Perang Dunia di Abad ke-16: Manuver Politik dan Militer Sultan Sulaiman Al-Qanuni di Nusantara

Share the idea

Artikel ini adalah bagian ketiga dari seri Perang Dunia abad ke-16. Pastikan sudah membaca bagian pertama dan kedua di instagram @komunitasliterasiislam.

Pengaruh Khilafah ‘Utsmani di Samudra Hindia dan Nusantara tentu tidak hanya berhenti di Selim I, namun juga dilanjutkan oleh anaknya, yakni Khalifah Sulaiman al-Qanuni yang dinarnya itu bahkan sampai ke Aceh. Pada 2020, ditemukan lagi dinar di Gampong Pande (pesisir Aceh) yang di atasnya bertuliskan “Sultan Sulaiman bin Salim Khan, ‘izzu nashrihi. Dhuriba fi Mishr, sanah 931.” (Sultan Sulaiman bin Salim, pertolongannya adalah kemuliaan. Dicetak di Mesir pada tahun 931 H/1525 M).

Kenapa dinar dari Sultan Sulaiman al-Qanuni bisa sampai di Aceh?

Dinar Sultan Sulayman al-Qanuni tahun 931 H/1525 M yang ditemukan di Gampong Pande, Kec. Kutaraja, Banda Aceh pada 2020.
Koleksi Annisa Amalia Farouq ft. Nicko Pandawa

Sebagai penguasa hebat dari negara adidaya, tentu pengaruh sang Sultan menggema sampai Nusantara. Sebagai seorang Khalifah, Sultan Sulaiman al-Qanuni juga bertanggungjawab sebagai khadimul haramayn, yakni pelayan dua tanah suci dan para jama’ah haji. Ketika para jama’ah haji itu pergi ke Mekkah dan Madinah, keselamatan mereka tentu harus dijamin. Namun, bagaimana mungkin bisa dijamin keselamatannya kalau ada ancaman yang berkeliaran di Samudra Hindia, yakni dari orang-orang Portugis yang bertingkah bak bajak laut?

Sultan Sulaiman bahkan mengancam langsung penguasa Portugis di Lisbon, yaitu Dom Sebastião.

“Telah dilaporkan kepada saya bahwa jamaah haji dan para pedagang muslim yang datang dari India melalui laut telah dianiaya. Jika engkau masih membangkang, maka dengan pertolongan Allah yang Maha Agung, kami akan melakukan segala hal yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban di negeri-negeri itu, dan tiada guna lagi bagi engkau untuk memprotesnya!”

Potret Sultan Sulaiman al-Qanuni dan Raja Dom Sebastião

Inilah yang direncanakan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni. Sebuah jihad raya yang membentang dari Granada sampai Sumatra.

Di Granada, meski sudah ditaklukkan menjadi tanah Kristen lewat Reconquista, tapi masih banyak perlawanan kaum muslimin di sana. Maka, Sultan Sulaiman mengirim berbagai bala bantuan hingga ke Granada untuk membantu perjuangan mereka.

Bantuan itu juga meliputi perwira laut. Sultan menjalin kerjasama dengan seorang petualang laut muslim yang sepak terjangnya sangat luar biasa. Awalnya ia berjuang sendirian (a lonely wolf), yang kemudian menarik perhatian istana dan direkrut untuk bekerja langsung di bawah sang Sultan. Ia adalah Hayreddin Barbarossa.

Kisahnya kemudian berlanjut pada penaklukan kembali Aljazair, Tunisia, hingga Granada dari tangan raja-raja Spanyol dan Portugis. Ini adalah jihad maritim di front Mediterania, hingga mampu mengancam konstelasi kekuatan politik penjajah Eropa yang kewenangannya telah diberikan melalui fatwa Paus yang sudah disebutkan di artikel pertama.

Bagaimana dengan front Samudra Hindia? Inilah yang menjadi perhatian Sokollu Mehmed Pasya, wazir Sultan yang bervisi ekspansioner global. Ia sangat ingin membebaskan kembali pelabuhan-pelabuhan kaum muslimin yang sudah dikuasai Portugis di Samudra Hindia dan Nusantara.

Maka, ‘Utsmaniyyah mengirim intel ke Samudra Hindia yang dipimpin oleh Lütfi Bey, anggota korps müteferrika re’isleri(elite pasukan kapten laut Sultan). Selain menganalisis keadaan, mereka mengemban misi yang sangat penting untuk menggalang persatuan kaum muslim India dan Nusantara di bawah kepemimpinan Khilafah untuk melawan Portugis.

Jihad-jihad maritim yang dikoordinir oleh ‘Utsmani berhasil menyatukan kaum muslimin di berbagai tempat. Dari Granada sampai Malaka, dari front Mediterania, Mesir (Laut Merah), hingga front Samudra Hindia.

Di sini kita bisa melihat titik-titik jihad kaum muslimin yang dipersatukan oleh Khilafah. Gioncarlo Casale, bahkan menyebutnya sebagai Perang Dunia.

“Perang Dunia” antara aliansi Utsmaniyyah dan aliansi Portugis di Samudra Hindia (Casale, 2010: 136).

Di masa inilah, kita mengenal Sultan Aceh yang berbai’at kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni, yakni Sultan Alauddin Ri’ayat Syah al-Qahhar.

Tak hanya Aceh. Perjuangan itu meluas ke wilayah lain di Nusantara. Fatahillah, seorang putra dari Kesultanan Pasai yang pergi ke Jawa setelah Pasai ditaklukkan Portugis, melihat bahwa saat itu sudah terdapat kekuasaan Islam yang kita kenal sebagai Kesultanan Demak.

Fatahillah pun pergi ke Demak, membantu perjuangan Islam di sana, dan pada 1527 berhasil membebaskan Sunda Kelapa (Jayakarta) yang ketika itu menjadi tempat yang dijanjikan oleh orang-orang Hindu Padjajaran untuk dibangun benteng Portugis di atasnya. Nyatanya, orang-orang Portugis saat itu tidak hanya menyerang kaum muslimin, namun juga menjalin aliansi dengan kekuatan Hindu, baik yang masih ada di Padjajaran, Blambangan, bahkan India. Mereka rela bekerjasama untuk menghadang Islam.

Pasca penaklukan Sunda Kelapa, tidak ada lagi kapal Portugis yang berkeliaran baik di Nusantara sampai ke Laut Merah. Kenapa? Karena di Laut Merah sudah muncul banyak sekali pasukan ‘Utsmaniyyah yang berjihad di lautan.

Kita bisa melihat Sultan Trenggono dari Demak yang punya misi menyelamatkan Malaka dari cengkraman Portugis, meski akhirnya beliau syahid di lautan. Uniknya, pengganti beliau, seperti Sunan Prawoto, juga punya resonansi ketaatan kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni.

Sunan Prawoto pernah mengungkapkan bahwa ia berkehendak ingin menjadi “Segundo Turko”, yang dalam bahasa Portugis bermakna bahwa Sunan Prawoto ingin disamakan dengan Raja Turki yang kedua, ketika ia bisa menaklukkan seluruh Pulau Jawa menjadi Islam.

Resonansi jihad yang disebarkan oleh Khilafah ‘Utsmaniyyah pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni dan Sultan Selim II itu, juga terbentang sampai ke Ternate, yakni Sultan Baabullah yang berhasil mengalahkan Portugis pada 1575 sampai sekalah-kalahnya. Inilah jihad maritim yang disebarkan Khalifah, terbentang dari Granada, ke Malaka, hingga Maluku. Era ini adalah masa-masa yang sangat penting, ketika Khilafah ‘Utsmani sedang berjaya dan mengalami puncak kemuliaan.

Sebab, ketika kita melihat sejarah penjajahan di Nusantara, mungkin kita akan sedih kala melihat para pahlawan Islam, justru banyak kalahnya. Sebutlah Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol. Tapi ternyata, ada juga fase perjuangan kaum muslimin yang mengalami kemenangan terus menerus melawan penjajah. Inilah fase abad ke-16 ketika di pusat dunia Islam, Khilafah ‘Utsmani, yang tidak hanya dipimpin melalui sistem yang hebat, namun juga oleh orang-orang hebat yang sanggup membawa Islam ke masa kejayaannya.[]

Dari kiri ke kanan: Sultan Selim I, Sultan Sulaiman al-Qanuni, Sultan Selim II

Sumber dan Referensi Bacaan (Artikel pertama s.d ketiga):

Abdul Qadir Djaelani, Perang Sabil Versus Perang Salib: Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda, (Jakarta: Yayasan Pengkajian Islam Madinah al-Munawwarah, 1999)

Armando Cortesao (ed.), Suma Oriental Karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Fransisco Rodrigues, Penerjemah Adrian Perkasa dkk, (Yogyakarta: Ombak, 2015)

Fernao Mendes Pinto, The Travels of Mendes Pinto, (University of Chicago Press, 1989)

Giancarlo Casale, The Ottoman Age of Exploration, (Oxford: Oxford University Press, 2010)

Giancarlo Casale, “Tordesillas and the Ottoman Caliphate: Early Modern Frontiers and the Renaissance of an Ancient Islamic Institution”, Journal of Early Modern History, 19 (2015): 485-511

Giancarlo Casale, “His Majesty’d Servant Lutfi: The Career of a Previously Unknown Sixteenth-Century Ottoman Envoy to Sumatra Based on an Account of His Travels from the Topkapı Palace Archives”, Turcica, 37 (2005): 43-81

Jack Turner, Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme, Penerjemah Julia Absari, (Depok: Komunitas Bambu, 2011)

Leonard Y. Andaya, The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period, (Honolulu: University of Hawaii Press, 1993)

Raghib as-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, Penerjemah Muhammad Ihsan & Abdul Arsyad Shiddiq, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2013)

Syaikh Zaynuddin al-Malibari asy-Syafii, Tuhfah al-Mujahidin fi Ba’dhi Akhbar al-Burtukalliyyin, (manuskrip)

Taqiyuddin Muhammad, Naskah Surat Sultan Zainal ‘Abidin (Wafat 923 H/1518 M), https://www.mapesaaceh.com/2021/01/naskah-surat-sultan-zainal-abidin-wafat.html

Taqiyuddin Muhammad, Bait-Bait Syair Sultan Andalusia pada Nisan Sultan Samudra Pasai, https://www.mapesaaceh.com/2017/04/bait-bait-syair-sultan-andalusia-pada.html

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *