Peran Khilafah dalam Penyebaran Islam di Nusantara

Share the idea

“Apapun yang bisa menyebabkan dihentikannya pemborosan waktu dalam mempersoalkan ‘Khilafah’ dan ‘Perang Suci’, boleh dianggap sebagai sesuatu yang patut diberi penghormatan setinggi-tingginya” [1].

Snouck Hurgronje

“Al hetgeen kan bijdragen om een eind te maken aan het onwaardig gedoe met ‘chalifaat’ en ‘heiligen oorlog’ mag op waardering aanspraak maken”

Snouck Hurgronje

Beberapa tahun belakangan, isu Khilafah benar-benar meledak di seluruh penjuru negeri. Tak terkecuali di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di muka bumi.

Dorongan penegakan Khilafah di era kontemporer mendapat sambutan hangat dari umat. Namun demikian, ada saja segelintir pihak yang menolaknya dengan alasan Khilafah sudah tertolak di Indonesia. “Pertanyaannya kenapa Khilafah ditolak di Indonesia? Bukan ditolak, tapi tertolak, karena memang tidak bisa masuk,” begitu ucap Wapres RI Ma’ruf Amin, sebagaimana yang dilansir DetikNews (21/8/2019).[2]

Sejatinya, suara-suara sumbang seperti itu bukanlah hal baru. Penolakan terhadap Khilafah dan keengganan akan eksistensinya di negeri ini sudah disuarakan sejak jauh-jauh hari. Bahkan ketika negara “Indonesia” belum lahir.

Adalah pihak kolonialis Belanda yang amat getol dalam menolak eksistensi Khilafah. Tokoh orientalis Belanda yang tersohor, Snouck Hurgronje, sudah lama mengingatkan agar pengaruh Khilafah di Nusantara ditolak oleh pemerintah kolonial sehingga Khilafah menjadi tertolak bagi penduduk Nusantara.

Snouck tidak dapat memungkiri, pengaruh dan jejak Khilafah di Nusantara sangat kuat dan terpatri mendalam di relung jiwa kaum Muslimin yang dijajah Belanda. Jejak Khilafah yang kuat itu amat membahayakan kedudukan pemerintah kolonial Belanda, karena mereka akan dianggap sebagai pemerintah yang tidak sah oleh Muslimin Nusantara. Sejauh apakah jejak Khilafah di Nusantara, sehingga Belanda begitu khawatir akan eksistensinya?

Peran Khilafah dalam Penyebaran Islam di Nusantara

Menurut makna aslinya, Khilafah adalah kepemimpinan setelah Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam guna menjaga agama dan mengatur urusan dunia (li-hirāsati ad-dīn wa siyāsati ad-dunyā). Selain menjaga agama, Khilafah juga wajib memfasilitasi segala upaya untuk menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya”. (QS. Saba’ [34]: 28).

Kaum Muslimin di era Khulafa ar-Rasyidin dan Bani Umayyah terus berdakwah dan berjihad, hingga wilayah Khilafah terus meluas dan diperhitungkan sebagai kekuatan politik yang disegani. Salah seorang Khalifah dari Bani Umayyah yang sangat terkenal, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (k. 717-720 M), begitu serius dalam mendakwahkan Islam ke berbagai penguasa dan penduduk dunia. Secara intens, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz kerap berkorespondensi dengan Kaisar Leo III di Konstantinopel, mengupayakan agar Kaisar Byzantium tersebut masuk Islam. Di sebelah Barat, orang-orang gurun Sahara di kalangan penduduk Maghrib masuk Islam berbondong-bondong. ‘Umar juga mengirim utusan ke Transoxania untuk mendakwahkan Islam di kalangan orang-orang Turki kuno.

Selain itu, penduduk Tibet di pegunungan Himalaya tercatat meminta Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz agar mengirimkan kepada mereka orang-orang yang dapat mengajari Islam. Hal serupa ternyata juga dilakukan oleh penguasa kerajaan Sriwijaya yang saat itu berpusat di pulau Sumatera. Menurut Fatimi, Maharaja Sri Indravarman, sang penguasa Sriwijaya, menulis surat yang ditujukan kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz di Damaskus; dimana surat tersebut dinukil oleh Ibn ‘Abd Rabbih dalam al-‘Iqd al-Farid berdasarkan riwayat dari Nu’aym bin Hammad:

بعث ملك الهند إلى عمر بن عبد العزيز كتابا فيه: من ملك الأملاك الذي هو إبن ألف ملك و الذي تحته بنت ألف ملك و الذي في مربطه ألف فيل و الذي له نهران ينبتان العود و الألوه و الجوز و الكافور الذي يوجد ريحه على مسيرة اثنى عشر ميلا إلى ملك العرب الذي لا يشرك بالله شيأ أما بعد فإني قد بعثت إليك بهدية و ما هي بهدية ولكنها تحية و أحببت أن تبعث إلي رجلا يعلمني الإسلام و يوقفني على حدوده و السلام

“Raja Hind (Sriwijaya) mengirim surat kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz: Dari Raja Diraja yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja; yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang wilayahnya terdapat dua sungai (Musi dan Batanghari) yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab (‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz), yang tidak menyekutukan Allah dengan segala sesuatu. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya, wassalam.”[3]

Selain hubungan dakwah dan politis yang terjalin antara Sriwijaya dengan Khilafah Umayyah, relasi demikian terus terjalin di waktu-waktu berikutnya. Dalam buku Historical Fact and Fiction, Syed Naquib al-Attas mengeluarkan hipotesis terbaru tentang hubungan Khilafah ‘Abbasiyyah dengan kesultanan yang mula-mula berdiri di Nusantara: Samudera Pasai.

Al-Attas mendaraskan penelitiannya dari manuskrip Hikayat Raja-Raja Pasai (HRRP). Manuskrip tersebut menceritakan tentang Meurah Silu, seorang terpandang di negeri Melayu pada masa itu.

Menurut HRRP, Meurah Silu mendirikan kekuasaannya di tempat dimana ia melihat ada semut yang sebesar kucing. Oleh Meurah Silu, negeri itu dinamakan sebagai “Semutra”, yang berarti “Semut Raya”, dimana di sana hidup semut yang sangat besar. “Semutra” inilah yang kemudian menjadi cikal bakal nama pulau “Sumatera” dan Kesultanan Sumatera Pasai.[4]

Apakah cerita semut sebesar kucing dalam hikayat itu fiksi? Sekilas memang terlihat demikian, tapi tidak bagi Naquib al-Attas. Dalam telaah al-Attas, semut besar yang dulu ada di Sumatera memang pernah ada wujudnya, dan hal ini diafirmasi oleh seorang kartografer Muslim yang hidup di era Khilafah ‘Abbasiyyah, Buzurg bin Syahriyar.

Dalam kitab ‘Aja’ib al-Hind yang ditulisnya pada abad ke-10 M, Buzurg bin Syahriyar meriwayatkan kesaksian Muhammad bin Babisyad, seorang pelaut Muslim Persia, yang melaporkan bahwa “khusus di pulau Lamuri (Lamreh, Aceh Besar), semut-semut yang ada di sana berukuran sangat besar” (wa khashshah bi-jazīrati Lāmurī fa-inna an-namla fīhā azhīm)[5].

Semua ini mempunyai arti bahwa nama “Semutra” yang diberikan Meurah Silu kepada pulau yang hari ini dikenal sebagai Sumatera sudah dikenal semenjak masa Buzurg bin Syahriyar menulis ‘Aja’ib al-Hind di abad ke-10 M, atau bahkan puluhan tahun sebelumnya.

Dalam HRRP juga disebutkan, “Khalifah Syarif yang di Makkah” (خليفة شريف يغ د مكة) mengirim juru dakwah ke “Semutra” untuk mengislamkan Meurah Silu dan segenap penduduk di sana.[6] Naquib al-Attas menyimpulkan kalimat “Khalifah Syarif yang di Makkah” dalam HRRP adalah Khalifah-nya Syarif di Makkah, yakni Khalifah al-Ma’mun bin Harun al-Rasyid al-‘Abbasi (k. 813-833). Sedangkan Syarif Makkah saat itu dijabat oleh ‘Ubaydullah bin Hasan bin ‘Ubaydullah bin ‘Abbas bin ‘Ali bin Abi Thalib.[7]

Dari elaborasi atas manuskrip HRRP inilah, al-Attas menyimpulkan: “It becomes clear that in contradiction to the position taken by European and other like-minded historians, Islam was introduced at a very date in a manner planned directly from its land of origin, and not from India or Persia. Its first king received his instruments of office and legitimation from the Sharif of Makkah as instructed by Caliph.” [8] Atau dengan kata lain, raja pertama Sumatera Pasai masuk Islam dan kekuasaannya sah menjadi kesultanan Islam berkat usaha dakwah yang terorganisir dari Khilafah ‘Abbasiyyah. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

[1] Snouck Hurgronje, “De Opstand in Arabië III: Sjerief en Chalief”, dalam Nieuwe Rotterdamsche Courant, 16 Juli 1916

[2] “Ma’ruf Amin Bicara Soal Khilafah di Indonesia: Bukan Ditolak tapi Tertolak”, https://news.detik.com/berita/d-4675707/maruf-amin-bicara-soal-khilafah-di-indonesia-bukan-ditolak-tapi-tertolak

[3] S.Q. Fatimi, Two Letters from the Maharaja to the Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East, Islamic Studies, Vol. 2 No. 1 (1963), h. 126

[4] Syed Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, (Johor: Universiti Teknologi Malaysia Press, 2012), h. 5-6

[5] Buzurg bin Syahriyar, Kitab ‘Aja’ib al-Hind Barrihi wa Bahrihi wa Jaza’irihi, (Leiden: Brill, 1886), h. 125

[6] Naquib al-Attas membedakan antara sosok Meurah Silu dan Sultan Malik ash-Shalih. Lihat: Syed Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, h. 15-25

[7] Ibid, h. 14 dan [8] Ibid, h. 32

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *