleh Pangeran Charles tentang para ilmuwan muslim yang terkenal:

“Jika ada banyak kesalahpahaman di Barat tentang Islam, ada juga banyak ketidaktahuan tentang hutang budaya dan peradaban kita sendiri kepada dunia Islam. Itu adalah kegagalan, yang berasal, menurutku, dari kekangan sejarah, yang telah kita warisi. Dunia Islam abad pertengahan, dari Asia Tengah hingga pantai Atlantik, adalah dunia tempat para cendekiawan berkembang pesat. Tetapi karena kita cenderung melihat Islam sebagai musuh Barat, sebagai budaya asing, masyarakat, dan sistem kepercayaan, kita cenderung mengabaikan atau menghapus relevansinya yang besar dengan sejarah kita sendiri.”

Sorotan jatuh pada hubungan antara dunia Muslim dan Barat segera setelah serangan 9/11 pada 11 September 2001, di World Trade Center dan Pentagon New York. Luar biasa menakjubkan adalah pidato yang diberikan hanya dua minggu kemudian oleh pengusaha wanita dan sejarawan Carly Fiorina, CEO Hewlett-Packard Corporation pada saat itu. Pada pertemuan seluruh manajer perusahaan tersebut di seluruh dunia, pada 26 September 2001, Carly Fiorina menyampaikan:

“Pernah ada suatu peradaban yang merupakan peradaban terbesar di dunia. Peradaban itu mampu menciptakan negara super-benua yang membentang dari laut ke laut dan dari iklim utara ke daerah tropis dan gurun. Di dalam dominasinya hidup ratusan juta orang, dari berbagai kepercayaan dan etnis.”

“Salah satu bahasanya menjadi bahasa universal sebagian besar dunia, jembatan antara rakyat di ratusan negeri. Pasukannya terdiri dari orang-orang dari banyak negara, dan perlindungan militernya memungkinkan tingkat kedamaian dan kemakmuran yang belum pernah diketahui sebelumnya. Jangkauan perdagangan peradaban ini meluas dari Amerika Latin ke Cina, dan dimanapun di antara keduanya.”

“Peradaban ini sangat didorong oleh penemuannya. Arsiteknya merancang bangunan yang melawan gravitasi. Matematikawannya menciptakan aljabar dan algoritma yang memungkinkan pembuatan komputer, dan enkripsi. Para dokter memeriksa tubuh manusia, dan menemukan obat baru untuk penyakit. Para astronom memandang ke langit, menamai bintang-bintang, dan membuka jalan untuk perjalanan ruang angkasa dan penjelajahan. Para penulisnya menciptakan ribuan cerita. Kisah-kisah keberanian, romansa, dan keajaiban. Para penyairnya menulis tentang cinta, ketika orang lain sebelum mereka terlalu tenggelam dalam rasa takut untuk memikirkan hal-hal seperti itu.”

“Ketika negara-negara lain takut dengan pemikiran, peradaban ini berkembang pesat pada mereka, dan membuat mereka tetap hidup. Ketika banyak yang mengancam untuk menghapus pengetahuan dari peradaban masa lalu, peradaban ini membuat pengetahuan itu tetap hidup, dan meneruskannya kepada orang lain. Sementara peradaban Barat modern memiliki banyak ciri-ciri ini, peradaban yang saya bicarakan adalah dunia Islam dari tahun 800 hingga 1600, yang meliputi Kekaisaran Ottoman dan pengadilan Baghdad, Damaskus, dan Kairo, serta para penguasa tercerahkan seperti Suleyman yang Agung.

Meskipun kita sering tidak menyadari hutang kita kepada peradaban ini, pemberiannya merupakan bagian dari warisan kita. Industri teknologi tidak akan pernah ada tanpa kontribusi ahli matematika Arab.”

Tidak diragukan lagi, kemajuan peradaban Islam

dengan Khilafah nya merupakan

puncak keagungan peradaban manusia.

Tidak hanya oleh muslim, bahkan hal ini diakui oleh orang-orang kafir.

Dan tanpa sadar, ketika musuh-musuh Islam berusaha menghentikan arus kebangkitan Khilafah, maka sungguh, secara tidak langsung mereka pun mengakui, bahwa Khilafah adalah satu-satunya kekuatan yang mampu melenyapkan kekuasaan dan kedzaliman yang sedang mereka mainkan atas umat manusia.

Sumber:

Al Hassani ST. 2012. 1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization. National Geographic Books.

http://www.hp.com/hpinfo/execteam/speeches/fiorina/minnesota01.html

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *