Pesan-Pesan Menggugah Syekh Abdul Qadim Zallum

Share the idea

Politik digunakan sebagai sebuah seni untuk memahami realita yang mungkin terjadi, bukan realita yang mustahil terjadi. Imperialisme Barat maupun Timur sepenuhnya menyadari Islam dan ancaman Islam serta ancaman kembalinya Islam dalam kancah kehidupan. Mereka menanamkan apapun yang bukan merupakan realita saat ini adalah utopis, untuk menjauhkan kaum muslimin dari pemikiran Islam. Pemikiran ini berarti tunduk terhadap realita, yang menyebabkan umat tidak berpikir untuk merubah realita.

Syekh Abdul Qadim Zallum dalam bukunya, “Pemikiran Politik Islam”. 

Saat ini, umat tidak lagi menerapkan pemikiran Islam dalam kehidupan. Maka, tempat tumbuh dan berkembangnya para negarawan sudah tak ada lagi, sehingga sangat wajar bila orang-orang dengan mentalitas negarawan sangat jarang ditemukan.

Bagaimana mungkin kaum muslimin bisa memiliki sikap kepemimpinan politik bila ia tak pernah diberi konsep-konsep kepemimpinan dan pemikiran–pemikiran politik?

Agar kaum muslimin dapat kembali bangkit, mereka harus mencari jalan untuk menghasilkan para negarawan dan meningkatkan jumlah mereka dari waktu ke waktu. Hal ini tidak dapat dicapai tanpa membina mereka dengan tsaqofah politik yang berlandaskan aqidah Islam, yang merupakan pemikiran menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta.

Bila tsaqofah ini tersebar luas di kalangan kaum muslimin dan terwujud dalam kehidupan mereka, maka tempat tumbuh para negarawan itu akan tercipta.

Dengan demikian, diharapkan tumbuh dan berkembang dengan subur para negarawan baru, yang mampu membawa umat pada kebangkitannya dan mampu menghasilkan perubahan.

Negarawan tidak harus berarti penguasa, namun merupakan pemimpin politik yang kreatif, yang tumbuh dari umat. Negarawan bukanlah orang yang mendapatkan kedudukan melalui pemilihan umum, kudeta militer, atau melalui kekayaannya, sementara ia tidak peduli dan tidak memahami terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, serta tidak mampu melihat apa yang terjadi di depan matanya.

Ketika kaum muslimin menerapkan Islam sepenuhnya dan membina (umat) dengan Islam, mereka menghasilkan ribuan orang yang berkualitas negarawan. Beberapa di antara mereka memegang kendali pemerintahan, seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Al-Mu’tashim, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan Muhammad Al-Fatih. Banyak di antara mereka yang tetap seperti orang biasa tanpa jabatan pemerintahan, seperti Ibnu Abbas, Al-Ahnaf bin Qays, Ahmad bin Hanbal, serta Ibnu Taimiyah. Mereka semua merupakan hasil tempaan Aqidah Islamiyah.

Saat ini umat Islam dilanda berbagai macam “penyakit”, termasuk tidak adanya sosok negarawan. Umat sama sekali terpisah dengan negara dan pemerintahannya. Umat menganggap negara (pemerintah) sebagai musuh mereka, sementara pemerintah memandang umat sebagai pemberontak. Oleh karena itu, penguasa menyusun tipu daya untuk membungkam umat, sedangkan umat merencanakan makar untuk menggulingkan pemerintahan.

Hal ini menyebabkan pemerintah sibuk berkonsentrasi menyelamatkan kursi kekuasaannya, meskipun mereka harus meminta dukungan negara asing. Pemerintah menggunakan segala macam cara untuk memelihara umat tetap berada dalam keadaan lemah, agar tetap berada dalam kendali negara.

Umat Islam tidak mampu memikirkan, merencanakan, dan melaksanakan urusan-urusan umat. Sebaliknya, mereka menyerahkan urusan dan kepentingan umat pada negara-negara adidaya, serta membiarkan negara-negara tersebut menguasai berbagai sumberdaya negeri-negeri kaum muslimin.

Para penguasa layaknya pegawai dan buruh negara-negara adidaya. Dalam situasi ini, negara-negara adidaya mulai menyebarluaskan pemikiran-pemikiran kapitalisme, komunisme, patriotisme, dan nasionalisme, serta asas manfaat sebagai landasan hubungan antar mereka. Akibatnya, timbul berbagai kebingungan dan kekacauan, punahnya keaslian dalam pemikiran dan pemerintahan, serta merajalelanya pemikiran dan pemerintahan tiruan yang lemah dan tidak mampu mengurus seluruh kepentingan umat. []

Sumber:

Abdul Qadim Zallum. 2001. Pemikiran Politik Islam. Pustaka Al-Izzah: Bangil.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *