Perdebatan Cendekiawan Mesir Melawan Islam Liberal

Share the idea

Lebih dari seribu tahun, umat Islam memandang para sahabat Nabi sebagai generasi terbaik yang dilahirkan oleh peradaban Islam. Apa yang menjadi dasarnya? Dasarnya jelas, Al-Qur’an berkali-kali memuji mereka, baik dalam kapasitas individu maupun generasi yang utuh.

Merekalah pantas menyandang predikat umat terbaik (khayr ummah) yang dikeluarkan Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh manusia.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali `Imran: 110).

Predikat yang sama diberikan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya,

“Manusia terbaik adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya (tabiin), kemudian generasi berikutnya (tabiut tabiin)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Seluruh sahabat Nabi yang lebih dulu memeluk Islam dan berjuang menegakkannya bersama Rasulullah memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Merekalah “Al-sabiqun al-awwalun” yang telah dipastikan meraih keridhaan Allah, seperti yang tertera dalam surat “Al-Taubah” ayat 100.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.

Itulah bentuk keridhaan Allah SWT kepada mereka, dan itu juga merupakan bentuk keridhoan mereka untuk sang Khaliq.

Namun seiring waktu, seiring semakin lunturnya tradisi keilmuan Islam, pemahaman umat Islam mengenai kemuliaan para sahabat nabi ini perlu di-refresh kembali. Saat ini, kredibilitas para sahabat sebagai fundamen aktif peradaban Islam tidak hanya dipertanyakan, melainkan sedang diruntuhkan dengan cara yang sistematis. Seandainya langkah-langkah destruktif ini dilakukan oleh orang “kafir” (dibaca non muslim), barangkali akan lebih mudah disikapi. Namun yang menjadi masalah saat ini adalah, pelakunya dimunculkan dari kalangan umat Islam sendiri. Hal ini tentu saja menimbulkan dampak luar biasa besar.

Salah satu contohnya adalah Farag Fouda, salah satu tokoh intelektual Islam liberal kontroversial yang sangat terkenal. Ia adalah seorang Doktor di bidang Filsafat Ekonomi Pertanian dari Universitas ‘Ain Syams. Salah seorang wartawan Mesir menjulukinya sebagai “sekularis yang cukup mematikan”. Melalui berbagai tulisan dan pemikirannya, baik melalui buku, media, dan pertemuan ilmiahnya, waktu-waktu hidupnya banyak digunakan untuk memerangi dakwah yang menyerukan penerapan syariat Islam dan pendirian Khilafah.

Dirinya kemudian difatwakan telah murtad oleh ulama Al-Azhar. Akibat fatwa murtad nya, darah Fouda halal untuk ditumpahkan. Ia dibunuh oleh dua penyerang bertopeng dari kelompok Jamaah Islamiyah di depan kantornya di Madinat al-Nashr Kairo pada tahun 1992. Kalangan Ikhwanul Muslimin pun “mengamini” peristiwa ini. Hal ini menimbulkan gejolak yang begitu hebat kepada para pengagumnya, sehingga dalam berbagai tulisan yang “menangisi” kematiannya, Fouda ditempatkan layaknya seorang pahlawan yang gugur sebagai syahid.

Pertanyaanya adalah, dengan berbagai tulisan dan pemikirannya yang kontroversial, atas dasar apa dirinya dapat dikategorikan sebagai ‘syahid’?

 Bukunya yang fundamental adalah “al-Haqiqah al-Gha’ibah (edisi Indonesia: Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin”) yang mengantarkannya pada kematian yang tragis. Tidak hanya berusaha menjatuhkan kredibilitas individu para sahabat dengan mengangkat fakta-fakta lemah yang menurutnya selama ini ditutup-tutupi oleh para penulis muslim, ia juga menghapus karya kolektif generasi sahabat dalam bidang politik dan sosial dari lembaran sejarah. Buku ini menggunakan fakta yang lemah, mengabaikan fakta yang lebih kuat, melakukan kecurangan, sedikit mencantumkan rujukan, dan bahkan metodologi kajiannya tidak bisa dipercaya.

Ironisnya, buku ini mendapat apresiasi sekaligus promosi yang sangat hebat dari Prof. DR. Azyumardi Azra dan Prof. DR. Syafi`i Maarif, yang keduanya merupakan Guru Besar Sejarah.

“Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas sejarah pahit pada masa Islam klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering tak terkatakan di kalangan kaum muslim, tapi bahkan dipersepsikan secara sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk melihat sejarah lebih obyektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan masa depan.”

 – Prof. Dr. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah & Direktur Sekolah Pascasarjana, Universitas Islam Negeri (UIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta

Efek yang terjadi adalah distorsi sejarah Islam di Indonesia telah memulai babak baru. Kajian sejarah Farag Fouda, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan al-Fitnat al-Kubra karya Thaha Husain. Namun, buku itu kini tidak lagi dipandang terasingkan, melainkan sedang dibawa ke dalam arus, – membuat arus baru dalam pandangan sejarah Islam di Indonesia, karena buku tersebut dipromosikan oleh kalangan intelektual dan akademik sekaliber guru besar sejarah di Indonesia.

Menurut Jamal Sulthan, Pengarah Majalah al-Manar al-Jadid, Fouda adalah seorang penulis buruk, nekat, dan sangat provokatif. Popularitas Fouda di mata Jamal, tidak lebih dari fenomena media (zhahirah i`lamiyyah) dan bukan didapat dari integritas keilmuannya. Karenanya, Jamal menyayangkan kesediaan sejumlah ulama besar Mesir untuk disandingkan dan meladeni perdebatan dengan Fouda pada saat itu, seperti Syekh Muhammad al-Ghazali dan dihadiri oleh Mursyid al-Ikhwan al-Muslimun, Ma’mun al-Hudhaibi. Hasil dari perdebatan ini justru hanya “membesarkan” nama Fouda.

Farag Fouda menyatakan dirinya bukan seorang spesialis bidang sejarah, namun dalam pengakuan berikutnya, Fouda menempatkan kajiannya sejajar dengan karya seorang pakar yang layak diperhitungkan. Fouda mengaku, “telah membaca sejarah secara tekun, menganalisisnya dengan cermat, mengeceknya dengan teliti.”

Fouda juga mengaku, buah pikirannya tentang sejarah yang tertuang dalam karyanya itu, selalu dibingkainya dengan akal sehat, tanpa menggiring imajinasi atau khayalan subyektif yang dapat mendorong terjadinya penambahan atau pengurangan yang melampaui kebenaran sejarah.

Fouda juga menegaskan, buku Kebenaran yang hilang itu ditulis, “bukan untuk kepentingan propaganda, mengolok-olok ataupun mengejek, tetapi untuk kepentingan kecermatan dan ketelitian dalam mengungkap kebenaran sejarah”.

Kelemahan metodologis lainnya yang juga sangat fatal adalah, Fouda sering tidak mencantumkan rujukan dari riwayat-riwayat yang dikutipnya. Buku tersebut dari 191 halaman dan hanya mencantumkan 68 catatan kaki. Jumlah catatan kaki tersebut tentu terlalu kecil untuk sebuah buku yang banyak memuat data-data sejarah. Pada Bab Satu misalnya, Fouda hanya mencantumkan tiga catatan kaki saja. Padahal, ada belasan riwayat sejarah yang dikutipnya pada bab tersebut terkait masalah-masalah besar dan penting, seperti peristiwa Saqifah, bai`at Ali ra. kepada Abu Bakar ra, juga tragedi Utsman yang sangat kelam, bahkan kasus pembunuhannya dianggap oleh Fouda sebagai bentuk pemberontakan sahabat atas kebijakan Utsman.

Fouda menganggap metode tersebut benar dan cukup untuk mendukung sebuah fakta sejarah. Padahal jelas sekali, karya-karya sejarawan klasik seperti “Tarikh al-Thabari” tidak dapat diperlakukan dengan menggunakan metode seperti itu. Efek yang diberikan cukup disayangkan. Dengan metodenya, Fouda telah merasa berhasil menghadirkan versi kebenaran lain dari sejarah Islam yang tidak bisa dipahami kebanyakan umat Islam. Fouda sangat yakin dengan kebenaran metodenya,

“Tidak seorang pun berhak mengingkari referensi-referensi yang kita (baca: kami) rujuk. Semuanya adalah referensi yang juga digunakan oleh orang-orang yang merasa itu dipihak mereka”. – Farag Fouda, dalam bukunya “Kebenaran yang hilang”

Di sinilah letak kelemahan kajian Fouda yang paling mendasar. Fouda mengutip sumber-sumber sejarah klasik secara sembarangan, sesuai dengan kemauannya. Riwayat-riwayat yang tidak jelas sumbernya, dia kutip sebagai rujukan cerita, dengan menafikkan riwayat lain yang jelas dan kuat sumbernya. Cara-cara seperti ini memang biasa digunakan oleh kaum orientalis dalam menulis sejarah Islam. Sayangnya, kaum sekular-liberal, seperti Fouda, juga mengikuti jejak kaum orientalis dalam memberikan citra buruk tentang sejarah Islam.

Padahal, bagi siapa pun yang meneliti buku-buku sejarah Islam klasik, akan menemukan banyak riwayat sejarah yang memang tidak jelas atau lemah sumbernya. Penulis sejarah klasik – seperti al-Thabari, Ibn Sa`ad, dan lain-lain – sengaja mencantumkan berbagai riwayat dan sekaligus menjelaskan sumber masing-masing riwayat (sanad) tersebut. Dengan begitu, pembaca diharapkan dapat menilai mana riwayat yang kuat dan mana yang lemah. Tidak jarang, riwayat tersebut saling bertentangan dan mustahil dikompromikan. Sejarawan yang baik dan ikhlas akan dengan mudah memilihnya. Jadi, tidak semua cerita yang dimuat buku-buku tersebut dapat diterima sebagai sejarah Islam. Sebagai akademisi, sudah selayaknya sumber-sumber tersebut diposisikan sebagai materi sejarah yang sangat kaya, yang harus dikaji (diseleksi) guna membangun konstruksi sejarah Islam. []

Sumber:

Aziz, Abdul, 2016. Islam versus Demokrasi. Jakarta: PT Saadah Pustaka Mandiri. 

Azra, Azyumardi, dkk. 2017. Jihad, Khilafah dan Terorisme Bandung: Mizan Media Utama.

Benard, Cheryl. 2003. Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies. California, Santa Monica: RAND Corporation.

Fouda, Farag, 2012. KEBENARAN YANG HILANG: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim. Jakarta: Democracy Project Yayasan Abad Demokrasi.

Mukhsin, Khalid. 1993. Debat Islam vs Sekuler. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Sastra, Ahmad, 2019. KHILAFAH: KEWAJIBAN DAN KEBUTUHAN. Tim Follback Dakwah.

Sastra, Ahmad, 2019. NARASI ABSURD SANG PEMBENCI KHILAFAH. Tim Follback Dakwah.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *